Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Hello Indonesian!


__ADS_3

Semua perlengkapan telah dimasukkan ke dalam koper. Arka kemudian meraih semua koper untuk dibawa ke mobil.


“Tidak usah repot-repot, Kak! Saya bisa bawa sendiri,” tolak Nisa.


Arka balik menolak. “Kamu langsung ke mobil saja. Ini berat, biar saya bawakan.”


Daripada berdebat, lebih baik mengalah.


Nisa mendekati mobil yang akan membawanya ke bandara. Berhubung orang tua Arka mengantar mereka pergi, Nisa musti duduk di jok depan. Meski hanya diam di tempat sepanjang perjalanan.


Delapan jam kemudian...


Mereka akhirnya tiba di negara bunga sakura.


“Tidak ada keluarga kita lagi yang lihat. Silakan bawa sendiri kopermu!” Itu ujaran pertama Arka di negeri matahari terbit tersebut.


“Iya,” jawab Nisa santai.


Kekaguman Arka pada Nisa meningkat, tatkala melihatnya tetap tersenyum dengan titahnya barusan.


“Harusnya memang begini dari dulu, saya menjaga jarak dengannya. Takutnya, lama-lama saya bisa jatuh cinta dengan kepribadiannya,” monolognya saat melihat Nisa membawa koper seorang diri.


Memasuki kamar hotel.


Nisa yang lelah, membaringkan dirinya di atas tempat tidur. Ia menatap langit-langit sambil bertanya pada diri sendiri.


“Apa akan terjadi sesuatu antara saya dengan kak Arka di sini? Bagaimana kalau saya tidak hamil juga? Oma dan mama pasti kecewa sekali.”


Teramat lelah, tanpa sadar Nisa ketiduran di samping Arka yang juga baru saja nyenyak. Itu berlangsung selama sejam lebih.


Saat terbangun, Nisa tak mendapati Arka lagi di sampingnya.


Rungunya kini fokus pada gemericik air yang terdengar samar dari arah kamar mandi. Mungkin saja, suaminya yang aneh itu tengah membersihkan diri.


Beberapa saat kemudian, Arka keluar.


“Kamu juga mandi. Kita jalan-jalan sore nanti. Sekalian foto-foto mumpung cuacanya bagus,” perintahnya pada Nisa.


Nisa menarik kedua sudut bibirnya. Hati kecilnya berkata, “Apa ini lampu hijau untuk hubungan kami?”


Ia terlalu terbiasa dicueki. Dan sikap Arka barusan, seakan telah membuka pintu hati untuknya. Ia bergegas menuruni tempat tidur.


“Baik, saya mandi dulu.”


Selepas mandi dan bersiap-siap, Arka membawanya ke Yomisedoni. Di situ, mereka mencicipi manju dan meneguk matcha.

__ADS_1


Arka lalu mengeluarkan ponsel. Ia membuka fitur camera, kemudian mengarahkan fitur tersebut ke dirinya dan Nisa.


“Senyum yang manis!” ucapnya seraya tangan kanannya memegangi bahu Nisa.


Beberapa foto yang manis dan mesra berhasil diabadikan.


Sudah kenyang, mereka memutuskan untuk pulang.


Setibanya di hotel, Nisa buru-buru mengecek social medianya. Ia penasaran, Arka akan membagikan momen membahagiakan bersamanya itu tau tidak.


Dan... tak ada satu pun foto yang Arka unggah. Dengan muka yang ditekuk, Nisa memasukkan kembali gawainya ke dalam saku.


Esoknya...


Fajar di langit naik, malam yang pelik turun.


Ringtone hape mengusik tidur Arka. “Aish, siapa lagi yang menelepon pagi-pagi begini? Kurang kerjaan sekali,” keluhnya.


“Bagaimana kabar kalian?” tanya bu Haifa di seberang sana.


“Baik, Ma.” Arka yang masih ingin melanjutkan tidurnya, menyerahkan benda persegi panjang yang dipegangnya tersebut ke Nisa. “Kamu saja yang ngobrol sama mama,” imbuhnya.


“Mama sudah lihat foto kalian. So sweet sekali,” ungkap bu Haifah dengan semangat empat lima.


Sayangnya, semangat membara bu Haifa itu tak menular pada Nisa. Menantu kesayangannya itu justru bersedih mendengarnya.


“Kenapa tidak ada suara. Jaringan di sana mungkin jelek,” tutur bu Haifa setelah dua menit berlalu. Ia akhirnya memutuskan sambungan internetnya.


Mood yang memburuk mengakibatkan Nisa membatalkan untuk keluar hotel. Ia telah memutuskan untuk meluangkan hari ini dengan tidur. Setidaknya mimpinya seringkali lebih indah dari kenyataan.


A few moments later...


Nisa terbangun karena terganggu oleh bunyi nada dering gawai Arka yang tak kunjung diangkat. Yup, itu karena pemiliknya tengah berendam di bath ub.


“Tadi mama mertua. Sekarang siapa lagi?” tanya Nisa sembari mengucek mata.


Penasaran, ia mendekatkan diri ke gadget yang bergetar tersebut. Gemas sekali rasanya, saat ia melihat nama Dara tertera di layar gawai Arka.


Sayangnya, ia tak dapat menjawab lantaran Arka mengunci gawainya dengan fitur memindai wajah.


Sementara Arka yang baru saja keluar kamar mandi, lebih gemas lagi tatkala melihat Nisa menggenggam handphone miliknya.


“Akhir-akhir ini, saya tidak pernah lagi mengasari kamu. Ternyata, sikap diam saya buat kamu jadi ngelunjak. Saya ingatkan, jangan pernah menyentuh hape saya tanpa izin.”


Arka lalu merampas ponselnya dari Nisa.

__ADS_1


“Astaghfirullah, sekasar itu. Saya cuma mau lihat, Kak. Siapa tau mama atau papa yang menelepon.”


Amat muak, Nisa melenggang keluar dengan cepat. Ia pergi ke sembarang arah. Membuang diri yang berujung di keramaian. Kala fokusnya teralihkan pada segerombolan orang yang tengah menanam pohon.


Nisa mendekat, ternyata itu adalah program tahunan di Jepang. Salah satu program resmi pemerintah di sana guna menciptakan lingkungan yang sehat.


Tanpa pikir panjang, Nisa langsung bergabung dengan mereka. Daripada galaunya dilalui dengan berkeliaran tidak jelas, lebih baik ia melakukan hal positif. Selain itu, menanam pohon juga bisa jadi amal jariyah untuknya.


Kalau pohonnya besar nanti. Orang yang kepanasan, bisa berlindung di bawahnya. Bunganya yang indah, memberi kebahagiaan tersendiri bagi yang memandangnya. Dan yang paling penting, mulut daun menghasilkan oksigen yang dihirup manusia.


Seberes menanam semua pohon yang ada, datanglah seorang perempuan yang memakai atribut membagi-bagikan sebotol air mineral.


“Thank you,” tutur Nisa seraya tersenyum padanya.


“You are welcome,” balas perempuan bermata sipit tersebut.


Tak lama setelah pembagian minuman. Datang juga seorang reporter dari stasiun TV ternama di sana. Sadar kamera, Nisa hanya tersenyum ke arah peliput.


Penampilan Nisa yang berhijab, juga mukanya yang tampak seperti bukan orang sana, rupanya menarik perhatian mereka untuk melakukan wawancara padanya.


“Where are you from?” tanya sang reporter.


“Indonesia.”


“Indonesia? Bali?”


Nisa mengangguk.


“Wow, fantastic. You are from abroad. Could you tell us what makes you interested to join us?” tanya sang reporter yang penasaran dengan alasan Nisa ikut menanam pohon.


Nisa menceritakan momen kebetulan tadi. “I am on my vacation here. I just passed and saw people planted trees here. So, I joined.”


Pertanyaan si reporter terus berkembang ke hal yang lebih spesifik.


“You are so care to nature. Will you tell us your job please?” Ia menanyakan pekerjaan Nisa.


“I am a staff in NaturalSkin Indonesia company.”


“That is why you love nature. Good job! Your company must be proud has a kind staff like you.”


Nisa tersenyum kecil saat wanita itu mengucapkan bahwa perusahaan NaturalSkin Indonesia patut berbangga memiliki karyawan sepertinya.


“I wish,” ujarnya kemudian.


“Thank you so much for participating here,” ucap si reporter yang bersiap untuk mewawancarai volunteer lainnya.

__ADS_1


“Do not mention it,” balas Nisa. Masih dengan senyum gulanya.


Ia sungguh tak menyangka dengan kejadian itu. Niatnya hanya ingin membantu menanam pohon. Malah masuk TV di channel khusus program pemerintahan Jepang.


__ADS_2