
Semenjak ditolak oleh Nisa, Arka bersungguh-sungguh untuk membalas perbuatan Nisa padanya. Ia melakukan pembalasan dengan membazzoka Nisa pakai tumpukan perhatian dan kasih sayang.
Hingga sepekan akhirnya berlalu...
Arka berkunjung lagi ke rumah mertua. Jika biasanya Nisa yang membuatkan kopi untuknya, kini dilakukan oleh mamanya Nisa.
Arka menyesapnya. “Rasanya hampir sama dengan buatan Nisa. Mungkin ini resep turun temurun keluarganya,” batinnya.
“Tumben kamu datang pagi-pagi Nak,” tutur pak Nugroho yang memulai pembicaraan.
Arka to the point. “Bapak bisa bawa mobil?”
“Alhamdulillah bisa. Kenapa?”
“Cuma tanya-tanya Pak.” Arka cepat-cepat menghabiskan kopinya yang mulai dingin.
“Saya berangkat ke kantor dulu Pak,” lanjutnya.
“Hati-hati di jalan Nak!”
“Iya, Pak.”
Pak Nugroho ikut keluar bersama Arka. Ia berdiri di muka rumah, menunggu menantu impian nya itu meninggalkan area rumah. Barulah ia masuk.
Nisa, yang tak mendengar lagi suara Arka pun keluar. Ia mendudukkan dirinya di atas ayunan. Membiarkan cahaya mentari pagi, yang katanya mengandung vitamin yang baik untuk tubuh, menerpa dirinya.
Dua jam berlalu...
“Kamu siapa?” tanya Nisa ketika seorang lelaki keluar dari mobil mewahnya. Lelaki yang memasuki rumahnya tanpa permisi terlebih dulu.
“Saya sales mobil, ke sini mau ketemu pak Nugroho. Tolong panggilkan dia!” Lelaki asing itu kemudian duduk di kursi depan tanpa disuruh.
Nisa turun dari ayunan dan melangkah masuk, mendekati bapaknya yang sedang meneguk kopi dingin. “Ada tamu yang mau ketemu Bapak. Dia menunggu di luar.”
“Siapa?”
“Saya tidak tahu Pak.”
“Masa’ tidak tahu. Kamu kan sudah tahu semua teman Bapak.”
“Yang ini belum pernah datang ke rumah Pak. Baru pertama kali.”
Pak Nugroho yang penasaran, melangkah cepat keluar. Ia memandangi lekat-lekat lelaki itu, tapi tak kunjung mengenalinya.
Paham akan ekspresi kebingungan pak Nugroho, lelaki itu menyapa duluan. “Selamat pagi! Dengan pak Nugroho?”
“Iya. Kenapa kamu cari saya?”
__ADS_1
“Tadi pak Arka membeli mobil di tempat kami. Dia menyuruh saya untuk membawa mobil ini ke rumah Bapak. Sekalian dia menitipkan amplop, katanya untuk buat SIM.”
Pak Nugroho benar-benar terharu. Ia tidak menyangka, menantunya itu akan membelikan mobil mewah tanpa diminta. Pantas saja tadi menantunya tanya-tanya tentang mobil.
“Alhamdulillah.” Hanya kalimat syukur itu yang bisa ia panjatkan.
Nisa menyaksikannya, namun ia tidak sepakat jika bapaknya menerima mobil yang diberikan Arka. “Kembalikan saja mobilnya! Bilang, keluarga pak Nugroho menolak untuk menerima.”
“Tidak bisa. Bapak butuh mobil ini. Sayang kalau tidak diterima. Kamu itu hamil, sedikit-sedikit perlu diperiksa. Lumayan kalau punya mobil, bapak tidak harus merepotkan Arka terus untuk mengantar kamu ke rumah sakit. Mamamu juga kadang belanja banyak. Kalau ada mobil, belanjaannya gampang dibawa pulang.”
Apalah daya, keluarganya hanya rakyat jelata yang amat sulit ekonomi. Dapat peluang sedikit, ya dimanfaatkan.
Toh, Arka memberikannya ke mereka tanpa diminta. Kapan lagi kan bisa dapat mobil gratis? Plus uang bikin SIM nya pula.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Dua bulan berlalu...
Kerjaan belum beres, jam pulang juga masih lama. Tapi entah mengapa, Arka ingin sekali memakan rujak buah di rumah mertuanya.
Ia memakai kembali jas, mengambil kunci mobil dan tas, langsung tancap gas, meninggalkan halaman kantornya yang sangat luas.
Arka, yang sebenarnya tidak begitu suka mengonsumsi makanan pinggir jalan, menepikan mobilnya di salah satu outlet penjual rujak.
“Rujaknya lima porsi Pak. Eh, enam porsi. Istri saya lagi hamil soalnya. Biasanya orang hamil doyan makan rujak kan Pak?”
“Iya, betul itu.” Si penjual tersenyum lebar.
“Iya, Pak. Doakan ya supaya anak saya lahir dengan keadaan sehat. Istri saya melahirkan dengan mudah.”
“Aamiin,” sahut si bapak penjual itu dengan cepat. “Semoga diberikan anak yang sholeh sholehah,” lanjutnya.
“Aamiin.”
Tak lama setelahnya, penjual itu
menyodorkan pesanan Arka. Dan Arka langsung menyodorkan uang berwarna merah muda dua lembar kepadanya.
Si bapak kini sibuk menukar uang kembalian Arka. Di saat yang sama, Arka berjalan ke mobilnya tanpa menunggu kembalian itu lagi.
“Kembaliannya,” teriak si penjual rujak yang telah selesai menukar itu.
“Ambil saja Pak. Untuk anak-anak Bapak di rumah.”
“Alhamdulillah. Ternyata tidak semua orang kaya itu sombong. Buktinya, bapak yang tadi baik.”
***
__ADS_1
Arka memarkirkan mobilnya di garasi rumah. Segera, ia keluar dengan menenteng plastik berisikan enam porsi rujak buah.
“Assalamu ‘alaykum,” ucapnya sambil memasuki rumah mertua.
“Wa ‘alaykumussalam warahmatullah,” balas bu Faridah.
Arka meletakkan rujak itu di atas meja. “Makan rujak Ma!”
“Wah, wah, wah. Pas sekali ini makan buah segar siang-siang begini.” Bu Faridah bergegas mengambil seporsi.
Mendengar suara Arka, Nisa keluar kamar. Perasaannya tiba-tiba melega setelah bertemu dengan ayah dari anaknya itu.
“Makan rujak sayang. Saya beli dua porsi untuk kamu dan anak kita.”
Kali ini, Nisa tak menolak. Ia sendiri tak tahu mengapa begitu ingin duduk di samping Arka.
“Suap,” ucapnya tak begitu dingin lagi.
Arka merasa ada yang aneh dengan istrinya. Tapi ia tak begitu peduli. Justru bagus kalau Nisa aneh begitu setiap hari.
Menang banyak dia.
“Enak,” tutur Nisa setelah mengunyah suapan pertama dari Arka. Ia bahkan tersenyum manis setelahnya. Lebih manis dari gula aren campuran rujak.
Mimpi apa Arka semalam? Tiba-tiba istrinya yang judes jadi manis begitu.
Yang manis tapi bukan gula.
Nafsu makan Nisa benar-benar bertambah setelah hamil. Dua porsi rujak yang Arka suapkan dilahapnya sampai habis.
“Ikut saya ke kamar Kak!” pintanya setelah makan.
Terdengar seperti wanita penggoda yang menggaet pelanggan. What?
Arka menarik sudut bibirnya. Kamar yang selalu terkunci itu, kini terbuka lebar untuknya. Ia lihat, Nisa sudah berbaring cantik di atasnya.
Arka mendekat pada Nisa yang tengah menatap dirinya. “Kenapa panggil saya ke sini?”
“Dia mau dielus-elus,” ungkap Nisa sambil memegang perutnya.
Arka mengernyitkan dahi. “Serius?”
Nisa mengangguk.
Arka mendekat. Tangannya kini meraba-raba perut Nisa. “Terima kasih sayang. Papa juga kangen banget sama kamu. Sering-sering begini ya! Buat mamamu menginginkan sentuhan papa terus,” batin Arka.
Lama setelahnya, tangan Arka serasa mati rasa karena kelamaan mengelus perut. “Saya capek sayang.”
__ADS_1
“Ya sudah, berhenti saja. Saya mengantuk, mau dipeluk Kakak!”
Meski terkesan sangat intimidatif, Arka tetap senang melakukannya. Ia memeluk Nisa yang kini terbuai kantuk. Akhirnya, mereka berdua tidur bersama dengan kondisi yang mesra begitu.