Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Putus


__ADS_3

“Gara-gara Bapak kami kehilangan karyawan berkualitas seperti Nita,” ucap Dara.


“Saya menjebak pak Arka dan bu Nisa juga demi bu Nita.” Pak Udin tertunduk lesu.


“Tidak usah sok baik Pak. Salah ya salah saja. Tidak usah bawa-bawa orang,” hina Arka.


“Saya melakukan itu memang demi bu Nita juga. Selama ini, bu Nita selalu baik ke saya. Pas saya tahu dia suka sama pak Farel, saya jadi berniat untuk ikut menjebak bu Nisa. Biar pak Farel tidak bisa lagi mendekati bu Nisa. Biar fokusnya pak Farel hanya ke bu Nita. Ternyata, pak Farel dan bu Nita justru berhenti semua.”


“Dari dulu saya mengaku bukan saya pelakunya. Tapi tidak ada yang mau percaya. Satu lagi, saya tidak pernah kasih obat perangsang ke minuman kamu.”


Perasaan sakit yang tertinggal di hati Nisa, kambuh lagi. Uneg-uneg yang dulu ia sembunyikan demi nama baik Arka semuanya ia keluarkan.


“Semua bukan salah saya. Tapi saya terus yang kena imbasnya. Kenapa kalian semua tega sekali ke saya?” Nisa terus sesenggukan.


Arka mengarahkan pandangannya pada Thira dan pak Udin. “Saya tidak akan memecat kalian. Karena jebakan kalian lah saya bisa berjodoh dengan Nisa. Tapi untuk sementara waktu, kalian jangan masuk kerja dulu selama tiga bulan. Jadi silakan keluar, masalah ini jangan sampai diketahui orang lain.”


“Obati di ruangan saya saja!” pinta Dara pada Thira.


Thira pun keluar dengan memapah pak Udin yang bonyok dan tak berdaya.


Arka mendekati Nisa. Ia tak tega melihat perempuan yang sangat ia cintai itu bersedih. Maka dari itu, ia mendekapnya untuk memberi kekuatan.


Ia pun memeluk Nisa, tapi Nisa menolak. “Lepaskan saya!” pintanya tak bertenaga.


Arka dengan sukarela melepaskan dekapannya. Yang penting istrinya tenang. Setelah dilepaskan, Nisa berdiri.


“Mau kemana?” tanya Arka.

__ADS_1


“Pulang.”


“Saya antar kamu pulang.”


“Saya bisa sendiri. Tolong jangan dekati saya lagi! Saya muak sekali melihat muka kalian berdua.” Nisa memandangi Arka dan Dara secara bergantian.


Ia lalu mengeluarkan cincin nikah yang melingkar beberapa bulan belakangan di jari manisnya. “Cukup sampai di sini pernikahan toxic kita.”


Cincin nikah itu Nisa lemparkan ke dada Arka. “Ini, ambil saja kembali cincin emas murah yang kamu kasih secara terpaksa ke saya. Silakan kasih ke kak Dara! Dia sudah punya cincin diamond dan gold, sekalian belikan dia cincin second hand yang silver. Biar makin lengkap. Dia pasti terima, secara dia sudah terbiasa menerima yang bekas-bekas.”


Nisa berjalan ke pintu. Namun, kakinya berhenti melangkah untuk sesaat. Ia menoleh untuk menyampaikan sesuatu.


“Asal kak Dara tahu. Kak Arka sudah beberapa kali meniduri saya secara sadar. Dia menikmati tubuh saya tanpa pengaruh obat perangsang sama sekali. Silakan ambil bekas saya. Dasar wanita murahan!”


Nisa menyeringai. Lalu kembali melangkah menuju pintu. Tak terima dihina begitu, Dara mendekatinya, dengan niat untuk melabraknya.


“Kenapa kamu tega sekali kasih obat perangsang ke saya? Gara-gara kamu, saya jadi menuduh Nisa yang tidak-tidak.”


Dara jujur-jujuran. “Saya sudah mengajak kamu baik-baik, tapi kamu menolak. Makanya saya kasih kamu obat perangsang.”


Arka naik pitam. “Saya tidak menyangka, ternyata kamu sejahat ini.”


“Jahat bagaimana? Semua saya lakukan demi masa depan hubungan kita. Demi kebaikan kita berdua sayang.” Dara langsung memeluk Arka. “Saya cuman tidak mau kamu jatuh cinta ke dia dan melupakan saya,” imbuhnya.


Arka melepaskan tangan Dara yang ditaruh di pinggangnya. “Sudah terlambat Dara,” jawabnya datar.


Dara menggigit jari. “Apa maksud kamu sayang?”

__ADS_1


“Gara-gara ulahmu sendiri, saya jatuh cinta ke Nisa. Awalnya, saya menyentuhnya karena efek obat perangsang yang kamu kasih ke minuman. Tapi sejak saat itu, saya ketagihan untuk menyentuhnya. Lagi dan lagi. Lalu semakin saya menyentuhnya, rasa cinta ini semakin bertambah. Dan sekarang, saya benar-benar takut kehilangan dia daripada kamu.”


Hubungan Dara dan Arka sungguh berjalan menuju kehancuran.


“Tidak boleh begini sayang! Kamu bercanda kan?”


“Saya serius Dara. Cukup sampai di sini hubungan kita.”


“Dara? Biasanya kamu panggil saya, sayang.” Netra Dara berkaca-kaca.


“Kata sayang bukan untuk kamu lagi Dara. Kata sayang itu sekarang hanya milik Nisa. Kekasih halal saya. Mulai sekarang jangan hubungi saya lagi. Kita putus!”


Dara diam di tempat selama beberapa detik. “Bertahun-tahun kita pacaran. Selama itu, kamu selalu berjanji akan membahagiakan saya. Tapi sekarang, begini balasan kamu ke saya.”


“Saya benar-benar minta maaf Dara. Semua terjadi di luar kendali saya. Memang sudah jalannya kita seperti ini. Kita tidak ditakdirkan untuk berjodoh. Jodoh yang Allah kasih ke saya itu Nisa, bukan kamu. Semoga kamu juga segera dipertemukan dengan jodoh yang terbaik menurut-Nya.”


“Kamu jangan egois begitu sayang. Selama ini saya yang temani kamu. Kenapa kamu malah tega membuang saya begitu saja setelah menikah dengan Nisa? Saya siap menunggu dua tahun lagi, untuk kamu menceraikan Nisa.”


“Saya tidak akan bisa menceraikan Nisa. Saya sudah terlanjur cinta ke dia.”


Dara menggenggam tangan Arka. “It is okay kalau kamu cinta ke saya dan dia. Saya siap jadi istri kedua.” Ia benar-benar putus asa karena memang cintanya hanya untuk Arka seorang.


Kali ini, Arka tak bisa berbohong lagi. Terakhir ia berbohong, Nisa menjauhinya. Maka dengan jujur ia membalas. “Saya tidak akan menduakan cinta Nisa, yang ternyata dari dulu memang untuk saya.”


“Jadi, nasib saya bagaimana?” Dara menangis sekuat-kuatnya.


“Demi menjaga keutuhan rumah tangga saya dengan Nisa, kamu saya pecat bekerja di sini. Saya pindahkan kamu bekerja di kantor cabang.”

__ADS_1


Sesudah berkata seperti itu, Arka meninggalkan Dara sendirian di ruangan. Ia turun ke basement untuk mengejar Nisa.


__ADS_2