Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Kayak Perangko


__ADS_3

“Sudah masuk waktu istirahat. Ayo makan siang! Kamu yang traktir saya,” pinta Arka demi mengelabui Nisa.


“Hah? Saya yang traktir? Dimana-mana lelaki yang traktir perempuan Kak, bukan sebaliknya.”


“Bilang saja kalau kamu pelit, tidak mau traktir saya. Pasti kamu tidak pernah kasih hadiah ke panitia waktu ospek dulu di SMA.”


Arka kembali memancing.


Nisa yang tak mengerti kode-kodean Arka, menjawab dengan sejujur-jujurnya. “Mana ada? Saya kasih kok ke semua panitia di pansus saya. Saya juga kasih ke Kakak loh.”


“Oh ya? Kamu kasih apa ke saya? Coklat kah?”


Nisa langsung menggeleng.


“Snack?”


“Bukan, Kak.”


“Terus, hadiah apa yang kamu kasih ke saya?”


“Mi-.” Nisa menahan diri. Hampir saja ia kecolongan.


“Mie? Kamu kasih saya kado mie?” tanya Arka yang sudah seratus persen yakin bahwa Nisa lah yang menghadiahinya obat saat ospek dulu.


“Iya, mie. Kenapa Kak? Orang kaya tidak boleh dikasih hadiah yang murah?”


“Pasti boleh lah. Mie yang kamu kasih mie soto kan?”


“Iya,” jawab Nisa mantap.


“Selamat,” lanjutnya. Kali ini dalam hati.


Arka menatap baik-baik wajah Nisa. Wajah perempuan yang sedang berbohong padanya.


“Mie yang kamu kasih, saya makan dengan lontong. Saya sampai bela-belain suruh bi Inah buat lontong waktu itu,” tuturnya seraya menahan tawa.


Nisa kembali bermonolog dalam hati. “Bodo amat dengan orang yang kasih kak Arka mie. Bukan urusan saya juga. Yang terpenting saya tidak ketahuan kasih obat Mixagrip flu dan batuk ke dia waktu itu.”


“Karena dulu kamu kasih saya hadiah, sekarang giliran saya yang kasih kamu hadiah. Hari ini kamu saya traktir makan di cafe.”


Nisa mengernyitkan alis. “Serius?”


“Iya, ayo!”


“Tunggu beberapa menit yah, Kak! Saya shalat dzuhur dulu.” Nisa kemudian melangkah menuju pintu.


Arka cepat-cepat menarik tangan Nisa. “Mau kemana? Katanya mau shalat.”


Nisa berbalik. “Iya, saya mau shalat di mushallah.”


“Tidak usah ke mushallah, shalat di sini saja!”


“Mukena saya ada di dalam tas, Kak. Tasnya ada di bawah, tidak saya bawa ke sini tadi.”


“Ada mukena Dara di situ,” ungkap Arka seraya menunjuk ke lemari. “Dia kadang shalat dzuhur,” tambahnya.


Daripada bolak-balik, Nisa tentu lebih memilih shalat di situ. Ia yang memang sudah lapar cepat-cepat mengambil air wudhu.

__ADS_1


Arka yang menungguinya, tertawa sendiri di tempat. Wajah Nisa saat berbohong tadi sangat menggelitik baginya.


Nisa pun melaksanakan shalat dzuhur. Sesudah itu, ia dan Arka menginjakkan kaki di lift.


Ting...


Ting....


Ting.....


Mereka keluar saat tiba di lantai dua.


Arka memulai pembicaraan. “Gado-gado satu, minumnya melon juice. What about you?”


“Mie bakso, minumnya orange juice saja.”


“Itu kan-”


“Iya, yang Kakak pesankan waktu itu.”


A few moments later.


Pesanan mereka kini ada di hadapan masing-masing. Nisa membaca doa makan sebelum menerjang bola daging yang bercampur dengan mie.


Jam lima sore.


Arka menanti Nisa di basement. Tak lama menunggu, Nisa menghampirinya. Sore ini, mereka balik bersama lagi ke mansion.


Di sepanjang perjalanan.


Lagunya berjudul Sampai Ke Hari Tua by Aziat Amdan.


Jika ku radio dan engkau lagunya


Dan aku putarkan hingga semua terleka


Begitulah kita ditakdirkan untuk bersama


Jangan bimbang sayang


Kita harungi bersama berdua selamanya


Sampai ke hari tua


Mencintaimu


Begitu sulit lupakan Farel. Apalagi Farel baik. Begitu susah cari gantinya. Cukup dikenang saja.


Tiba di mansion.


Arka yang gerah, buru-buru ke kamar mandi. Ia mengguyur diri di bawah head shower selama beberapa saat. Lalu meraih bath towel sebelum keluar.


Tetiba, si meow putih yang selama ini menemani Nisa saat sendirian di rumah, melompat ke arahnya. Kucing yang sangat aktif tersebut menggigit bath towel Arka, hingga bath towel tersebut terbuka dan berakhir melorot ke lantai.


“Dasar kucing tidak bermutu,” teriak Arka pada hewan berkaki empat itu.


Nisa yang tadinya fokus ke layar gawai. Kini berbalik karena mendengar teriakan Arka. Ia membeliak. “Aaaaa,” teriaknya saat netranya tertuju pada alat vital Arka yang menggantung.

__ADS_1


“Pantas punya saya jadi sakit sekali. Ternyata punyanya sebesar itu,” pikir Nisa lalu menutup matanya.


“Kenapa ditutup? Jangan sok polos kamu! Kamu pasti suka kan melihat ini? Dibuka saja matanya sayang! Jarang loh saya buat pertunjukan begini.”


Arka yang masih dalam keadaan telanjang, terus mendekati Nisa yang sedang takut pada cucak rowonya.


Manuke manuke cucak rowo. Cucak rowo dowo buntute. Buntute sing akeh wulune. Yen digoyang ser-ser aduh penake.


Nisa refleks mencubit perut Arka yang kini sedikit membuncit efek rajin makan masakan Nisa.


“Aish, malah dicubit.”


“Maaf Kak, saya tidak sengaja.”


Nisa yang masih sangat takut, cepat-cepat turun dari ranjang. Ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sekalian demi menghindari keisengan Arka.


Arka tertawa setelah Nisa masuk ke kamar mandi. “Kamu harus terbiasa dengan situasi begini. Ingat, ada oma dan mama yang menunggu cucu,” tuturnya setengah berteriak.


Nisa turut berteriak. “Buat saja dengan kak Dara. Yang Kakak sayang kan kak Dara, bukan saya. Lagian, Kakak tidak mau kan punya anak yang lahir dari rahim wanita murahan seperti saya?”


“Tidak usah banyak bicara! Mandi saja cepat, nanti langsung masak ya. Saya lapar soalnya.”


Merasa lelah seharian bekerja, Arka kini


berbaring. Tanpa sadar, ia keterusan tidur. Bangun setelah sejam berlalu.


Masih dengan muka bantalnya, Arka yang


perutnya saban lama saban keroncongan melangkah ke dapur. “Masak apa?” tanyanya seraya menarik kursi untuk duduk.


Nisa tersenyum lalu menjawab, “pancake kentang ala Korea.”


Mendengar kata Korea disebut, Arka jadi teringat pada Dara yang telah ia kecewakan dua hari yang lalu. Pertanyaan yang muncul saat ia berciuman dengan Dara juga timbul di benak Nisa.


Arka yang penasaran akan jawaban dari pertanyaan itu, dengan cekatan menarik Nisa ke pangkuannya.


“Mau apa Kak?” tanya Nisa.


Arka tak menjawab. Ia langsung mendaratkan bibirnya ke bibir Nisa. Nisa yang dulunya terpaksa, perlahan menikmati perlakuan Arka padanya.


“Nikmat sekali. Berarti saya masih normal. Tapi kenapa waktu sama Dara rasanya agak hambar ya?” monolog Arka dalam hati.


Arka yang merasa Nisa sudah mau diajak bekerja sama, terus menjamah bibir kekasih halalnya itu. Tangannya yang tadinya diam, kini memainkan buah melon milik Nisa.


“Arghhh...” Lenguhan lolos dari mulut Nisa.


Tak ingin terjebak lebih lama lagi pada euforia permainan Arka, Nisa melepaskan diri dari pagutan bibir Arka. Ia juga menepis tangan Arka yang bermain di salah satu gundukannya.


Tak marah, penolakan Nisa justru membuat Arka makin tertarik.


Hal itu karena ciuman sangat mudah ia dapatkan dari Dara. Sementara Nisa, istrinya itu selalu menolak. Istilah kata, Nisa jual mahal.


Dan itu membuat Arka semakin tertantang.


“Enak kan?” tanya Arka sambil tersenyum mesum ke arah Nisa.


“Enakan kentang ini,” jawab Nisa yang masih salting. Perasaan malu menyerangnya yang mendesah keenakan karena sentuhan Arka tadi.

__ADS_1


__ADS_2