
“Mbak. Tolong bungkuskan saya pepes ikan tiga,” pinta Thira pada pelayan yang datang untuk membersihkan meja.
“Iya, Bu.”
“Kamu mau take away apa, Sa?” tanya Thira.
“Saya, nasi uduk tiga Mbak.”
“Baik, saya siapkan dulu Bu.” Pelayan dengan baju yang memamerkan kemolekan tubuh tersebut beranjak keluar.
***
“Gantikan saya buat target kerja dengan perwakilan dari divisi regional. Hari ini saya pulang cepat, mau temani Dara belikan mamanya obat,” perintah Arka saat berjalan menuju lift.
Farel menghela nafas sejenak. “Kapan deadline laporannya?”
“Hari ini. Simpan laporan itu di ruangan saya sebelum jam pulang.”
“Well, tugas siap dilaksanakan bro. Boleh pinjam ruanganmu kan? Saya susah konsentrasi kalau di lantai 8, pasti Nita nyinyir seenaknya lagi nanti.”
“Okay, kamu boleh pakai ruangan saya. Tapi untuk hari ini saja. Satu lagi, jangan sentuh barang yang tidak berkaitan dengan pekerjaan. Pokoknya tidak boleh ada barang yang pindah tempat.”
“Gampang kalau cuman itu, bro.”
Farel pun naik ke lantai 10. Masuk ke ruangan Arka. Lalu duduk di kursi kebesaran kakak sepupunya yang bermulut jahat itu.
Ia teringat lagi pada tugas yang diberikan Arka, setelah terbuai beberapa saat oleh empuknya kursi dan nyamannya suasana di ruangan tersebut.
Ia buru-buru membuka aplikasi berwarna hijau. “Tolong ke ruangan Arka sekarang. Kata Arka, kamu harus bantu saya buat target kerja.”
Nisa mengernyitkan alis kala membaca isi chat Farel. “Bukannya pak Arka melarang saya dekat-dekat dengan pak Farel? Kenapa sekarang jadi dia yang suruh kami buat target kerja bersama? Baguslah kalau dia berubah pikiran,” batin Nisa lalu meninggalkan ruangannya.
Seiring waktu, Nisa tiba juga di lantai 10. Ia kemudian berjalan cepat menuju ruangan Arka. Masuk ke dalam tanpa menutup pintu.
Pintu ruangan Arka sengaja ia biarkan terbuka lebar, karena hanya Farel seorang diri di dalam.
Tanpa bertele-tele , mereka langsung tancap gas membuat target pertama.
“Supaya produk perusahaan kita semakin laris, ada baiknya kalau setiap pegawai kita wajibkan mengiklankan produk skincare kita tiap hari. Paling minimal sekali sehari,” saran Nisa.
“Di semua socmed?”
“Kalau menurut saya tidak harus di semua socmed Pak. Kalau di semua socmed, karyawan pasti malas promo karena merasa ribet. Lebih baik sebar iklan cuman di satu aplikasi, tapi rutin. Daripada di banyak aplikasi, tapi jarang.”
__ADS_1
“Boleh juga idemu. Well, saya catat itu sebagai target pertama. Target kedua apa?”
“Untuk menghemat budget, ekspansi ke daerah-daerah sebaiknya dilakukan oleh beberapa orang saja. Tidak perlu satu divisi berangkat semua.”
“Cara bagi anggotanya bagaimana?”
“Karyawan kita bagi jadi beberapa kelompok, yang terdiri dari karyawan lama dan karyawan baru. Dengan begitu, karyawan baru akan belajar teknik mempengaruhi konsumen dari karyawan lama. Dan tiap pekan, cuman satu kelompok yang bisa pergi. Dibuat bergiliran saja setiap pekannya, biar semua karyawan kebagian ikut ekspansi.”
“Ide ini pasti muncul karena kejadian kemarin kan? Waktu kamu ditinggal sendiri ke Cirebon.”
“Iya, Pak.” Nisa tertawa kecil.
“Peraturan itu memang sudah seharusnya diganti. Dimana pun, sistem senioritas tidak layak untuk dipertahankan.”
“Nah, itu dia Pak.”
Mereka terus membuat target kerja, dan berhenti saat jam shalat tiba. Kemudian dilanjutkan lagi dengan mendiskusikan target baru lainnya.
Hingga tak terasa, laporan target kerja bersama itu sudah rampung. Selesainya bertepatan dengan waktu yang semakin mendekati jam pulang.
“Pulang sama saya saja,” tawar Farel.
Nisa yang mengira Arka sudah berubah pikiran, mengangguk pelan. Mereka pun pulang bersama, setelah beberapa hari mereka pulang sendiri-sendiri karena larangan Arka pada Nisa.
“Apa lagi ini Pak? Jangan sering-sering berbuat baik ke saya Pak. Saya tidak enak hutang budi ke Bapak.”
“Itu lipstik alami keluaran perusahaan kita. Saya kasih kamu tidak cuma-cuma.”
“Hah? Kalau begitu, saya kembalikan saja Pak. Boro-boro mau beli lipstik, utang saya ke Bapak saja belum lunas.”
“Bukan begitu maksud saya. Jadi begini, kalau kamu pakai lipstik ini, secara tidak langsung kamu sudah mempromosikan produk kita. Bisa saja kan ada yang minat beli karena suka melihat bibirmu.”
“Oh, begitu yah Pak? Terima kasih sebelumnya, Pak.”
“Sama-sama. See you tomorrow.”
“See you tomorrow Pak.” Nisa langsung masuk ke rumah tanpa berbalik lagi.
“Aish, cewek itu. Kalau bahas pekerjaan dia ramah sekali. Sekalinya saya mau PDKT dianya cuek bebek. Kalau begini, saya harus sering-sering satu proyek sama dia."
Sesampainya di kamar, Nisa memeriksa isi tote bag yang diberikan Farel tadi. Ada tiga lipstik yang berbeda di dalam.
Yang pertama, Beeswax Lip. Terbuat dari campuran lilin lebah yang mendominasi. Lipstik ini tidak akan pudar meski terkena minyak sekali pun.
__ADS_1
Selanjutnya, Castor Oil Lip. Terdapat banyak minyak jarak dalam campuran lipstik ini. Sangat cocok digunakan oleh perempuan yang bekerja di luar ruangan. Karena banyaknya minyak jarak yang terkandung dalam lipstik ini, membuatnya mampu mempertahankan struktur. Baik pada suhu yang sangat tinggi ataupun suhu rendah.
Yang terakhir, Cocoa Butter Lip. Terbuat dari ekstrak biji kakao, yang berfungsi untuk meningkatkan elastisitas kulit bibir.
***
Malam semakin larut, Nisa meninggikan selimutnya. Lalu terlelap bersama bintang.
Keesokan harinya, Nisa memakai cocoa butter lip sebelum ke kantor. Warna lipstik itu senada dengan bajunya yang juga berwarna coklat.
Ia jadi lebih cantik karenanya
Pagi ini ia berangkat lebih awal dari biasanya. Sengaja, karena ia akan mampir dulu ke ruangan Farel.
Sebagai tanda terima kasih dan juga perasaan tak ingin berhutang budi yang tinggi, Nisa akan memberikan sekotak nasi goreng sederhana buatannya pada Farel.
Mengingat, lelaki itu sedikit cuek pada perutnya sendiri. Bahkan kedekatan mereka saja, terjalin gegara kecuekan Farel pada alat pencernaan makanannya tersebut.
Farel menelan salivanya dengan kasar saat melihat Nisa. Hasrat untuk memiliki pada dirinya kian membuncah, tatkala melihat perempuan yang digilainya itu makin cantik dengan bibir yang dipoles lipstik.
“Apa ini?” tanya Farel saat Nisa menyodorkan makanan padanya.
“Nasi goreng ala kadarnya, Pak. Semoga Bapak suka.”
“Wow, terima kasih banyak Nisa.”
“Sama-sama, Pak.”
Urusan kali itu tidak berbuntut panjang, karena si gadis berbibir tebal belum tiba di kantor. Kalau saja ia lihat kejadian tadi, ia pasti akan semakin murka pada Nisa.
Farel meletakkan nasi goreng buatan Nisa di atas meja kerjanya. Akan ia makan setelah meeting dengan client di luar.
Seperginya Farel, Arka masuk mencari. Tak ada batang hidung adik sepupunya di situ. Yang ada hanyalah kotak makanan yang aromanya mampu menusuk indera penciuman Arka.
Penasaran, Arka membukanya. Rupanya nasi goreng dengan lauk sederhana di atasnya. Tanpa pikir panjang, ia yang belum sarapan langsung menerjang makanan itu.
Sampai ludes
***
Meeting dengan client sudah selesai. Farel langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia sudah tidak sabar lagi untuk cepat-cepat sampai di kantor.
Kali ini, ia akan makan siang di ruang kerjanya. Makan nasi goreng yang dibuatkan Nisa.
__ADS_1
“I am so happy. Hari ini bakal makan masakan Nisa,” monolognya kala menyetir.