Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Farel Murka


__ADS_3

Dara berjaga sambil browsing sejumlah resep masakan. Ia sudah membulatkan tekad, akan menjadi istri yang pandai menyenangkan perut suami.


Arka sebenarnya takkan mempermasalahkan kalau Dara tidak cakap dalam hal masak-memasak. Cuman satu yang ia minta, Dara harus bisa buat nasi goreng.


Tapi tetap saja, Dara si gadis cantik, cerdik, nan baik, tidak suka yang biasa-biasa saja. Secara mentalnya adalah mental pemenang.


Ia akan terus mencoba untuk jadi yang sempurna dalam hal apa pun. Termasuk menjadi istri yang sempurna untuk Arka.


Mahir di dapur, jenius di kasur, dan cerdas di sumur.


Aktivitasnya terhenti saat ibunya memanggil. “Dara sayang, mama mau minum.”


Segera, Dara mengambilkan air mineral yang terletak di atas nakas. Ia memasukkan sedotan terlebih dahulu ke botol air mineral yang ada manis-manisnya itu.


“Kamu tidak lembur?”


“Tidak, Ma. Dara mau temani mama di sini. Oh ya, Arka titip salam ke mama.” Senyum Dara berubah lebar sekali.


“Salam balik. Bilang ke dia, kapan mau nikahi anak mama yang cantik ini.” Bu Starla mencubit pipi Dara.


“Omo. Mama kebiasaan sekali suka cubit-cubit pipi,” ucapnya mesra.


“Nanti kalau sudah menikah, mama tidak bisa lagi cubit pipi kamu sembarangan. Takut yang punya marah.” Bu Starla cekikikan.


“Ihh, mama.” Dara tersenyum malu. “Jumat nanti Dara ke Jepang,” lanjutnya.


Bu Starla refleks mengernyitkan alis. “Buat apa di Jepang? Ada urusan kantor lagi?”


“Bukan, Ma. Diajak liburan sama Arka. Katanya sekalian foto prewed.” Kedua pipi Dara menampakkan rona merah jambu.


“Alhamdulillah, akhirnya anak gadis mama dilamar juga. Mama memang kepengen sekali punya cucu.”


“Ih mama, malah mau dijadikan alat produksi cucu.”


“Sengaja, biar nanti anak kamu yang mama cubit-cubit pipinya. Kamunya dicubit-cubit Arka saja.”

__ADS_1


“Sudah malam ya? Mama tidur lagi gih. Mama kan harus banyak istirahat, biar cepat pulih.”


“Iya, iya. Mama tidur sekarang. Biar kamu tidak kelamaan saltingnya.”


“Tuh kan. Mamaaa.” Dara mulai cemberut.


Demi kenyamanan bersama, bu Starla memejamkan matanya. Aslinya, ia memang mulai mengantuk lagi. Mungkin karena efek samping obat yang dikonsumsi tadi.


Selang beberapa menit, Dara mendengar suara dengkuran dari arah perempuan yang selalu mencintainya tanpa pernah merasa bosan itu.


Dara memutuskan untuk ikut tidur, ada mbok Inem yang terjaga. Namun Dara urungkan sejenak kala melihat ada chat masuk dari calon suaminya. Menginfokan untuk bertemu pagi-pagi di kantor.


Jempolnya mulai menekan huruf-huruf di keyboard. “Siap, sayang.” Ia tambahkan emoji kiss love sebelum dikirim ke Arka.


Dara mendekat ke bed penunggu. Tanpa berlama-lama, ia menghempaskan raganya yang lelah selepas seharian bekerja di kantor ke atasnya.


Ia pun terlelap di ruangan beraroma obat-obatan tersebut. Dan terbangun di subuh hari.


“Saya pulang duluan Mbok,” ujarnya sebelum pergi.


“Iya, Mbok.”


Dara bergegas menuju parkiran. Menyalakan mesin, lalu mengontrol kendaraan pribadinya itu menuju rumah.


Lagi, ia melewati jalur yang sama. Namun kali ini dengan perasaan yang tak sama dari sebelumnya. Sejak diajak prewed ke Jepang, hatinya jadi lebih berbunga-bunga.


Ia sengaja pulang cepat untuk membuat nasi goreng special for Arka. Now, dia ada di dapur. Beradu dengan frying pan.


Nasi gorengnya sudah matang. Ia mengambil kotak bekal, mengangkatnya agar lebih dekat dengan wajan.


Nasinya sudah tertumpuk rapi di dalam tempat bekal. Saatnya untuk menambahkan lauk di bagian atasnya.


Lauk yang sudah ia siapkan, ditata hingga membentuk hati. Ia buat di sebelah kiri. Sementara di sebelah kanan, ia buat emoji senyum pakai saus. Ditambahkan sedikit daun seledri sebagai rambut emojinya.


Seberes memasak, ia berendam beberapa menit di bath ub. Memanjakan tubuhnya yang hanya sebahu tubuh Arka itu di air hangat.

__ADS_1


Puas berendam, ia meraih bath robes dan langsung duduk di depan cermin. Ia tersenyum manis pada pantulan wajahnya sebelum menambahkan pemerah merek Minyak Lanolin ke bibirnya.


Lanjut dengan melepaskan bath robes. Hari ini, ia memilih memakai blouse dan skinny pants ke kantor.


***


Dara sudah tak sabar mencobakan nasi goreng buatannya pada sang tambatan hati.


“Kenapa tidak keluar?” tanyanya pada Farel saat lift berada di lantai 8.


“Disuruh Arka ke ruangannya,” sahut Farel yang masih bermuka bantal. Ia bahkan menguap panjang setelah menjawab pertanyaan Dara.


Bersama-sama mereka ke ruangan Arka. Tampak, pintu CEO tampan itu sudah terbuka lebar. Tapi saat mereka masuk, si empunya ruangan tak ada di kursinya. Padahal biasanya ia duduk di situ saat pagi.


Dara memeriksa ke dalam. “Astaghfirullah al adzim,” jeritnya.


Pemandangan di hadapannya sungguh sangat melukai hatinya. Betapa menyakitkannya menyaksikan calon suami sendiri tengah tidur dengan perempuan lain.


Farel yang mengantuk seketika melek mendengar teriakan Dara. Ia menyusul, melihat Nisa dan Arka saling merangkul dalam keadaan polos.


Perasaan Farel kini sefrekuensi dengan Dara. Farel yang geram cepat-cepat mengambil air, ia mengguyur Nisa dan Arka.


Perlahan mereka yang kebasahan membuka mata. Keduanya saling melepaskan rangkulan. Nisa yang menyadari dirinya tak memakai apa pun menyembunyikan diri ke dalam selimut.


Dara masih mematung. Perasaan sakitnya mulai menjelma menjadi air mata. Bak bah, tak terbendung meski sudah terlalu banyak yang tumpah.


“Kamu selalu bilang Nisa gadis murahan. Tapi kamu sendiri yang menidurinya. Kenapa Arkana Pradipta? Kenapa kamu tega melakukan ini ke saya? Apa salah saya ke kamu?”


Arka yang tak tahu apa-apa menyahut. “Sebenarnya apa yang terjadi di sini?”


“Wow, pura-pura amnesia ya. Kamu sudah merebut mahkota perempuan yang saya cintai.”


Farel pun mendaratkan bogem mentah ke wajah Arka.


“Cih, dasar brengsek. Lelaki munafik, tidak punya hati. Sudah mau menikah, tapi masih main serong dengan perempuan lain.”

__ADS_1


“Ini yang kamu bilang konsisten dalam bekerja? Kamu jahat,” tutur Dara sembari melemparkan bekal nasi goreng ke dada Arka.


__ADS_2