
“Kenapa agendanya?” tanya Nisa. Ia tak berani menatap wajah Arka yang sedang marah.
“Ulangi agenda ini!” balas Arka sembari mengembalikan kertas di genggamannya.
“Bagian mananya yang harus saya revisi?”
“Semuanya,” balas Arka cepat.
“Saya butuh penjelasan. Menurut saya, perintah Kakak kurang jelas. Tolong kasih saya arahan yang lebih detail dari sekadar merevisi semuanya.”
“Agenda satu kamu lebur jadi dua. Agenda kedua hilangkan saja! Menimbulkan ketimpangan di antara sesama pegawai nanti. Untuk agenda yang ketiga, ganti jadi penampilan penyanyi top seperti Agnes Mo, Teh Rosa, dan Lyodra. Tambah lagi acaranya, acara yang kamu buat itu terlalu sedikit.”
Nisa yang tak ingin perayaan perusahaan berjalan di luar rencananya, angkat bicara.
“Kakak sendiri tadi yang bilang kalau agendanya itu harus up to date, makanya saya buat begini. Agenda pertama ini belum pernah ada yang melakukan. Biasanya cuman jalan santai to’, kita buat fantastic dengan menggabungkan kegiatan jalan santai ini dengan kegiatan menanam pohon. Untuk menarik perhatian orang-orang memang begitu Kak, perusahaan kita harus berani tampil beda dari perusahaan lain.”
Harus berani tampil beda? Ide itu cukup menarik buat Arka. Tapi tetap saja, ia takut kolaborasi antara kegiatan jalan santai dan menanam pohonnya gagal. Takut jika keinginan untuk tampil beda itu justru memperburuk citra perusahaannya.
“Agenda ini belum pernah dilakukan sebelumnya dan masyarakat pasti masih tabu dengan itu. Resiko gagalnya sangat tinggi, Nisa.”
“Makanya kita jelaskan terlebih dulu ke peserta, sebelum kegiatan dimulai. Karyawan di perusahaan kita juga berpencar selama kegiatan berlangsung. Jadi kalau ada masyarakat yang salah pengertian, bisa langsung ditegur. Harus ada karyawan juga di depan, untuk jadi patokan bagi peserta.”
“Okay saya terima. Tapi kalau terjadi apa-apa yang berimbas ke perusahaan, kamu harus tanggung jawab. Mengaku ke papa dan mama kalau semua ini idemu.”
Nisa menelan ludah sebelum menyahut. “Baik, saya yang tanggung jawab. Untuk agenda kedua, tetap harus dilaksanakan Kak. Pekerja yang rajin dan berprestasi wajib dikasih reward, biar lebih giat lagi memajukan perusahaan kita.”
Arka mulai malas berdebat, jadi ia terima saja ulasan Nisa itu. “Okay. Silakan jelaskan agenda yang ketiga.”
“Kita undang tiga stand up comedy-an. Indra Frimawan, Abdur, dan Raim Laode. Penyanyi mungkin bisa bikin orang terhibur, tapi stand up comedy-an bisa bikin orang terhibur plus ketawa.”
__ADS_1
_Thank you. Gue menyiapkan sekitar tiga puluh enam jokes yang funny pada malam hari ini teman-teman. Jadi buat kalian yang baru pertama kali ngeliat gue stand up atau mungkin udah lama nggak ngeliat gue stand up, pasang mata kalian dan telinga kalian, dan kepala kalian. Fokus, konsentrasi, karena setiap kata-kata yang keluar dari mulut gue, nggak keluar dari mulut kalian_Indra Frimawan
_Saya sakit hati kalau misalkan orang bilang orang Timur itu jahat. Saya sakit hati karena itu. Karena begini, saya bisa kasih bukti kalau orang Timur itu tidak jahat. Pada tahun 2011, daerah dengan tingkat kriminalitas tertinggi itu adalah Jakarta, dengan 53.324 kasus. Di tahun yang sama, daerah dengan tingkat kriminalitas paling rendah adalah Maluku, dengan 153 kasus. Lima puluh tiga ribu tiga ratus dua puluh empat dengan seratus lima puluh tiga. Orang Timur itu tidak jahat. Tidak jahat di kampung sendiri, kami jahat di kampungnya orang_Abdur
_Kondisi geografis itu mempengaruhi watak dan perilaku orang yang tinggal di tempat itu. Kayak Wakatobi, geografisnya keras, panas begitu. Kayak semacam satu rumah satu matahari itu. Kayak panas, panas sekali begitu. Saking panasnya itu matahari saja kepanasan. Akhirnya, matahari pergi beli hand body_Raim Laode
Meski telah mahfum, Arka yang masih belum puas, menyahut lagi. “Agendanya kurang banyak.”
Nisa kembali menjelaskan dengan semangat yang menggebu-gebu.
“Untuk apa kita buat agenda banyak-banyak? Mengurangi saldo perusahaan saja. Kalau pun Kakak mau tambah agenda, pilih hal-hal yang positif saja. Seperti yang saya bilang hari itu, bagikan nasi kotak dan minuman dingin ke semua peserta yang ikut. Lebih afdal lagi kalau kita tambahkan kegiatan menyantuni anak yatim, para manajer kita ikut mengunjungi panti asuhan.”
Arka membatin. “Anak ini, dia jadi semangat sekali bekerja karena dijanjikan rumah baru untuk orang tuanya. Perhatian sekali dia ke keluarganya. Kalau begini terus, perasaan saya untuk Dara bisa hilang total.”
***
Lima hari berlalu setelah agenda itu diperdebatkan. Tibalah hari ulang tahun perusahaan NaturalSkin Indonesia.
Jalan santai sekaligus menanam pohon.
Dara berdiri di atas panggung. “Sebelum melaksanakan kegiatan kita pagi ini, alangkah baiknya kita berdoa terlebih dulu.”
Semua orang yang hadir di situ kini menundukkan kepala, berdoa sesuai dengan ajarannya masing-masing.
Selepas berdoa, Dara memberikan arahan pada khayalak ramai itu.
“Di samping kanan saya ada bibit bunga ketapang kencana. Peserta diharapkan mengambil masing-masing satu. Bibitnya silakan ditanam di tempat yang harusnya ada pohon untuk tempat berlindung. Panitia dari perusahaan kami akan mencontohkannya langsung nanti. Saya ucapkan gamsahamnida untuk seluruh peserta.”
Mereka mulai berjalan dengan santai setelahnya.
__ADS_1
Nisa dan Arka berada di barisan depan. Saat melewati suatu tempat, mereka melihat tak ada satu pun pohon yang tumbuh di situ. Nisa bergegas ke situ untuk menanam bibit pohon yang dibawanya.
Beberapa meter setelahnya, Arka menyusul. Bunga ketapang kenanga yang masih kecil, ia tanam sejajar dengan pohon yang ditanam Nisa tadi.
Now, tangan mereka kosong. Tak ada lagi bibit pohon di genggaman. Arka lantas meraih tangan kanan Nisa, tangan istrinya itu ia genggam.
Dara yang kesal melihatnya, membatin. “Omo, berani sekali dia berselingkuh di depan mata saya.” Ia lalu berdeham.
Arka berbalik ke belakang, dilihatnya wajah Dara diselimuti amarah. Ia cepat-cepat melepaskan gandengan tangannya dari Nisa.
Next.
Mereka terus berjalan sampai ke titik yang telah ditentukan. Lalu putar arah, melangkah kembali ke depan kantor.
Di halaman kantor yang amat luas tersebut, sudah ada panitia yang menanti kedatangan mereka. Panitia-panitia itu membagikan minuman dan makanan ke partisipan, yang memang mulai lapar dan kehausan selepas melaksanakan agenda satu.
Daebak.
Selain punya setumpuk harta, pihak perusahaan NaturalSkin Indonesia juga mempunyai setumpuk kebaikan untuk dibagikan.
Tak seperti jalan santai pada umumnya, yang dimana ada pemenang undian. Di jalan santai yang diselenggarakan oleh perusahaan NaturalSkin Indonesia berbeda. Semua partisipan mendapat hadiah tanpa diundi.
Hadiahnya? Ya, produksi perusahaan sendiri. Perempuan dikasih satu jenis make up. Sementara lelaki, dikasih parfum beraroma dedaunan.
Selain berpahala, itu juga teknik marketing yang Nisa terapkan. Siapa tahu, dengan begitu akan banyak masyarakat yang ketagihan memakai produk keluaran perusahaannya.
Agenda 2.
Pemberian penghargaan kepada karyawan yang berprestasi.
__ADS_1
Dara menarik nafas sejenak, agar kalimat yang diucapkannya nanti tidak terpatah-patah.
“Selamat menikmati makanan dan minuman ala kadarnya yang disiapkan oleh panitia konsumsi perusahaan kami. Semoga semua yang hadir di sini suka dengan menunya. Sambil makan, kami akan menyebutkan satu nama karyawan di perusahaan ini yang berprestasi dan rajin bekerja. Untuk yang terpilih akan mendapatkan uang delapan juta rupiah.”