Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Singkirkan Nisa


__ADS_3

“Kamu boleh kembali ke ruangan,” perintah Arka dengan suara yang mulai melunak.


“Terima kasih, Pak.”


Nisa bergegas pergi, takut jikalau amarah bosnya itu kembali ke mode awal.


“Nisa ...”


Baru saja akan membuka pintu, langkah Nisa jadi terhenti oleh panggilan Arka tersebut. Ia berbalik.


“I-iya. Ada apa Pak?” tanyanya dengan lutut yang mulai bergetar. Jangan-jangan, bosnya itu mau marah-marah lagi.


“Tolong buatkan saya kopi.”


Perintah Arka membuat Nisa refleks mengernyitkan alis.


“Office girl sedang sakit,” imbuh Arka yang bisa membaca mimik wajah kebingungan Nisa.


“Baik, Pak.”


Nisa pun melesat jauh menuju pantry. Di perjalanan ke ruangan khusus untuk memasak tersebut, ia berpapasan dengan Nita.


Perempuan yang pernah mewawancarainya itu tengah membawa secangkir kopi hangat.


Nisa pun tersenyum kecil padanya, tapi tak digubris. Meski begitu, ia tak berkecil hati hanya karena tak disenyumi balik.


Ngapain juga? Toh tugasnya di kantor adalah mengelola aset perusahaan, bukan menyenangkan semua atasan.


Berbekal pengalaman menjamu tamu yang datang ke rumahnya dengan air hangat manis, Nisa pun mulai membuat kopi ala-ala home made.


Diawali dengan memasukkan bubuk kahwa. Kemudian menambahkan arang manis secukupnya. Dan terakhir, menyeduhnya dengan air panas dari dispenser.


Sementara di tempat lain.


Farel membetulkan kacamatanya sebelum mengetuk pintu ruangan Arka. “Boleh saya masuk?” tanyanya kemudian.


Farel memang bersepupu dengan Arka. Ia bahkan sering nginap di rumah Arka. Meski telah sedekat itu, ia tetap meminta izin sebelum masuk ke ruangan sepupunya itu. Lebih tepatnya ia trauma pernah grasa-grusu di masa lalu.


Pernah, ia asal masuk ke ruangan Arka. Eh, ia malah disuguhkan adegan kiss antara Arka dan Dara. Arka langsung marah besar karena kedapatan sedang mesum di ruangan.


Dan sejak saat itulah Farel tidak berani lagi masuk tanpa permisi lebih dulu.


“Masuk saja,” sahut lelaki bertubuh tinggi dari dalam.


Farel masuk, melangkahkan kaki dengan cekatan ke arah Arka. “Nisa mana?” tanyanya blak-blakan.


“Buat kopi,” jawab Arka tanpa memalingkan pandangan dari layar komputer. Ia sangat sibuk membuka email-email yang masuk.

__ADS_1


Farel pun beranjak dari situ, menyusul Nisa ke pantry.


Lama mondar-mandir mencari Nisa, membuat blus abu-abu yang dipakainya sedikit basah. Padahal ada banyak air conditioner di kantor.


Yah begitulah yang dialami oleh orang-orang yang kelenjar keringatnya benar-benar aktif seperti Farel.


Maksud hati mencari Nisa, ia malah berjumpa dengan Nita. Perempuan yang selalu saja over kepo akan hidupnya.


“Ada urusan apa sih sama dia?” tanya Nita yang amat penasaran lantaran Farel sangat bersikeras untuk menemui Nisa.


Perasaan kesal yang menghinggapi, menyebabkan Farel menjawab dengan ketus. “Ada hal penting yang mau saya bicarakan dengan dia.”


“Kalau membahas hal penting di kantor ya harus tentang kantor. Jangan malah bahas perasaanmu ke dia,” balas Nita tak kalah ketusnya.


“Suka-suka saya lah mau bahas apa. Yang penting saya tetap produktif seperti biasanya.”


Nita mematung. Dan Farel yang kebelet buang air, langsung berpaling dari hadapan Nita. Ia melangkah ke toilet, memutar kenop pintunya, lalu masuk ke dalam.


“Cih, produktif? Produktif mengejar cinta maksudnya? Makan tuh cinta,” monolog Nita saat Farel sudah tak terlihat lagi di pelupuk matanya yang bulat.


“Aww,” pekiknya saat tangannya ditumpahi sedikit kopi hangat.


“Gara-gara Farel ni. Awas saja kamu Farel. Kalau nanti bermasalah dengan Nisa, saya tidak akan mau lagi jadi teman curhatmu. Dasar lelaki kurang ajar,” tambahnya.


Sejak mengenal Nisa, sikap Farel memang perlahan berubah padanya. Menurutnya, di pikiran Farel hanya ada Nisa, Nisa, dan Nisa.


Ia pun tertatih menuju ruangannya. Duduk di kursi empuk miliknya. Lalu menarik nafas panjang, dengan harapan mood-nya yang sempat hancur, tak lagi kendur.


Sialnya, semangatnya untuk lanjut membuat aturan yang bisa mendisiplinkan para staff tak kunjung bagus. Masih sangat kesal, ia mengacak-acak rambutnya yang halus.


“Kenapa? Kenapa kamu tidak bisa menyadari perasaan ini Rel? Dari dulu saya mencari perhatian kamu. Tapi kamu malah kepincut wanita lain terus.” Bulir-bulir air mata kini menggelinding di pipi chubby-nya.


“Tidak bisa. Farel tidak boleh jatuh ke tangan perempuan lain lagi. Saya harus bisa menyingkirkan perempuan berhijab itu dari kantor ini.”


Di sisi lain, Nisa melangkah dengan pelan ke ruangan Arka. Takut kopi yang dibawanya tumpah. “Bisa makin marah dia kalau saya buat salah lagi,” ucapnya pada diri sendiri.


Lama berjalan, akhirnya ia sampai juga di ruangan Arka. Diletakkannya kopi di atas meja. “Semoga suka Pak,” ujarnya tanpa menatap si empunya meja.


“Terima kasih.”


“Sama-sama, Pak.”


Di saat yang sama, Farel yang sedari tadi mencari Nisa, menyusul masuk. Tanpa permisi, karena pintu ruangan Arka terbuka dengan lebar. Means, Arka siap ditemui bawahannya.


“Nisa, saya tunggu di luar ya.”


“Baik Pak,” jawabnya pada Farel yang berjalan keluar.

__ADS_1


Arka menyesap kopi buatan Nisa. “Enak. Lain kali kalau office girl tidak datang, kamu yang buatkan saya kopi. Bisa?”


Nisa mengangguk malas.


Arka lalu berdiri, mengambil sebuah buku di rak setinggi leher di sebelah kanannya. Buku yang akan menemaninya menikmati secangkir kopi.


“Kamu boleh pergi. Tapi ingat, jangan terlambat lagi ke kantor.”


“In Syaa Allah, Pak.”


“Jangan bawa-bawa nama Allah kalau kamu tidak bisa menjamin seratus persen tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.”


“Iya Pak. Maaf,” jawabnya pasrah. Tak ingin argumen yang keluar dari mulutnya menambah kesalahannya di mata Big Boss Arka.


Ia pun berjalan keluar. Menemui Farel, sebelum kembali ke ruangannya.


Arka yang tak ingin adik sepupunya terbuai dan akhirnya terluka karena kemunafikan wanita, berjalan amat hati-hati menuju pintu.


Dipasangnya telinganya baik-baik.


Pokoknya, Farel tidak boleh jatuh cinta pada Nisa. Tidak boleh merasakan pedihnya dikhianati perempuan yang membungkus kemunafikan di balik hijab.


Di luar, Farel mengeluarkan amplop berisi sepuluh lembar uang berwarna pink pada Nisa. “Ini,” ujarnya sembari menyodorkan amplop berwarna putih tersebut.


Netra Nisa berkaca-kaca. “Terima kasih Pak. Semoga Allah mudahkan selalu rezeki Bapak. Saya janji akan membayar secepatnya kalau sudah ada uang.”


“Seharusnya saya yang berterima kasih. Karena kehadiran kamu, hidup saya jadi lebih banyak warna,” batin Farel.


Lagi, Farel si lelaki hati Hello Kitty terenyuh dengan kata-kata Nisa barusan. Ingin rasanya ia memiliki wanita di hadapannya itu sepenuhnya.


“Sama-sama. Aamiin,” jawabnya dengan tetap mempertahankan suara bariton. Tak mau terlihat melow di hadapan Nisa.


Dari percakapan Nisa dan Farel di luar, Arka menangkap bahwa Nisa pasti meminjam uang pada sepupunya yang gagah itu.


Ia kemudian tergesa-gesa kembali ke tempat duduk. Mau disimpan dimana mukanya kalau ketahuan sedang menguping percakapan orang lain?


Sementara Nisa dan Farel, mereka berjalan beriringan menuju lift. Farel keluar di lantai 8. Menyusul, Nisa di lantai 5.


“Kenapa lama sekali Sa?” tanya Thira yang khawatir dengan kondisi mental Nisa.


“Disuruh buat kopi dulu Ra.”


“Tapi kamu okay kan?”


Pertanyaan Thira tidak begitu saja muncul. Ia tahu betul siapa CEO-nya. Semua karyawan yang bekerja di situ menjulukinya Si Tampan Bermulut Jahat.


“Okay Ra.”

__ADS_1


“Baguslah kalau begitu. Ayo sini, bantu saya promo di Instagram.”


__ADS_2