
Harusnya mood semua orang bagus di pagi hari. Sayangnya, itu tidak berlaku bagi Arka.
Ia duduk di kursi kebesaran dengan wajah yang serius. Pikirannya terjebak pada kejadian tadi malam dan tadi pagi.
Kecemburuan Nisa semalam, amat jelas menunjukkan bahwa istrinya itu sungguh mendambakan cintanya. Sementara kedekatan Nisa dan oma tadi pagi, membuatnya jadi pusing sendiri.
Bagaimana kalau ia dan Nisa bercerai nanti? Oma pasti akan terpukul sekali. Entah mengapa, Arka merasa segalanya menuntunnya untuk bersatu dengan Nisa saja.
Di tengah-tengah kegusaran itu, Dara masuk ke ruangannya. Kekasihnya yang amat baik tersebut datang dengan membawakan bekal untuknya.
“Good morning chagiya!” sapa Dara.
“Morning,” balas Arka. Agak dingin.
Dara beralih mengelus pundak Arka. “Ada masalah apa sayang?” tanyanya penuh cinta.
“Tidak ada apa-apa. Cuma mengantuk gara-gara bergadang tadi malam.”
Dara duduk, ia kemudian membuka nasi goreng buatannya dan menyuapkannya ke Arka. Lagi, Arka tidak antusias memakannya.
Dara jadi curiga dengan sikap Arka yang seperti itu. Ia yang tak terima dicueki pun membatin. “Gara-gara Nisa, pikiran Arka jadi terbagi sekarang. Kalau bukan karena dia, impian saya untuk menjadi satu-satunya perempuan yang dipikirkan Arka tidak akan hancur berantakan.”
“Kamu pasti ada masalah kan dengan Nisa?” tanya Dara lagi.
Arka yang tak pintar menyembunyikan perasaan dari Dara berpura-pura. “Mana mungkin saya bermasalah dengan perempuan seperti dia? Buang-buang waktu saja,” balasnya tanpa berani menatap netra Dara.
Dara berbicara dalam hati setelah membaca bahasa tubuh Arka. “Fixed Arka membohongi saya. Dia pasti sudah ada rasa pada Nisa. Ini tidak bisa dibiarkan, Arka tidak boleh jatuh cinta ke Nisa.”
“Tiduri saya, sayang!” ujarnya yang sangat mencintai Arka.
Ia sungguh tak tahu harus berbuat apa lagi untuk bisa mendapatkan Arka secepatnya. Gerak gerik aneh Arka, membuatnya ketakutan jika Arka mulai jatuh cinta pada Nisa.
Ucapan Dara barusan serasa menusuk rungu Arka. “Saya salah dengar kan sayang?”
Dara menggeleng. “Kamu tidak salah dengar, sayang. Tiduri saya kalau kamu benar-benar cinta!”
“Kenapa tiba-tiba bicara aneh seperti ini sayang?” Arka benar-benar penasaran ingin tahu apa motif dari perubahan sikap Dara.
Dara beralih memeluk Arka dengan sangat erat. Seakan takut jika kekasihnya itu lepas dari pantauan. Air matanya kini tumpah dan membasahi dada Arka.
“Saya takut kehilangan kamu sayang,” ucapnya tersedu-sedu.
__ADS_1
“Tenang saja sayang, semuanya akan baik-baik saja. Mencium dan memeluk kamu, saya sanggup. Tapi maaf, saya tidak bisa meniduri kamu sebelum kita resmi jadi suami istri.”
“Kenapa?” Dara mendongak dengan air muka kecewa.
“Guru mengaji saya pernah berpesan untuk jangan berzina. Karena katanya, berzina dosanya tidak diampuni selama empat puluh tahun. Saya memang terlanjur berdosa, sering memeluk dan mencium kamu. Tapi saya tetap takut bersetubuh sayang. Saya juga tidak mau merusak kamu sebelum waktunya.”
Dara melepaskan rangkulannya. “Ya sudah, lupakan saja permintaan saya barusan. Ayo, kita makan sama-sama.”
Keduanya lalu duduk berdampingan. Dara kembali menyuapi Arka. Jerih payahnya bangun subuh untuk masak terbayar lunas saat Arka kini makan lebih banyak.
Selang beberapa menit, suap menyuap nasi goreng beres.
Arka dan Dara lanjut menentukan jadwal seluruh kegiatan yang ada di perusahaan untuk bulan ini. Mereka juga membuat beberapa aturan untuk mendisiplinkan para pegawainya.
Memasuki waktu istirahat.
Untuk ke sekian kali, Nisa melakukan repetisi kesehariannya di kantor. Ia shalat dzuhur terlebih dulu , sebelum lanjut makan siang.
Selepas shalat, ia mengambil sebungkus roti dari tas. Seperti biasa, ia akan makan roti sambil berselancar di dunia maya yang tidak sempat diceknya saat bekerja tadi.
Keadaannya jauh berbeda dengan Arka yang sedang berada di lantai dua. Yup, Arka dan Dara take a lunch di ruang VIP cafetaria perusahaan. Mereka menikmati salah satu menu makanan dan minum jus fresh.
Masih terbayang-bayang akan kebaikan Nisa padanya, Arka mengirimkan chat ke istrinya tersebut. “Ayo makan bersama di cafe. Saya traktir kamu. Anw, ada Thira juga di sini.”
Arka beralih mengajukan pertanyaan. “Memangnya kamu bisa kenyang kalau cuma makan roti?”
“Sejak kapan dia peduli dengan saya? Kemana saja Kak? Emang enak berutang budi pada istri sendiri?” monolog Nisa tanpa membalas pesan Arka.
Ia yang malas sekali gabung dengan Arka dan lainnya, justru lanjut menikmati rotinya.
Sembilan ratus detik kemudian. Mbak Ratih menghampiri Nisa dengan membawa bungkusan.
“Dari pak Arka?” tanya Nisa padanya.
“Iya, Bu. Katanya selamat menikmati.”
Nisa tersenyum kecut. “Terima kasih ya.”
“Sama-sama,” balas mbak Ratih sebelum melenggang keluar dari ruangan khusus divisi regional tersebut.
Nisa membukanya. Bungkusan itu berisi mie, dengan jumlah bakso yang melimpah. Minumnya jus jeruk. Tanpa pikir panjang, Nisa langsung mentransfer keduanya secara bergantian ke perut.
__ADS_1
Tengah asyik menikmati makanan tersebut.
Chat Arka masuk ke gawainya. “Terima kasih,” kirimnya.
Nisa geram sekali. “Tidak usah menyindir. Saya layak makan ini tanpa berterima kasih. Harusnya Kakak yang berterima kasih ke saya. Berkat kegabutan saya di Jepang, omset perusahaan kita melonjak naik.”
“Kamu gabut juga gara-gara saya,” balas Arka yang mulai mencoba untuk mengakrabkan diri dengan Nisa.
Tak ingin menangisi hal yang sama, Nisa mengabaikan pesan tersebut. Layaknya Arka yang mengabaikannya selama ini.
Cincin berlian untuk Dara dan piama couple untuknya, benar-benar tak termaafkan baginya. Sejak saat itu, ia terus berusaha untuk realistis.
Menempatkan diri bukan lagi sebatas karena ia istri Arka. Untuk sekarang, ia memposisikan diri sebagai perempuan yang terpaksa dinikahi.
Jarum jam menunjukkan pukul lima sore.
Sudah waktunya pulang, Nisa pun menuju basement.
Tak jauh darinya, ada Dara dan Arka yang berjalan bersama mendekati mobil. Keduanya juga memasuki mobil yang sama.
Nisa yang sebenarnya masih memiliki perasaan untuk Arka tentu sakit hati melihatnya. Tapi ia berusaha semaksimal mungkin untuk tetap realistis.
“Come on Nisa. Statusmu tidak lebih dari perempuan yang terpaksa dinikahi,” batinnya.
Matahari semakin terbenam. Ia buru-buru ke tepi jalan untuk menunggu bus lewat. “Mending pulang sendiri. Daripada jadi obat nyamuk,” tuturnya.
Tetiba, mobil Arka berhenti tepat di depannya. “Masuk!” perintah si empunya mobil padanya.
“Kakak duluan saja! Saya mau singgah beli sesuatu nanti,” balas Nisa dengan kebohongan.
“Nanti kita temani kamu singgah,” celetuk Dara seraya tersenyum.
Senyum yang membuat Nisa makin jijik pada seniornya itu. Gayanya saja yang suka senyum, seolah-olah ia adalah makhluk yang paling ramah.
Tapi Dara memang ramah sih. Saking ramahnya, suami orang pun disapa terus setiap hari. Ralat, setiap saat.
Huftt, seperti perangko saja.
“Duluan saja Kak. Saya lama kalau belanja,” balas Nisa lalu berjalan cepat ke pintu bus yang berhenti tak jauh darinya.
Bukan hanya ia yang masuk ke dalam transportasi umum tersebut. Ada beberapa staff juga yang pulang menggunakan jasa angkutan umum sepertinya.
__ADS_1
Bus kota itu pun melaju, membawa seluruh penumpang ke tujuan masing-masing.