
Arka yang nyaris putus asa, kini menatap mata ayahnya dengan penuh pengharapan.
“Tolong kasih saya kesempatan untuk mengusut ini semua, Pa. Saya janji akan menikahi Nisa kalau saya tidak bisa membuktikan kebenarannya.”
“Tidak bisa. Kamu harus menikahi perempuan itu secepatnya. Jangan sampai usia kehamilannya nanti lebih tua dari usia pernikahan kalian,” tutur pak Pradipta.
“Kami tidak akan menikah, Pa. Saya pasti bisa membuktikan kalau saya memang tidak bersalah.”
“Bagaimana mau membuktikan kamu tidak bersalah? CCTV di kantor, mati kemarin malam.” Pak Pradipta memberi jeda. “Sudah, jangan mendebat lagi. Hari ini juga kita harus ke rumah perempuan itu untuk melamar,” tambahnya.
“Tidak mau, Pa. Saya maunya menikah sama Dara, bukan sama Nisa.”
Pak Pradipta menatap tajam ke arah anak jejakanya itu. “Makanya, kalau mau menikah sama Dara, jangan tidur sama perempuan lain.”
“Harus berapa kali saya bilang? Saya tidak tidur dengan dia.” Saking frustasinya, Arka sampai menarik kasar rambutnya.
Tak mencapai mufakat, pak Pradipta mengajak Arka ke ruangan lain. Mereka akan bicara empat mata saja di situ.
“Pernikahan kalian cuma sementara, yang penting kamu nikahi dulu perempuan itu. Kamu bisa ceraikan dia nanti. Tapi jangan secepatnya! Untuk menjaga nama baik keluarga dan perusahaan kita, ceraikan dia setidaknya dua tahun setelah pernikahanmu.”
“Ide macam apa itu Pa? Keputusan saya sudah bulat, pokoknya saya tidak mau menikah kalau bukan dengan Dara.”
“Ya sudah, kalau itu maumu. Dikasih solusi terbaik tidak mau. Siap-siap namamu saya keluarkan dari kartu keluarga. Jangan harap kamu bisa dapat warisan dari saya. Karena semua harta keluarga kita nanti, saya kasih ke Daniel saja.”
Pak Pradipta pun melangkah, menjauh, dan perlahan meninggalkan Arka.
“Solusi terbaik bagaimana? Jelas-jelas saya dirugikan. Terbaik itu kalau tidak ada yang dirugikan.”
“Kamu memang tidak dirugikan sama sekali. Karena kamu hanya perlu menikahi perempuan itu. Jadikan dia istri selama dua tahun. Setelah itu kamu bebas ceraikan dia untuk kembali dengan Dara.”
“Jadi Papa setuju saya sama Dara?” tanya Arka dengan mata berkaca-kaca. Tadinya, ia pikir tak ada yang memihak padanya.
“Pasti lah saya setuju. Dara itu cantik dan baik. Kalau kamu menikah sama dia, anak kamu bukan cuma tampan, tapi baik hati juga. Dara juga cerdik, cocok sekali untuk jadi partner CEO seperti kamu.”
Secercah harapan kini tertuang di senyum Arka. “Terima kasih, Pa. Kalau begitu, saya siap melamar Nisa.”
“Sama-sama, Nak. Jangan sampai rencana kita ketahuan mamamu ya. Dia tidak tegaan sama orang lain. Apalagi kalau tahu perempuan itu miskin, mamamu pasti tambah simpati ke dia. Kalau sudah begitu, jadi kita yang didiamkan.”
__ADS_1
“Pasti, Pa. Tapi darimana papa tahu perempuan itu miskin? Terus, kalau Papa lebih setuju saya sama Dara, kenapa tadi Papa pukul saya keras sekali?”
“Saya cari tahu lah. Makanya, nanti setelah menikah, kamu sering-sering kasih dia makanan yang bisa menggugurkan kandungan. Saya tidak sudi punya cucu dari rahim perempuan miskin seperti dia. Masalah memukul tadi, saya sengaja. Biar saya terlihat berwibawa di depan mamamu.”
“Iya, Pa. Saya juga tidak sudi punya anak dari rahim perempuan murahan seperti Nisa.” Arka pun menyusul ayahnya.
Akhirnya, masalah pagi ini bisa ia lewati berkat solusi yang diberikan ayahnya. Solusi yang menguntungkan bagi keluarganya, tapi merugikan bagi keluarga Nisa.
Pak Pradipta tiba lebih dulu di ruang keluarga. Ia kembali duduk seakan tak terjadi apa-apa antara ia dan Arka tadi.
“Bagaimana keputusan Arka, Pa? Kamu sudah berhasil membujuknya?”
“Iya, Ma. Saya sudah nasehati dia baik-baik, supaya jadi lelaki itu yang bertanggungjawab. Dia sudah setuju untuk melamar perempuan itu hari ini juga.”
Tepat pada pukul 10, tatkala mentari sedang memanasi bumi, selepas hujan tadi pagi. Atas petunjuk Farel, Arka beserta rombongan tiba di rumah Nisa.
Suara deru kendaraan dari luar, menyita perhatian bu Faridah yang tengah memberikan pijatan pada sang suami.
Ia cepat-cepat melangkah menuju pintu. Dan berdiri di muka rumah dengan raut wajah bertanya-tanya, tatkala melihat beberapa orang keluar dari mobil mewah yang terparkir di depan rumahnya.
Walaupun begitu, bu Faridah tidak menghampiri. Ia hanya menunggu mereka yang mendatanginya. Lagipula, mana mungkin rombongan orang kaya itu mencari orang miskin sepertinya?
Meski agak canggung, bu Faridah tetap berusaha terlihat relaks. “Iya, Nisa ada di dalam. Mau saya panggilkan?”
Bu Haifa tersenyum manis. “Oh iya, boleh Bu. Sekalian kami mau masuk juga ke dalam.”
“Mau masuk ke dalam rumah saya?” Bu Faridah mengernyitkan alis.
“Iya, Bu.”
“Oh. Kalau begitu, mari silakan masuk! Tapi maaf sebelumnya, di kontrakan kami tidak ada sofa,” balas bu Faridah cepat.
“Tidak apa-apa, Bu. Kami tidak masalah duduk di kursi biasa.”
Bu Faridah menelan salivanya. “Kami juga tidak punya kursi biasa, Bu.” Ia tersenyum kecut kemudian.
“Maaf bu, saya tidak bermaksud. Duduk di lantai juga tidak apa-apa, Bu.”
__ADS_1
“Kalau lantai, kami punya Bu. Mari silakan masuk!”
Arka dan keluarganya masuk.
Setibanya di ruang tengah, Farel menatap lekat-lekat isi kontrakan Nisa. Ini pertama kalinya ia melihat isi tempat tinggal Nisa. Biasanya ia hanya melihat sisi luarnya saja saat mengantar gadis tersebut pulang.
Demi menghargai tamu yang datang, pak
Nugroho berusaha duduk. Sementara bu Faridah, ia menghampiri Nisa yang tertidur di kamar.
Sebenarnya, ibu dua anak itu tidak enak hati untuk membangunkan anaknya. Tapi apa boleh dikata, sang tamu mencarinya. “Nisa, bangun! Ada tamu yang cari kamu,” ujarnya seraya menggoyangkan bahu si buah hati.
“Siapa Ma?” balas Nisa malas.
“Saya juga tidak tahu mereka siapa. Ayo bangun! Pakai jilbab, di luar ada empat lelaki.”
“Jangan-jangan, itu orang suruhan pak Arka untuk kasih pelajaran ke saya? Tapi mana ada penjahat sopan begitu?” monolog Nisa dalam hati.
Ia lalu memakai jilbab dan berjalan ke ruang tamu.
Bagai ironi...
Arka yang tadi pagi marah-marah padanya, juga ada di situ. Ia duduk melantai bersama Farel dan tiga orang lainnya yang baru pertama kali Nisa lihat.
Nisa pikir, Arka tidak akan peduli pada kondisinya sama sekali. But now, Arka beserta keluarganya ada di rumahnya. Mirip seperti orang yang akan melamar saja.
“Jadi tadi malam Arka mabuk-mabukan karena perempuan ini? Muka polos begitu dia bilang menjebak? Tidak masuk akal,” batin Daniel tanpa memalingkan pandangan dari Nisa.
Nisa pun duduk di samping ayahnya. Matanya tampak sembab, pasti gegara menangis lama.
“Kamu yang namanya Nisa?” tanya bu Faridah.
“Iya, Bu. Mohon maaf sebelumnya, ini ada apa yah ramai-ramai ke sini?”
Bu Faridah menyenggol pelan pak Pradipta dengan siku kirinya. “Pa, kamu yang bicara.”
Pak Pradipta mengambil alih. “Jadi begini, maksud kedatangan kami ke sini, tak lain dan tak bukan adalah untuk melamar anak Bapak dan Ibu menjadi bagian dari keluarga kami. Jadi istri untuk putra kami, Arka.”
__ADS_1
“Mungkin memang Arka digariskan untuk Nisa,” pikir Farel. Ia mencoba berdamai dengan keadaan.