Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Membulatkan Tekad


__ADS_3

Sepekan terlewati.


Masih seperti hari-hari yang lalu, Arka melihat Thira mampir lagi ke pos satpam. Karyawan terbaik itu memberikan makanan ke pak Udin yang sedang berjaga di pos.


Arka mengelus dagunya. Ia bermonolog saat menonton rekaman yang serasa dejavu itu.


“Thira pasti punya hubungan yang special dengan pak Udin. Sebaik-baiknya orang, tidak mungkin juga sampai tiap hari kasih makanan gratis begitu.”


Saat ia asyik memantau, Dara tiba-tiba masuk ke ruangannya. Ia cepat-cepat keluar dari aplikasi pemantau CCTV itu.


“Sayang, ini rincian estimasi budget yang dikeluarkan kalau perusahaan kita ekspansi ke pelosok-pelosok provinsi Sulawesi Barat.”


“Ternyata Thira baik sekali,” balas Arka. Balasannya melenceng jauh sekali dari topik yang dihadirkan Dara.


“Baik? Darimana kamu tahu?”


“Saya sering lihat dia kasih makanan ke pak satpam.”


“Memang sudah seharusnya Thira bersikap baik begitu ke pak Udin.”


Arka menaikkan alis kanannya. “Karena apa?"


“Karena berkat bantuan pak Udin lah, Thira jadi gampang diterima bekerja di sini.”


Arka kembali menaikkan alis. “Maksudnya? Apa hubungannya Thira dengan pak Udin?”


“Thira itu keponakannya pak Udin. Saya dan Farel waktu itu menolak Thira bekerja di sini, karena tidak ada sertifikat prestasi yang dilampirkan di CV nya. Tapi karena pak Udin memohon-mohon, terpaksa kami loloskan saja dia. Alhamdulillah, dia ternyata rajin dan mau belajar. Dia sampai jadi karyawan terbaik.”


Setelah malam demi malam Arka lalui dengan tidak tenang. Akhirnya, ia bisa tahu hubungan yang sebenarnya antara Thira dan pak Udin.


“By the way, kenapa kamu tanya-tanya tentang Thira yang? Tidak biasanya kamu kepo ke karyawan,” lanjut Dara.


“Kebetulan saja saya lihat dia perhatian ke pak Udin. Dari situ saya jadi penasaran mau tahu ada hubungan apa mereka berdua.”


Tetiba, Dara beralih topik. “Thira juga teman dekatnya Nisa waktu SMA.”


Arka menyahut cepat. “Saya sudah tahu,” balasnya yang tidak sanggup menerima pertanyaan dan pernyataan bertubi-tubi dari Dara.


Menyadari mood Arka sedang tidak baik, Dara memutuskan untuk kembali ke ruangannya saja.


Ia pun duduk di depan komputer kesayangannya. Ia kemudian menandai nama-nama karyawan yang akan ia blacklist dari perusahaan.


Pasti ada nama staff yang suka nongkrong sambil merokok di pos satpam.


Sialnya, ia tak dapat berkonsentrasi dengan baik. Itu karena bayangan tentang kedekatan Arka dan Nisa terus menari-nari di pikirannya.


“Arka tidak pernah sekepo itu ke orang. Dia pasti mencari tahu kebenaran dari kejadian malam itu. Berarti dia ragu kalau Nisa yang menjebaknya.” Dara yang bicara sendiri menggebrak meja kerjanya.

__ADS_1


Ia yang over thinking meninggalkan kantor, padahal jam pulang masih lama. Ia melajukan mobilnya ke kontrakan Nisa.


Ia melihat keluarga Nisa mengangkut barang-barang dari dalam kontrakan ke atas mobil.


“Itu yang sewa kontrakan mau kemana Bu?” tanyanya pada salah satu tetangga Nisa.


“Kata orang-orang di sini, mereka mau pindah ke rumah baru yang dibelikan suaminya Nisa.”


“Oh, begitu toh. Mohon maaf sebelumnya, Ibu tahu alamat rumahnya dimana?”


“Kalau tidak salah ingat, kata tetangga yang lain lokasi rumah barunya itu di Jalan Mawar.”


Mood Dara jadi semakin kacau karena informasi yang diberikan ibu itu.


Tindakan Arka yang membelikan keluarga Nisa rumah, benar-benar melukai hatinya sebagai kekasih Arka selama beberapa tahun.


Ia yang terluka hebat kembali masuk ke dalam mobilnya. “Tega sekali kamu Arka,”


teriaknya di dalam kendaraan beroda empat miliknya.


Keesokan harinya di kantor.


“Akhir-akhir ini, saya perhatikan kamu banyak berubah yang,” ungkap Dara.


“Itu cuma perasaanmu saja. Saya tidak pernah berubah,” sahut Arka.


“Biasanya, kamu bilang-bilang dulu sebelum melakukan sesuatu. Sekarang, sudah tidak lagi.”


“Banyak, salah satunya... kamu tidak pernah cerita mau membeli rumah baru untuk keluarga Nisa.”


Arka melongo. “Darimana kamu tahu yang?”


“Kamu tidak usah tahu masalah itu, yang jelasnya saya sudah tahu kamu belikan rumah untuk keluarga Nisa.”


“Rumah itu bukan cuma-cuma sayang. Itu reward untuk Nisa. Karena agenda yang dia buat di hari ulang tahun perusahaan kita, income perusahaan naik drastis.”


Sebenarnya, Dara sangat emosi. Namun ia tetap berusaha mengontrol kalimatnya agar terdengar sopan di telinga Arka.


“Terus kenapa belinya yang dekat dari mansion kamu? Kan bisa kamu belikan rumah yang dekat dari kontrakan mereka saja. Sengaja ya biar bisa ketemu Nisa terus?”


“Bukan begitu sayang. Saya pilih yang dekat dari mansion, supaya tidak capek menyetir kalau mengantar Nisa menginap di rumah orang tuanya.”


“Satu lagi yang,” ucap Dara dengan ekspresi datar.


“Apa itu?” tanya Arka antusias.


“Kemarin waktu kamu cari tahu tentang Thira, pasti ada kaitannya dengan Nisa kan? Apa jangan-jangan kamu jatuh cinta ke Nisa setelah menidurinya malam itu.”

__ADS_1


“Kamu jangan sok tahu sayang! Saya meniduri Nisa malam itu kan karena efek obat perangsang yang Nisa masukkan ke makanan, bukan karena kemauan saya sendiri.”


“Kamu pasti pura-pura bilang begitu supaya saya percaya kalau kamu tidak nafsu ke Nisa. Padahal aslinya iya.”


Arka gelagapan beberapa detik. “Saya serius, saya tidak akan nafsu dengan Nisa kalau bukan karena efek obat perangsang itu.”


Dara mengelus dada tanda bersyukur.


“Baguslah kalau begitu. Saya tidak perlu khawatir lagi ditinggalkan kamu,” ucapnya lalu memeluk Arka.


Nisa yang berdiri di luar, membatalkan untuk masuk ke ruang kerja Arka.


Kopi dan kue yang telah ia buat khusus untuk Arka juga ia bawa kembali; kopi ke pantry dan kue ke ruang kerjanya.


Nisa bermonolog. “Kamu sendiri yang memulai perang ini kak. Tega sekali kamu bilang tidak nafsu ke saya, kalau bukan karena obat perangsang. Terima kasih banyak untuk hinaannya. Mulai sekarang, kamu tidak boleh menjamah tubuh saya.”


Ada gerimis yang tumpah di wajahnya. Padahal langit sedang cerah di luar.


“Jahat sekali. Badan saya dinikmati berkali-kali secara sadar, tapi mengaku ke Dara tidak akan nafsu.”


Nisa menghapus air matanya, sebelum meninggalkan pantry untuk ke ruang kerjanya.


“Makan brownies guys!” Nisa mengedarkan brownies buatannya ke sesama rekan kerjanya.


Dengan cekatan, Ratna menyambar sepotong kue. Tanpa menunggu lama, ia langsung melahapnya. “Wah, enak sekali. Siapa yang buat Sa?”


“Saya, Na.”


“Sering-sering buat begini Sa. Umm, enaknya.” Berhubung sepotong tadi sudah habis, Ratna mengambil satu potong lagi.


Doyan dia.


“Saya juga mau tambah,” sahut Thira.


Ratna cepat-cepat mendekatkan brownies itu ke manajernya. “Silakan Bu!”


Brownies ludes.


Nisa dan rekannya lanjut bekerja. Hingga tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 17:00.


“Ratna, masih naik bus?” tanya Nisa.


“Iya, kenapa Sa?”


“Ayo pulang sama-sama!”


“Sama-sama? Kamu tidak pulang bareng kak Arka?”

__ADS_1


“Tidak. Saya rindu naik bus sama kamu, Ra.” Nisa lalu terkekeh.


Ratna pun terkekeh. “Ada-ada saja kamu, Sa. Pakai gombal segala.”


__ADS_2