
“Mau apa Kak?” tanya Nisa. Jaraknya kini tak berbatas dari Arka.
Arka tak menjawab. Lingerie merah yang dikenakan Nisa membuat matanya jadi hijau. Segera, ia yang mabuk berat mengangkat paksa tubuh Nisa.
“Eh, saya tidak ulang tahun Kak. Jangan dikerjain,” pinta Nisa yang justru membuat Arka semakin terangsang karena mendengar suaranya.
“Kak Arka, ini tidak lucu sama sekali. Tolong turunkan saya sekarang,” imbuhnya.
Kali ini, Arka mengindahkan ucapan Nisa.
Ia benar-benar menurunkan Nisa yang tengah digendongnya. Tapi bukan di lantai, melainkan di atas ranjang yang membersamai mereka sejak resmi menjadi pasangan suami istri.
Arka kemudian menindih tubuh Nisa.
Tangannya mulai menyusuri gunung kembar milik perempuan yang ada di bawahnya itu.
Nisa membentak. “Kak Arka, stop! Jangan sentuh saya! Kakak jangan lupa, kita sudah menyepakati ini kemarin."
Meski dipaksa berhenti oleh Nisa, tangan Arka tetap bergerilya di gunung kembarnya. Ia yang berada di bawah tubuh Arka meronta-ronta. Hingga selimut yang tadinya terlipat rapi, jadi berantakan karena pergerakannya.
Keringat dingin mulai bercucuran di tubuh Nisa yang kaget sekaligus ketakutan atas perbuatan Arka saat ini.
Arka tak ingin berhenti.
Nisa terus memohon. “Kak Arka, saya minta maaf kalau ada salah. Tolong lepaskan saya! Saya janji akan jadi istri yang penurut setelah ini.”
Nisa yang terus berbicara, malah membuat Arka beralih fokus ke bibir merekahnya. Tanpa permisi, Arka langsung menikmatinya dengan sangat kasar.
Nisa melakukan perlawanan dengan memukul-mukul dada bidang Arka, tapi Arka tak kunjung berhenti menindih dan mencumbunya.
Terlalu kesal, Nisa beralih menendang. Akan tetapi, Arka tetap saja menggerayanginya.
Tak putus asa, Nisa menendang dua telur milik Arka. Yang berakhir membuat Arka justru makin birahi.
Arka yang dalam kendali obat memabukkan, menarik paksa lingerie yang dikenakan Nisa. Hingga Nisa kini polos dibuatnya.
Arka cepat-cepat membuka pakaiannya juga. Kesempatan itu Nisa gunakan untuk melarikan diri. Ia buru-buru turun dari ranjang.
Namun Arka yang baru saja membuang bajunya ke sembarang arah, menarik kaki Nisa. Lagi, Nisa kembali berada di bawah tubuhnya.
Arka makin liar, ia membuka paksa kunci paha Nisa. Saking takutnya, Nisa sampai meneteskan air mata dibuatnya.
__ADS_1
“Kak Arka, jangan lakukan ini! Sadarlah Kak! Saya Nisa, bukan kak Dara.” Nisa tak bosan-bosan memohon.
Ia bahkan mengutuk diri sendiri agar terlepas dari belenggu Arka. “Tubuh saya tidak enak Kak,” ucapnya.
Tak mengindahkan, Arka mengarahkan tongkat serbuk sarinya ke gerbang kepala putik milik Nisa.
Nisa yang benar-benar tak berdaya, menutup mata. Ia tak sanggup menyaksikan perlakuan bejat yang akan Arka lakukan padanya.
Sel kelamin jantan Arka kini merangsek masuk ke sel kelamin betina milik Nisa yang amat rapat. Ia lalu menghentakkan tongkatnya itu dengan kasar ke dalam.
“Arghhh,” teriak Nisa saat merasakan penderitaan yang amat karena hentakan Arka.
“Sakit kak Arka. Tolong hentikan!” lanjutnya.
Teramat sakit, air mata sampai mengalir di kedua sudut mata Nisa. Bukannya mengindahkan ucapan istrinya, Arka malah semakin brutal. Ia meluluh lantakkan milik istrinya itu tanpa ampun.
Lama kelamaan, jemari Nisa mencengkeram kuat ke tubuh Arka. Suara lenguhan pun berkali-kali terlontar dari mulutnya. “Arghhh...”
Penyatuan panjang itu telah memecah keperawanan Nisa dan keperjakaan Arka secara bersamaan.
Liang rahim Nisa yang tadinya sangat sempit, kini jadi sedikit longgar. Lubang itu juga dibanjiri semburan air benih Arka.
“Arghhh...” Arka mencabut tongkat estafetnya setelah tiga kali putaran. Ia yang amat puas berhenti melakukannya dan berakhir ambruk di samping Nisa.
Nisa benar-benar sudah tak bertenaga, bahkan sekadar bangkit dari tempat tidur untuk mematikan lampu tersebut pun ia tak kuasa.
Apalagi Arka yang dari awal memang sudah lupa diri.
***
Cahaya lampu yang silau, membangunkan Nisa dari tidurnya. Ia menatap ke samping, dilihatnya Arka tengah tidur di sebelahnya.
Suaminya itu tertidur dalam keadaan polos. Tak sehelai benang pun melekat di tubuhnya.
“Aww,” pekik Nisa yang merasakan sakit di bagian intinya. Meski begitu, ia tetap berusaha untuk duduk.
Spontan, ia melongo saat melihat ada bercak darah di sprei. Sakit kembali terasa di bagian intinya. Nisa memeriksanya untuk mencari tahu kenapa bisa begitu.
Rupanya, miliknya berdarah.
“Kenapa masih sakit dan berdarah ya? Bukannya kami sudah melakukannya malam itu? Kata orang, kalau sudah pernah, tidak akan sakit dan berdarah lagi. Kenapa saya masih mengalami semuanya? Mungkin harus berkali-kali ya,” monolog Nisa dalam hati.
__ADS_1
Jarum jam mendekati pukul lima.
Nisa bergegas turun dari ranjang. Miliknya terasa sangat sakit saat ia bergerak. Kalau saja Arka lebih lembut pada permainan semalam, mungkin bagian inti Nisa tidak akan robek separah itu.
Nisa tertatih-tatih ke kamar mandi.
Jika biasanya ia tiba di buth ub hanya dalam hitungan detik. Sekarang, jalur ke kamar mandi itu ia tempuh dalam hitungan menit.
Di dalam, Nisa membasuh miliknya yang robek dan membengkak.
“Arghh,” pekiknya saat air mengenai bagian inti tersebut.
Rasanya ternyata sangat perih. Seperti luka baru, yang ditetesi jeruk nipis. Ngilu sekali.
Terlalu pedih, Nisa memutuskan untuk mengobatinya pakai es batu.
“Perasaan dulu waktu di kantor rasanya tidak sakit begini,” pikirnya yang berjalan dengan lamban menuju lemari pendingin.
Es batu itu ia bawa ke kamar mandi. Air membeku itu mempan mengobati liang rahimnya yang terluka. Ia teringat lagi pada kejadian semalam.
Ia yang kesal, meremas rambutnya dengan kasar.
Selepas mengobati miliknya, Nisa membenamkan diri di dalam bath ub. Agak lama, ada sekitar tiga puluh menit.
Jika saja bukan karena mengingat waktu shalat subuh, ia yang merasa dirinya kotor pasti akan berendam lebih lama lagi di bath ub tersebut.
***
Seberes mandi junub dan berwudhu, Nisa meraih bath sheet. Ia pun keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Arka masih dengan kondisi sebelumnya.
Nisa membiarkannya seperti itu. Tak ada niat sedikit pun di hatinya untuk menutupi tubuh polos Arka dengan selimut.
Ia yang kini amat membenci Arka, lebih memilih langsung membawa raganya ke depan lemari untuk mengambil mukena dan sajadah.
Ia yang ingin menangis deras, keluar dari kamar. Ia akan shalat subuh di ruangan lain, yang jauh dari jangkauan telinga Arka.
“Ya Allah, Hamba lelah dengan semua ini. Hamba capek jadi istrinya kak Arka. Hamba mohon, jangan biarkan rahim ini mengandung anaknya,” pinta Nisa sambil menghapus tangisnya.
Selepas shalat, ia berdiri. Kemudian berjalan sambil menahan perihnya bagian intinya yang masih sangat terasa.
Karena tak mampu beraktivitas seperti biasanya, Nisa memutuskan untuk berbaring di sofa ruang keluarga. Ia enggan masuk ke kamar. Malas tidur di atas sprei yang ada noda darahnya.
__ADS_1
Sprei itu juga belum diganti, karena ada Arka yang masih terlelap di atasnya.