Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Usai Bertengkar Hebat


__ADS_3

“Siapa sebenarnya yang egois, saya atau kamu? Jangan lupa Nisa, kita menikah karena keegoisan kamu.”


“Egois bagaimana? Saya sendiri juga dijebak.”


“Stop membela diri terus! Dasar murahan. Jauh beda sama Dara yang berkelas.”


Untuk ke sekian kali, Arka sengaja menoreh luka di hati Nisa dengan membanding-bandingkannya dengan Dara.


“Berkelas? Berkelas darimana? Setahu saya, perempuan berkelas pasti merasa malu merampas milik orang lain.”


Arka mendekat ke arah Nisa. Kemudian menarik kuat rambut panjang istri yang dibencinya itu. “Perempuan tidak tahu diri, justru kamu yang merampas saya dari dia.”


“Justru kak Dara yang tidak tahu diri. Sudah tahu lelaki beristri, masih saja dipertahankan," tutur Nisa dengan kepala mendongak. Ya, Arka belum melepaskan tangannya dari rambut Nisa.


“Lebih baik kamu diam. Jangan bicarakan hal buruk apa pun lagi tentang Dara. Sebelum saya tambah marah dan merobek mulutmu ini,” tegur Arka sembari tangan kanannya mencengkeram bibir Nisa.


Nisa yang tadinya menatap Arka, kini hanya bisa memejamkan mata. Menahan perihnya tarikan Arka pada rambutnya, pun sakit pada bibirnya akibat cengkeraman Arka.


Sedikit iba, Arka melepaskan Nisa dengan hempasan yang kuat. Beruntung, tubuh Nisa mendarat di atas sofa. Kalau di lantai, tulangnya sudah pasti remuk berbenturan dengan ubin.


Tangis kini menghiasi pelupuk mata Nisa. “Pantas saja kalian saling suka. Ternyata karena memang sefrekuensi, sama-sama buruk. Kak Dara buruk karena murahan dan kamu buruk karena ringan tangan.”


Arka lebih naik pitam lagi. Ia mendekati Nisa yang tengah terisak. Bukan untuk menenangkan, melainkan mendaratkan tamparan keras pada pipi Nisa yang masih basah oleh air mata.


“Masih berani kamu bicara sembarangan tentang kami?” tanyanya.


Nisa menggeleng, tangisnya makin pecah. Ia jadi teringat suasana kontrakannya. Rindu sekali tinggal kembali di bangunan sederhana tersebut.


Baginya, tinggal di kontrakan yang sangat sederhana bersama keluarganya itu seperti surga, ia selalu gembira di sana. Sedangkan tinggal di mansion mewah luar biasa dengan Arka bagai neraka, seringkali ia merasa sengsara.


Nisa membeku di tempat. Ia masih tak menyangka, Arka ternyata begitu kejam. Tak hanya di ucapan, tapi juga di tindakan.


Beberapa saat kemudian, ia bangkit. Bersiap untuk kembali ke kamar. Namun Arka menghadang, tak memberi jalan padanya.


Arka mengangkat tangan di hadapan Nisa. Sepertinya, ia akan memberi tamparan lagi. Dengan cepat Nisa memalingkan wajah untuk menghindar.


Tak disangka, tangan kasar Arka justru menjelajah lembut di pipi Nisa. Mengelus bekas tamparan yang ia berikan dengan brutal tadi.


“Maaf, saya terbawa emosi.” Wajah penuh penyesalan Arka tampakkan. “Kamu boleh hina saya, asal jangan Dara. Saya tidak bisa mengontrol diri kalau dia dihina,” lanjutnya.

__ADS_1


Nisa mematung. Minta maaf dengan tulus sekalipun, ia tidak akan pernah bisa terima dengan perlakuan Arka barusan. Ia menepis tangan Arka dan pergi begitu saja ke kamar.


***


Tetiba, perut Arka keroncongan. Ia menuju dapur, barangkali ada sisa masakan Nisa di situ. Ia langsung memeriksa meja. “Aish tidak ada makanan,” keluhnya.


Ia beralih ke kamar, buru-buru mendekati Nisa yang tengah telentang dengan badan yang ditutupi selimut. “Nisa, saya tahu kamu marah. Tapi saya lapar, di dapur tidak ada makanan.”


“Bukannya tadi sudah makan malam sama kak Dara? Kenapa masih lapar?” balas Nisa. Masih di balik selimut. Suaranya terdengar parau.


Arka menyahut cepat. “Dara tidak enak hati makan malam di luar.”


“Tidak enak hati kenapa?”


“Karena kamu tidak saya ajak tadi. So, cepatlah bangun! Saya lapar.” Arka menarik selimut Nisa.


“Kalau lapar ya masak.” Nisa memainkan peran menjadi orang asing bagi Arka.


“Saya tidak bisa masak. Di rumah, selalu pembantu yang masak.” Suara keroncongan terdengar lagi dari perut Arka.


“Kalau begitu, bawa lagi kak Dara ke sini. Suruh dia masak buat kakak.”


“Kakak juga suka bicara seenaknya tanpa ngotak dulu. Terus kalau senang-senang sama kak Dara. Giliran kesusahan, datang ke saya. Kakak tidak malu apa suruh saya masak? Setelah penganiayaan yang kakak lakukan ke saya tadi.”


“Ya sudah, terserah kalau kamu tidak mau masak. Nanti saya adukan ke orang tuamu kalau saya jarang makan di rumah karena kamunya malas masak.”


Nisa duduk dengan cepat. Kemudian bertanya, “Mau dimasakkan apa?”


“Terserah kamu saja mau masak apa, yang penting matangnya agak cepat. Saya lapar sekali ini.”


Nisa menatap Arka dengan mata sembabnya. “Jangan sampai saya masak makanan yang tidak kakak suka.”


“Saya tidak pilih-pilih makanan. Apa pun saya suka, selama itu higenis dan halal pastinya.”


“Kalau mie goreng, bagaimana?”


“Boleh, kebetulan saya sudah lama tidak makan mie.”


Dengan langkah gontai, Nisa berjalan ke dapur. Ia mengawali dengan membuat bawang gorengnya terlebih dulu. Wangi tumisan bawang itu semakin membuat Arka yang menunggu di meja makan semakin lapar saja.

__ADS_1


Selanjutnya, memotong sayuran yang akan ia campurkan dengan mie. Terlalu tergesa-gesa, pisau sampai melukai jarinya. “Awww,” pekiknya.


Arka yang sedari tadi memperhatikan, melangkah cepat ke arah Nisa. “Kena pisau?” tanyanya.


“Iya.” Nisa pun menahan pendarahan di jari telunjuknya dengan menekan menggunakan ibu jari.


Melihat cairan merah keluar dari jari Nisa, Arka segera mengambilkan kotak P3K. “Sini cepat!” panggilnya yang bersiap mengobati Nisa.


Nisa mendekat, lalu mengulurkan tangannya yang berdarah. Dengan cekatan, Arka membalut jemari tersebut.


“Terima kasih,” ujar Nisa pelan.


Masih tidak menyangka Arka mau peduli padanya. Di balik sikap kasar suami jahatnya itu, ternyata masih tersimpan sedikit sisi kelembutan.


“Sama-sama,” sahut Arka. Juga dengan nada pelan.


Nisa kembali berdiri, akan melanjutkan kegiatannya yang tertunda karena kecelakaan kecil tadi. “Mau apa?” tanya Arka padanya yang mengarah ke dapur.


Nisa mengernyitkan alis usai mendengar pertanyaan itu. “Lanjut masak,” jawabnya.


“Masih bisa dengan tangan begitu?” tanya Arka yang dibalas Nisa dengan berdeham.


“Saya bantu ya,” lanjutnya yang tak tega.


“Tidak usah kak. Saya lebih suka masak sendiri, ribet kalau dibantu. Kakak duduk saja!”


Frying pan kini beradu dengan spatula. Membolak-balikkan bumbu, mie mentah, sayuran hijau, dan bahan lainnya di atas api.


Beberapa menit kemudian. Makanan ala kadarnya itu kini tersaji di hadapan Arka.


“Maaf, tanganmu jadi luka karena memasak untuk saya.”


Nisa tak menjawab dengan ucapan, ia hanya mengangguk.


“Mie goreng buatanmu enak sekali. Ini pertama kali saya makan masakanmu, tapi rasanya kayak familiar di lidah saya,” tutur Arka kala perutnya tak kosong lagi. Sudah diisi beberapa suap mie goreng buatan Nisa.


“Alhamdulillah kalau enak,” balas Nisa dengan sedikit tersenyum.


“Tapi bohong.”

__ADS_1


Ekspresi Nisa auto berubah. Kesal sekali rasanya, habis diangkat setinggi awan. Kini dibanting menyentuh tanah.


__ADS_2