
Dara semakin bersedu sedan. Mengingat, tadi malam ia telah menceritakan ke ibunya perihal foto prewed dengan Arka di Jepang.
Ibunya yang ingin sekali memiliki cucu, sangat bersemangat mendengarnya. Entah bagaimana reaksi ibunya nanti jika tahu ia batal menikah? Sementara pernikahannya dengan Arka adalah hal yang paling ibunya tunggu.
Kenapa Arka lebih memilih melakukannya dengan Nisa? Apa karena Arka berpikir Nisa pasti jauh lebih jenius di kasur dibandingkan dirinya?
Arghhh, otak ngebul.
Dara yang menunduk lesu, kini menatap nanar ke arah Arka yang berdiri di dekatnya. “Kenapa kamu selingkuh sama Nisa, yang? Apa yang kurang dari saya?”
Arka menarik paksa Dara ke pelukannya. Kepala Dara kini bersandar di dada bidangnya. Dapat ia rasakan dadanya basah karena air mata Dara.
“Kamu tidak ada kurangnya, sayang. Kamu cantik, baik, dan cerdik. Kamu sangat sempurna bagi saya.” Arka mengelus-elus pucuk kepala Dara.
“Kalau saya sempurna, kenapa kamu tega main serong dengan Nisa?” Dara mengubah posisi. Ia mendongak, menatap wajah yang selalu ia puja di hadapannya.
Arka lalu menempelkan kedua tangannya di kedua pipi Dara. “Saya tidak main serong dengan Nisa. Sumpah demi Allah. Kamu harus percaya saya.”
“Omonganmu tidak lebih valid dari adegan tadi, yang.”
“Kamu bicara begini karena lagi emosi. Makanya kamu duduk dulu ya. Kita bicarakan semuanya dengan kepala dingin.”
__ADS_1
“Maaf, saya belum bisa bicara dengan kepala dingin. Saya masih terlalu terpukul, tidak sanggup mendengar penjelasan kamu lagi.”
“Terus bagaimana kita selesaikan masalah ini kalau kamu tidak mau mendengar penjelasan saya, sayang? Cuma kamu satu-satunya perempuan di hati saya. Tidak mungkin saya mengkhianati perempuan sesempurna kamu karena Nisa yang tidak ada apa-apanya.”
“Tapi faktanya, kamu sudah mengkhianati saya. Kamu tertangkap basah tidur sama dia.”
Dara lalu berjalan tertatih-tatih menuju pintu.
Arka menyusul, menggenggam erat tangan Dara. Menyebabkan langkah wanitanya itu terhenti. “Kita harus segera menikah. Tolong lupakan yang terjadi hari ini. Kita mulai babak baru yang lebih baik dari sebelumnya.”
“Enak sekali bicaramu, yang. Setelah semua yang terjadi, kamu masih berani mengajak saya menikah? Memulai babak baru dari hasil perselingkuhan. Kamu anggap saya apa? Maaf, saya bukan perempuan cadangan, yang bisa kamu jadikan pengganti sewaktu-waktu saat kamu butuh.”
Dara yang enggan menerima tawaran untuk tetap melanjutkan pernikahan itu, melepaskan genggaman tangan Arka.
“Saya tidak mau tahu, itu urusan kamu. Tolong lepaskan saya.” Dara berontak dengan menyikut perut Arka.
“Biarkan saya menenangkan diri dulu. Masalah bisa memaafkan kamu atau tidak, saya pikir-pikir dulu.”
Dara kemudian berjalan sempoyongan menuju lift. Kali ini, tatapannya kosong, sekosong harapannya.
So, Arka is letting her goes for a while...
__ADS_1
Setelah itu, ia berbalik. Mendekatkan diri pada Nisa yang tengah terisak.
Arka tak merasa kasihan sama sekali melihatnya. Ia justru murka sekali. Jika saja membunuh manusia itu tidak berdosa, pasti sudah ia lenyapkan Nisa saat ini juga.
“Kenapa kamu menangis? Hah?” bentak Arka.
“Kenapa? Apa menangis pun saya tidak berhak? Dari tadi saya disudutkan terus, padahal saya juga tidak tahu apa-apa.” Nisa menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Dasar perempuan sialan. Sudah murahan, suka drama pula. Cih.”
Nisa berdiri, tangannya tidak lagi menutupi wajah. Hidungnya tampak memerah. “Drama? Bapak kira air mata saya ini air mata mainan?”
“Nisa, Nisa, orang lain bisa kamu tipu. Tapi tidak dengan saya. Jelaskan yang sebenarnya terjadi ke Dara. Dan saya janji, akan menuruti apa pun yang kamu minta. Asal Dara mau memaafkan saya.”
“Maksud Bapak apa?” Pikiran Nisa berkeliaran kemana-mana. Berpencar mencari jalan pikiran sang bos.
“Sebutkan saja berapa uang yang kamu butuhkan. Nanti saya transfer. Atau mau cash seperti waktu kamu pinjam uang ke Farel dulu? Kalau begitu, nanti saya kasih cek. Tinggal tulis jumlah uang yang kamu butuhkan.”
Nisa kebingungan untuk sesaat. Lalu berkata, “Sebenarnya apa maksud Bapak? Kenapa tiba-tiba bahas uang dan cek?”
“Kamu menjebak saya, terus minta tanggung jawab dinikahi, karena kamu butuh uang kan?”
__ADS_1
Nisa melongo, lantaran Arka kerap kali menuduhnya yang bukan-bukan.
“Astaghfirullah. Tidak mungkin saya melakukan itu, Pak.”