
Tiga hari telah berlalu sejak Arka memarahi Nisa. Meski terluka hebat tiap kali mengingatnya, Nisa masih terus bertahan untuk bekerja di kantor itu. Semua ia lakukan karena rasa cintanya yang amat besar terhadap keluarga.
Office girl masih sakit. Mau tak mau, Nisa menggantikan tugasnya. Pukul 9 nanti, akan diadakan meeting khusus antara atasan dengan para mitra. Dan Nisa ditugaskan Arka untuk menyiapkan konsumsi.
Masih ada waktu 1 jam bagi Nisa untuk menyiapkannya.
First, ia memesan snack box isian banana cake. Then, membeli air mineral yang berukuran sedang. Next, menatanya. Snack box dan air mineral itu ia letakkan secara berdampingan di atas meja.
Masih tersisa waktu sepuluh menit.
Nisa buru-buru ke pantry untuk membuat kopi. Melihatnya keteteran, Thira berniat untuk membantu.
“Tidak usah Ra, kamu duduk saja. Biar fresh nanti meetingnya,” tolak Nisa.
“Biar cepat, jangan sampai kamu dimarahi karena lambat menyiapkan kopi. Sini saya bantu!”
Selang beberapa menit, Thira dan Nisa berjalan berdampingan menuju ruang rapat. Mereka membawa beberapa cangkir kopi.
Satu per satu cangkir itu lalu diletakkan di depan peserta rapat.
Pemilik cangkir terakhir menatap wajah Nisa lekat-lekat. “Nisa,” tegur Maher.
Senior Nisa di organisasi Remus saat SMA. Lelaki gagah nan cerdas berusia 27 tahun, seangkatan dengan Arka. Posturnya tinggi, berkulit putih, dan memiliki mata yang sipit.
Nisa menoleh cepat, netra mereka bertemu. “Kak Maher?” Nisa sedikit terkejut.
“Lama tidak bertemu. Apa kabar?”
“Alhamdulillah, baik Kak.”
“Kamu bekerja di sini?”
“Iya, Kak.”
“Jadi office girl?”
“Bukan Kak. Saya staff di divisi regional.”
“Terus, kenapa kamu yang buat kopi?”
“Untuk sementara waktu, saya ditugaskan memanage konsumsi. Kalau office girl di kantor ini sudah sembuh, saya fokus di divisi saja.”
“Harusnya kantor menyiapkan office girl pengganti, bukan menyuruh staff. Kamu pasti repot mengurus konsumsi juga.”
“Biasa saja, Kak. Buat kopi juga cukup praktis, tidak memakan banyak waktu.”
__ADS_1
“Senyamanmu saja. Selesai meeting nanti kita makan bareng ya. Saya masih mau ngobrol banyak sama kamu dan Thira.”
“Tapi-”
“Tapi apa?”
“Saya tidak makan di cafe, Kak. Dari awal bekerja, saya selalu bawa bekal ke kantor. Demi hemat biaya Kak.” Nisa tertawa kecil.
“Sekali ini saja, Nisa. Jarang-jarang saya ke sini. Kapan lagi kita bisa makan bareng. Simpan saja bekalmu, saya traktir kamu dan Thira.” Maher menatap Thira, meminta persetujuan melalui bahasa tubuh.
“Terima kasih senior. Ikut saja Sa, kita take away sekalian. Mumpung dibayarkan kak Maher. Iya kan, Kak?”
“Iya, boleh deh. Apa yang tidak buat junior hebat seperti kalian?”
“Wah, terima kasih Kak. Chat saja Ra kalau meetingnya sudah selesai.”
“Siap bestie.”
Farel yang ditugaskan membawakan presentasi hari ini merasa kesal melihat kedekatan Nisa dengan Maher. Ia merasa cemburu, tanpa tahu apa yang sebenarnya Maher dan Nisa perbincangkan.
Pria lajang itu lalu berbicara dalam hati. “Jangan-jangan, Nisa cuek ke saya gara-gara pak Maher.”
Nita membuyarkan monolog Farel. “Woyyy, mata dikondisikan ngab. Jangan lari kemana-mana, fokus ke laptop. Buruan buka meetingnya. Lihat tuh, pak Arka melotot.”
Farel segera menengok sang sepupu. Ia membentuk lambang peace dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.
“Kiyowo apanya? Mukanya tolol begitu.”
“Hehe. Iya, jauh beda sama muka kamu yang super handsome.”
Tak lama setelahnya, perut Dara berbunyi. Dibukalah snack box yang terlihat cantik dari luar. Moga-moga isinya juga enak dan cantik bentuknya.
“Daebak,” pujinya. Banana cake lezat itu kini on the way ke mulutnya.
Tak lama, sepotong cake itu sudah habis ia lahap.
Arka menyodorkan snack box-nya. “Makan ini juga. Biar makin berisi,” pintanya kemudian kembali fokus memperhatikan Farel.
“Saranghae chagiya.” Untuk ke dua kalinya, Dara menikmati sepotong banana cake sambil menangkap setiap poin penting yang dipaparkan Farel.
Saking fokusnya, Dara tidak memperhatikan ada sisa cake di ujung bibirnya. Tak tinggal diam, Arka mengelapnya dengan tissue.
“Beruntung beut dah jadi bu Dara. Punya pacar perhatian kek pak Arka. Damn, bikin jealous aja nih mereka. Hiks,” batin Nita.
***
__ADS_1
Selepas rapat, Thira segera mengirimkan pesan ke Nisa. “Sa, kita ketemu di bawah ya.”
“Siap Ra!!”
Nisa pun meluncur ke lantai 3, tempat cafetaria. Rupanya, Thira dan Maher belum sampai di cafe kantor.
Ia kemudian membuka WhatsApp, membalas kotak masuk yang dikirim Thira. “Mau makan apa? Biar saya pesankan sekarang. Mumpung belum banyak yang antri.”
“Nisa tanya Kak, katanya kita mau pesan apa?”
“Saya mengikut ke kalian saja.”
“Terserah kamu Sa. Seragamkan saja menunya,” kirim Thira.
Seluruh peserta meeting menuju cafetaria...
“Soto Betawi tiga. Dragon fruit juice juga tiga, ya Mbak.”
Selang beberapa menit, Thira dan Maher tiba juga. Bersamaan dengan datangnya menu yang dipesan Nisa.
Namun, ketika mereka akan duduk di samping Nisa, Dara menghampiri. “Mari makan siang bersama kami di ruang VIP.”
Maher dan Thira mengangkat soto Betawi, juga dragon fruit juice-nya.
Maher menatap Nisa. “Ayo, kita makan di sana!”
Nisa langsung melirik ruangan luas yang dibatasi oleh kaca tembus pandang itu. Semua yang ada di dalam adalah atasan. Ia baru ngeh, ternyata itu ruang VIP. Pantas saja staff biasa sepertinya tak ada yang masuk ke situ.
Ia merasa malu. “Itu kan ruang VIP, Kak. Staff biasa seperti saya tidak boleh masuk.”
“Aigo, siapa bilang kamu tidak boleh masuk? Gaja! Kita ke dalam.” Dara menggenggam tangan Nisa.
Tak enak hati menolak permintaan Dara, Nisa turut serta ke dalam ruangan yang katanya VIP itu.
Thira, Maher, dan Nisa bercerita banyak hal tentang masa lalu mereka di SMA. Mulai dari deg-degannya jadi pembina apel. Sampai pengalaman bolos ke rumah teman saat guru tak masuk.
Semua dibahas
Mereka bertiga berbagi tawa satu sama lain. Seakan menciptakan kelompok di dalam kelompok. Tanpa menyadari, kehebohan mereka menjadi pusat perhatian beberapa orang.
“Dari gerak-geriknya, pak Maher pasti suka sama Nisa. Saya harus cepat-cepat menyatakan cinta ke Nisa. Jangan sampai ditikung pak Maher,” pikir Farel.
“Cemburu sih cemburu ngab. Tapi makananmu jangan dianggurin juga kali,” tegur Nita yang tengah menikmati nasi ulamnya.
Farel tetap mematung. Pandangannya tak bisa lari dari Nisa.
__ADS_1
Nita membatin kesal. “Gara-gara Nisa, hubungan saya dan Farel jadi asing begini. Awas saja kamu Nisa, cepat atau lambat kamu pasti saya singkirkan dari kantor ini.”
Arka ikut kesal. “Bodoh sekali anak ini. Jelas-jelas Nita suka sama dia, tapi dia justru kepincut sama Nisa. Mulut Nita memang ceplas-ceplos, tapi dia selalu ada di saat Farel kesusahan. Mata hatinya Farel mungkin sudah rusak, jadi tidak bisa membedakan antara perempuan yang berkualitas dan barang bekas. Kemarin-kemarin Farel, sekarang Maher lagi yang digaet. Wanita murahan,” monolognya dalam hati.