Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
After Honeymoon


__ADS_3

Sepekan berlalu...


Nisa dan Arka kembali ke Indonesia. Setelah delapan jam terlewati, tibalah mereka di negara tercinta.


Teramat lelah, pasangan suami istri ini tepar di atas bed. Besoknya, mereka menyambangi oma.


Arka menyerahkan sebuah totebag berisi oleh-oleh khas Jepang. “Untuk oma,” katanya.


Nisa juga menyodorkan plastik yang entah berisikan apa.


Arka tidak dapat melihat isinya karena plastiknya tidak transparan. Ia yang penasaran membatin. “Oleh-oleh apa yang Nisa kasih ke oma? Seingat saya, dia tidak beli apa-apa waktu di Jepang.”


Perhatian mereka membuat oma takjub, tapi tidak terlalu. “Oma sebenarnya tidak butuh oleh-oleh begini,” tuturnya.


“Maaf kalau oleh-oleh yang kami kasih kurang mewah oma,” balas Arka cepat.


Oma meraih tangan Arka, lalu menggenggamnya. “Bukan begitu maksud oma. Hadiah apa pun akan oma terima.”


Arka memasang ekspresi sedih. “Terus ucapan oma barusan? Oma seperti tidak suka dengan oleh-oleh yang kami kasih.”


“Terus terang saja, bukan hadiah seperti ini yang oma mau. Oma akan senang kalau kalian menghadiahi oma cucu.”


Mendengar itu, Arka mengambil segelas minuman yang disiapkan pembantu. Minuman itu diteguknya sampai habis.


“Doakan saja semoga kami cepat dikasih anak, oma.”


Oma kembali bertutur. “Tiap hari oma mendoakan kalian. Mungkin oma kurang rajin meminta cucu pada Allah.”


Ucapan oma membuat Arka merasa sangat bersalah, lantaran ia dan ayahnya telah sengaja menggugurkan kandungan Nisa.


Mereka banyak berdialog. Berhenti saat senja ikut berdialog di langit. Arka dan Nisa pun berpamitan sebelum kembali ke mansion.


Seusai mandi sore, Arka mengenakan piama couple yang dibelinya di Jepang beberapa hari yang lalu. Lanjut dengan berleha-leha di atas ranjang.


A few moments later...


“Pakai baju tidur yang saya belikan. Nanti kita foto bersama untuk dikirimkan ke oma dan mama,” pinta Arka pada Nisa yang masih memakai bath robes.


Alih-alih memakai baju tidur pemberian Arka, Nisa justru mengenakan daster bermotif bunga selutut.


Spontan, Arka yang melihatnya naik pitam dan angkat bicara. “Kenapa pakai daster? Kamu tidak dengar saya suruh pakai baju tidur?”

__ADS_1


“Bajunya tidak di saya lagi,” jawab Nisa. Tidak ada raut antusias sama sekali di parasnya.


Arka berkacak pinggang. “Bajunya kemana? Baru dibelikan sudah hilang. Ceroboh sekali.”


“Saya kasih ke oma tadi.”


“Hah? Yang di plastik hitam tadi itu baju tidur?” tanya Arka yang langsung dijawab Nisa dengan mengangguk.


“Perempuan tidak tahu diuntung. Sebenarnya, saya kasih piama itu karena kasihan lihat kamu pakai daster terus. Malah kamu kasih ke oma,” lanjutnya.


Nisa yang masih berdiri di depan Arka kembali menyahut. “Saya tahu kok. Selama ini, semua yang Kakak kasih itu atas dasar kasihan. Dan sekarang saya tidak akan membiarkan Kakak melakukannya lagi. Sudah cukup, saya tidak butuh belas kasihan Kakak.”


Nisa dan Arka masing-masing merasa paling benar. Akan tetapi, demi menjaga kewarasan bersama, keduanya menghentikan perdebatan itu.


Jadilah malam panjang itu mereka lalui dengan saling diam-diaman.


Bulan masuk, saat mentari keluar dari peraduan.


Nisa sudah siap. Ia menunggu Arka selesai mandi.


Saat menunggu, matanya tertuju pada sebuah kotak cincin yang terletak di dekat jas Arka. Penasaran, ia buru-buru membukanya. Sebelum Arka keluar dari kamar mandi.


Setelah itu, ia melirik cincin nikah yang melingkar di jari manisnya. Sungguh, tidak ada apa-apanya dibandingkan cincin di dalam kotak itu.


“Palingan juga untuk kak Dara,” batinnya penuh haru.


Semakin lama, ia jadi semakin sadar dengan posisinya.


Tersadar bahwa yang dimanjakan Arka selama ini hanyalah Dara, bukan ia. Buktinya, cincin yang ada di kotak tersebut jauh lebih cantik daripada cincin yang melingkar di jarinya.


Tak lama kemudian, Arka keluar dari kamar mandi. Ia beralih mengenakan blazer, cardinal panjang, dan sneakers mahal tentunya.


It’s time for going to the office.


Setibanya di ruangan khusus milik divisi regional, Nisa langsung disambut oleh undangan pesta ulang tahun milik Dara.


Bukan hanya dia saja yang diundang, semua staff di divisinya turut diundang.


Nisa membuka invitation card berwarna pink itu. Tertera bahwa pestanya dimulai pukul delapan malam. “Benar dugaan saya, cincin mahal itu pasti buat kak Dara,” pikirnya.


Daripada memikirkan nasibnya yang malang gegara suami tidak bertanggungjawab seperti Arka, Ditambah Dara yang tidak beradab, Nisa memutuskan untuk fokus mengerjakan laporan saja.

__ADS_1


Sebelum jemarinya bersentuhan dengan keyboard komputer, Nisa menyimpan dulu cincin pernikahannya ke dalam tas.


Setidaknya, perasaan sedihnya tidak membuncah jika berlama-lama melihat cincin malang itu. Ya, semalang dirinya yang menjadi istri terpaksa Arka.


Ia pun fokus membuat laporan arus kas. Spontan, ia melongo saat membaca jumlah kas yang masuk. Pendapatan divisinya di bulan ini jauh berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya.


“Ini valid kah?” tanyanya pada Thira.


“Valid lah Sa. Akhir-akhir ini pendapatan kita memang jauh lebih banyak. Semuanya berkat wawancaramu yang viral itu.”


“Padahal itu cuma wawancara biasa Ra. Saya tidak menyangka efeknya bisa segede ini.”


Sementara di lantai sepuluh.


Arka tersenyum saat memeriksa laporan neraca dari para manajer. Grafiknya melonjak tinggi, pertanda bahwa posisi keuangan perusahaan naik drastis.


Ia beralih mengecek laman social media milik perusahaannya. Langsung saja, ia membaca sebagian komentar teratas para konsumen.


“Sejak pakai cocoa butter lip, bibir saya sudah tidak pecah-pecah lagi.” Konsumen 1


“Bangga dengan salah satu staff di Naturalskin Indonesia yang viral itu. Dia mengharumkan nama perusahaan dan negara kita. Mbaknya cantik dan berhijab pula. Gara-gara Mbak, saya jadi penasaran mau coba produknya. Setelah saya coba, tomato sheet mask nya benar-benar bikin flek di muka saya perlahan menghilang.” Konsumen 2


“Sudah lama saya cari lipstik yang benar-benar tahan dipakai di luar rumah, tapi belum ketemu yang cocok. Saya lalu coba-coba pakai castor oil lip dan keterusan sampai sekarang. Terima kasih untuk lip stick luar biasanya Naturalskin Indonesia.” Konsumen 3


Arka jadi ketagihan membaca komen-komen berikutnya. Dan alhamdulillah, sembilan puluh satu persen komentar konsumen baik semua.


Kalaupun ada yang komen, paling di masalah pengantaran yang sedikit lebih lambat. Ada juga yang mengeluhkan packagenya rusak. Alhamdulillah isinya masih aman.


Tetiba, Arka teringat pada Nisa. Karena keviralan Nisa lah yang menyebabkan produknya bisa dikenal lebih banyak orang.


“Buatkan saya kopi.” Pesan itu Arka kirim ke WhatsApp Nisa.


Nisa menghentikan sejenak aktivitas membuat laporannya karena notifikasi chat masuk Arka terus berdering.


Dengan langkah pelan dan dengan perasaan tertekan, ia melangkah menuju pantry untuk membuatkan suami laknatnya itu kopi.


“Kayaknya seru nih kalau saya masukkan sianida ke kopinya kak Arka,” candanya yang amat kesal.


Tes rasa, gulanya sudah pas. Mood nya saja yang belum pas. Masih amat minus.


Arka, Arka. Jahat banget Anda.

__ADS_1


__ADS_2