
Perempuan yang mulutnya cukup tidak bisa diam bernama Ravelva tersebut bergegas mendaratkan punggungnya di atas sofa, tepat di samping Nita.
“Apa kabar anak mama?” tanya perempuan berusia senja namun masih sangat terlihat cantik itu.
Nita tersentak, kalimat pendek bu Ravelva barusan agak asing di telinganya. “Baik Tante,” balasnya ragu-ragu.
Sementara Farel, jantungnya serasa melompat ke ulu hati saat sang mama menyapa Nita dengan ‘anak mama’. “What? Kenapa mama panggil Nita begitu?”
Bu Ravelva memindai ekspresi wajah Nita dan Farel secara bergantian. “Kenapa melihat mama seperti itu? Kalian berdua kan memang anak mama.”
Ia lalu mengambil segelas minuman dingin yang dibuat bi Atun tadi. “Kamu sudah saya anggap sebagai anak sendiri,” lanjutnya setelah meneguk seperempat minuman tersebut seraya menatap Nita.
Perbincangan mereka berlangsung selama beberapa menit. Dan bi Atun yang ada di situ, ikut terseret dalam percakapan mereka.
Lama kelamaan, langit menguning. Matahari terbenam, pertanda hari mulai malam. Farel pun buru-buru mengantar Nita kembali ke kost adiknya.
“Kapan kamu balik ke Kalimantan?” tanya Farel di tengah perjalanan.
Nita menyahut cepat. “Besok.”
__ADS_1
Jika saja waktu dapat diulang. Farel ingin sekali bersama-sama terus, seperti waktu Nita masih bekerja di kantor Arka dulu.
Setelah memantapkan hati, Farel akhirnya memberanikan diri untuk meminta sesuatu pada perempuan yang duduk di sebelahnya itu. “Bagi alamatmu dong!”
“Buat apa?” tanya Nita cepat.
“Supaya saya bisa ke rumahmu kalau kamu menikah nanti dengan babangmu itu,” balas Farel tak kalah cepatnya.
“Kalau begitu kasih hadiah pernikahannya yang banyak ya.” Nita lalu terkekeh.
“Kalau saya yang menikahi kamu maharnya pasti banyak.” Farel turut terkekeh.
Tak lama setelah itu, Nita lalu mengetik dan mengirimkannya ke Farel. “Itu alamat saya,” tuturnya seraya berjalan dengan cepat menuju kamar kost adiknya.
Sementara Farel, ia memilih berlama-lama di tempat. Ia duduk sembari pandangannya terus tertuju pada punggung Nita yang kian lama kian menjauh darinya.
“Nita pantas bersanding dengan lelaki yang benar-benar menyayanginya. Tidak seperti kamu yang sudah menyia-nyiakannya Farel,” monolognya ketika menyetir pulang.
Sejak saat itu, waktu berlalu begitu lambat baginya. Meski begitu, ia tetap menjalankan tugasnya dengan baik di kantor.
__ADS_1
Hingga sebulan berlalu.
“Besok kita kunjungan ke mitra perusahaan kita yang ada di Kalimantan Timur,” pungkas Arka yang tahu betul suasana hati Farel saat ini.
“Berangkat sama siapa?”
“Tim yang dulu ke sana.” Tak sedetik pun Arka mengalihkan pandangannya dari Farel.
Netranya yang tajam ingin terus menangkap setiap ekspresi yang dilepaskan sepupunya itu saat ia membahas tentang daerah kelahiran Nita.
“Okay, kita ke Kalimantan untuk kedua kalinya. May I get out now?” tanya Farel dengan memasang air wajah datar.
Sejatinya, ia memang tak begitu senang untuk berkunjung ke pulau Borneo tersebut. Itu karena hati Nita yang ia taksir telah menjadi milik orang lain.
“Yup, of course. Sana kamu keluar, mau langsung pulang untuk siap-siap juga boleh.” Arka lanjut membalas email yang masuk ke laptopnya saat Farel melenggang keluar.
Benar saja, Farel langsung ke basement perusahaan. Dengan cekatan ia mengoperasikan mobilnya ke rumah. Kapan lagi kan ia bisa cepat pulang begitu.
Rupanya, bukan cuman Farel yang memanfaatkan momen itu untuk berleha-leha. Di saat yang sama, Thira dan yang lain juga menghidupkan mesin kendaraannya.
__ADS_1
Mereka semua pulang sebelum jam pulang. Pastinya untuk menyiapkan barang yang akan dipakai di Kalimantan nanti, dan mungkin juga memanfaatkan kesempatan itu untuk jalan-jalan sore setelahnya.