
Dahaga Nisa hilang, perasaannya juga sudah mulai tenang. Karena itu, ia memutuskan untuk kembali ke hotel.
“Dari mana saja kamu?” tanya Arka yang sedari tadi menunggunya.
“Dari luar,” jawab Nisa dengan ekspresi datar.
Arka yang kesal dengan jawaban Nisa, meninggikan suaranya. “Dari luar mana?”
Nisa menyahut cepat. “Jalan-jalan.”
“Ke mana?”
“Kemana pun itu, bukan urusan Kakak. Sejak kapan Kakak peduli dengan urusan saya?” balas Nisa yang turut kesal lantaran diberikan pertanyaan yang bertubi-tubi oleh Arka.
“Kamu tidak boleh keluar tanpa izin saya!” perintah Arka dengan penuh penekanan.
“Mau apa saya di sini kalau tidak keluar jalan-jalan? Toh, kita juga tidak melakukan bulan madu seperti suami istri pada umumnya. Daripada mendengar Kakak mesra-mesraan dengan kak Dara di telepon, lebih baik saya jalan-jalan sendiri di luar.”
Ritme bicara Arka jadi kian cepat. “Kalau kamu hilang atau terjadi apa-apa sama kamu, pasti saya yang disalahkan. Orang tua kita akan mencap saya tidak becus jadi suami.”
“Kenapa harus takut dicap tidak becus? Selama ini, Kakak memang tidak pernah becus jadi suami. Yang Kakak becus cuman jadi pacarnya kak Dara. Tidak usah khawatir saya akan hilang. Saya bukan anak kecil yang cuma bisa nangis kalau tersesat,” ucap Nisa lalu beranjak dari hadapan Arka.
Ia pergi mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat dzuhur setelahnya. Di dalam shalatnya, ia menangis sejadi-jadinya. Terlebih ketika mendengar Arka dan Dara telepon-teleponan mesra lagi.
Sementara di Indonesia.
“Semoga saja Nisa cepat hamil pulang dari Jepang nanti. Mama sudah tidak sabar mau punya cucu,” tutur bu Haifa saat makan siang di rumah.
“Bagaimana mau hamil? Menantu Mama malah fokus ikut kegiatan menanam pohon di sana.” Daniel tertawa saat menyodorkan gawai ke mamanya.
Wawancara Nisa di acara TV milik pemerintah Jepang, terlalu sering muncul di berbagai aplikasi. Sampai-sampai menjadi viral dan trending topic.
Bu Haifa melongo lalu bicara. “Anak ini, selalu saja bikin mama kagum.”
“Saya mau lihat juga,” sahut pak Pradipta yang duduk di sebelah istrinya.
Mata pak Pradipta kini memandang cuplikan wawancara Nisa yang beredar tersebut. “Kerja bagus Nisa. Kejadian ini pasti mengangkat nama baik perusahaan kita juga.”
“Hebat kan menantu kita Pa? Dia menyelam sambil minum air di Jepang. Bukan sekadar honeymoon, ternyata dia juga membranding perusahaan kita di sana.”
Pak Pradipta hanya mengangguk. Akan tetapi, ia bermonolog dalam hati. “Tidak sia-sia saya berubah pikiran. Buktinya, anak ini bikin saya bangga punya menantu sepertinya.”
“Daniel, ini kenapa tidak ada nomor Nisa?” tanya bu Haifa yang ingin melakukan video call.
__ADS_1
“Saya tidak punya nomornya Ma. Arka tidak pernah kasih nomornya. Dia pasti takut istrinya saya rebut,” sahut Daniel lalu tertawa. Sampai-sampai, giginya yang putih terpampang nyata.
Bu Haifa menoyor pelan kepala Daniel. “Anak ini,” ucapnya.
“Memang kenyataannya begitu Ma. Saya lebih tampan dari Arka. Makanya dia takut Nisa berpaling ke saya.” Daniel masih terkekeh.
“Ada-ada saja kamu ini. Kita video call dengan Arka saja.”
Di Jepang.
“Sayang, sudah dulu ya. Kak Daniel memanggil.” Arka buru-buru mematikan video call nya dengan Dara.
Layar ponsel Daniel kini dipenuhi wajah ayah dan ibunya. Suara mereka berdua membuat kamar Arka yang tadinya hening berubah menjadi bising.
“Mana menantu kesayangan mama?” tanya bu Haifa yang tak mendapati Nisa berada di samping Arka.
“Lagi shalat Ma,” balas Arka seraya mengarahkan layar gadgetnya pada Nisa yang tengah tenggelam dalam doanya.
“Nisa, cepat ke sini sayang! Mama mau bicara,” tambahnya setengah berteriak.
Nisa buru-buru menghapus air matanya dan mendekati Arka. “Apa kabar, sayang?” tanya bu Haifa penuh cinta padanya.
“Baik, Ma.”
Nisa membisu. Tidak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya, bahwa suaminya masih terus berhubungan dengan Dara.
“Dia pasti kurang tidur karena Arka minta jatah terus Ma,” celetuk Daniel dengan penuh senyuman.
“Maaf ya sayang. Kamu jadi kurang tidur.”
Arka yang berpura-pura mengecup jidat Nisa.
Dan terjadi lagi. Kisah lama yang terulang kembali. Nisa terluka lagi. Dari cinta rumit yang dia jalani. (Noah)
“Kita sudah nonton wawancara kamu yang viral,” ungkap bu Haifa dengan semangat empat lima nya.
Nisa mengerutkan dahi. “Wawancara viral? Wawancara apa Ma?” tanyanya.
“Yang disiarkan di TV Jepang. Waktu kamu ikut program tanam pohon itu.”
Ucapan bu Haifa otomatis memperbaiki mood Nisa. “Kok bisa viral ya? Padahal itu cuma wawancara biasa, Ma.”
Saking tidak menyangkanya, Nisa menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali.
__ADS_1
“Itu siaran khusus pemerintah. Jadi wajar saja kalau kamu viral. Pasti karena orang-orang di sini menganggap kamu telah mengharumkan negara kita.” Pak Pradipta menjelaskannya dengan sungguh-sungguh.
Perbincangan terus berlanjut selama lebih dari tiga puluh menit. Barulah mereka menghentikan panggilan via video tersebut.
“Bagus. Terus perlihatkan muka manismu di depan orang tua kita. Jangan sampai mereka tahu sifat saya yang sebenarnya bagaimana ke kamu.”
Nisa bergeming, sudah malas sekali untuk menyahuti ucapan Arka. Semakin Arka bicara semakin pula Nisa membenci suaminya tersebut.
Siang berganti sore...
“Cepat siap-siap!” perintah Arka pada Nisa yang baru saja selesai melaksanakan shalat ashar.
“Siap-siap apa?”
“Jalan-jalan sore.”
“Pergi sendiri saja! Saya mau di sini saja. Malas keluar-keluar.” Nisa masih setia berbaring di atas tempat tidur.
“Kamu harus ikut. Jangan sampai ada yang menelepon tiba-tiba dan menanyakan kamu. Saya mau bilang apa nanti?”
“Bilang saja saya malas ikut.”
Arka menatap tajam ke arah Nisa. Lalu berkata, “Tidak mau. Nanti ketahuan kalau kita tidak kompak.”
“Memang benar kan kita tidak kompak? Kakak kompaknya cuman sama kak Dara. Kakak tidak capek apa berpura-pura terus? Saya yang kadang-kadang bohong saja mulai merasa capek Kak.” Netra Nisa tampak sendu.
“Cepat pakai jilbabmu! Kamu tidak mau kan kembali ke Indonesia dengan keadaan telah saya apa-apakan?” ancam Arka dengan memasang wajah mesum.
Secepat kilat, Nisa memakai dress dan penutup kepalanya.
Planning teratur Arka pun terwujud. Ia mengajak Nisa ke toko terdekat. Layaknya sepasang pengantin, Arka membeli piama couple.
“Ini untuk kita pakai kalau mama dan papa nginap di rumah,” ujarnya pada Nisa.
Dan masih banyak lagi yang Arka beli. Sampai Nisa turut membawakan barang belanjaannya. Puas berbelanja, mereka kembali ke hotel.
Malam tiba.
Perasaan bersalah, sekaligus nafsu (sembilan puluh tujuh persen bersalah, tiga persen nafsu) menyebabkan Arka memeluk Nisa.
Alih-alih membalas, Nisa justru berbalik membelakanginya. Gerimis pun menggelinding di pipinya. Ia terus seperti itu dan berhenti sendiri karena ketiduran.
Arka yang terlanjur nyaman, meneruskan dekapannya. Ia masih berani menyentuh Nisa. Toh, memeluk tidak ada bekasnya seperti ciuman.
__ADS_1
Ia tidak akan ketahuan Dara telah memeluk Nisa selama berjam-jam. Dari malam sampai subuh.