Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Ceraikanlah Saja Cintaku


__ADS_3

Ketika tiba di kontrakan, Nisa langsung memberikan obat itu ke Arka.


“Terima kasih ya Nisa. Kamu selalu ada saat saya sakit,” ucap Arka dengan mata berbinar.


“Tidak usah berterima kasih Kak. Sudah kewajiban saya sebagai seorang istri untuk melayani dan menyenangkan Kakak."


“Nisa baik sekali, padahal saya sering kasar ke dia. Kejadian malam itu... dia pasti dijebak. Saya harus secepatnya temukan pelakunya. Setidaknya, menemukan pelakunya bisa mengurangi perasaan bersalah saya. Selama ini saya salah paham ke Nisa,” batin Arka.


Nisa lalu mengurut kening Arka sambil membaca shalawat. Indahnya lantunan shalawatnya yang merdu, sampai membuat Arka mengantuk. Tak lama, Arka tertidur di pangkuan Nisa.


Beberapa menit kemudian, ponsel Arka berdering. Takut suaminya yang baru saja tidur terbangun, Nisa mengambil telepon genggam tersebut.


Saat melihat layarnya, yang muncul di depan adalah nama Dara. Nisa buru-buru mematikan panggilan itu. Eitsss, ia menyadari sesuatu. Ternyata gadgetnya Arka sudah tidak pakai sandi lagi.


“Kak Arka tidak bisa dihubungi sekarang, kak. Dia lagi sakit,” kirim Nisa ke WhatsApp Dara.


Dara yang berpikiran macam-macam, membalas cepat. “Coba fotokan!”


What’s to be done? Nisa memotret Arka yang sedang tertidur di pangkuannya. Hasilnya itu dikirim lagi ke Dara.


“Harusnya saya yang temani Arka saat dia sakit. Ya Allah, kenapa Engkau nikahkan orang yang paling hamba cintai dengan perempuan lain? Hamba tidak sanggup berbagi terus seperti ini.” Dara terisak.


Perasaannya kacau. Namun, sebisa mungkin ia belajar untuk menghadapi masalah dengan kepala dingin.


“Kalian dimana sekarang?” tanya Dara yang tak yakin bahwa Nisa dan Arka ada di mansion.


“Di kontrakan saya Kak,” balas Nisa. Meski kesal pada Dara, ia terus berusaha untuk rendah hati.


“Share location kontrakanmu. Saya mau ke situ sekarang.”


Nisa sebenarnya tidak suka kalau Dara datang, tapi ia juga takut kalau masalah itu bisa bikin Dara marah dan melaporkannya ke Arka. Alhasil, ia membagikan location-nya saat ini.


Alamat sudah Dara deteksi. Ia bergegas melajukan mobilnya ke kontrakan Nisa. Sebuah kontrakan di lingkungan yang belum pernah ia kunjungi sama sekali sebelumnya.


“Assalamu ‘alaykum,” tuturnya sembari mengetuk pintu dari luar.


Berhubung bu Faridah sibuk menyiapkan sarapan di dapur, pak Nugroho lah yang mengambil alih untuk membukakan pintu.


“Cari siapa?” tanyanya pada perempuan yang berpenampilan sempurna di hadapannya.


“Saya mau jenguk pak Arka, Om.”


Pak Nugroho menatap tajam. “Kamu siapanya Arka?”

__ADS_1


“Saya bawahannya di kantor, Om.”


“Kenapa malah ke sini pagi-pagi? Seharusnya kamu ke kantor, kerja!”


“Saya diminta pak Arka untuk ke sini, Om. Katanya ada hal penting yang akan ia tugaskan ke saya.” Dara berpura-pura.


“Arka ada di kamar belakang,” tutur pak Nugroho yang enggan mengantar Dara masuk.


Langkah demi langkah Dara injakkan di atas lantai menuju kamar yang pak Nugroho maksud. Ia mendongak ke dalam.


Nisa memberi isyarat untuk diam, dengan meletakkan telunjuk kanannya di depan hidung.


Apalah daya, Dara yang terlalu khawatir memutuskan untuk berkhianat pada perintah Nisa. “Apa kabar sayang?” tanyanya sambil membelai rambut Arka.


Arka membuka mata. Menyadari kehadiran Dara, Arka memindahkan kepalanya dari pangkuan Nisa. “Sudah baikan. Kamu datang sama siapa?”


“Sendiri, sayang. Kamu sudah makan belum?”


“Belum.”


Dara lalu mengeluarkan seporsi bubur ayam dari tasnya. “Ayo makan sayang!” Ia menyodorkan sesendok bubur tersebut ke mulut Arka.


Nisa sebenarnya ingin sekali keluar. Tapi kalau ia keluar, Dara dan Arka akan berdua saja di kamar. Bapaknya bisa curiga dengan hubungan mereka.


Willy nilly, ia jadi obat nyamuk di kamarnya sendiri.


Bu Faridah belum pulang dari akikahan si Bambang. Dara si cantik manis jelita putri, pamit pulang. Adapun Arka yang sudah sembuh, ikut pak Nugroho pergi sembahyang.


“Kak Nisa...” seru Kanza.


“Iya, kenapa?”


“Saya tidak suka kakak yang tadi dekat-dekat dengan kak Arka.” Kanza menyelidiki perasaan kakaknya dengan memperhatikan air mukanya. “Kakak pasti menyembunyikan sesuatu kan?” imbuhnya.


“Iya, ada. Tapi kamu janji dulu tidak akan menceritakan ini ke mama dan bapak!” pinta Nisa.


“Janji, Kak. Cerewet-cerewet begini, saya amanah kalau menyimpan rahasia yang penting sekali.”


Nisa mulai bercerita. Hanya dengan begitu, ia bisa melepaskan semua beban pikiran yang ditanggungnya sendiri selama ini.


“Perempuan tadi pacarnya kak Arka. Mereka sudah lama pacaran, dari kelas tiga SMA dulu.”


“Hah? Kenapa kak Arka lamar Kakak kalau dia ternyata sudah punya pacar?” Kanza menggaruk kepala.

__ADS_1


“Saya dinikahi kak Arka itu karena terpaksa. Karena ada orang jahat yang menjebak kami. Kalau bukan karena itu, kak Arka mana mau menikahi saya.” Teramat sakit, Nisa meneteskan air mata.


“Kakak minta cerai saja!” usul Kanza.


“Saya belum siap, Dek. Takut diomongin tetangga, kasihan juga mama dan bapak. Mereka pasti ikut dihujat kalau saya cerai dengan kak Arka.” Air mata kembali berjatuhan di pipi Nisa.


Kanza ikut meneteskan air mata melihat kakaknya seperti itu. Keduanya kini dirundung kesedihan.


“Assalamu ‘alaykum,” tutur pak Nugroho dari luar kontrakan.


“Wa ‘alaykumussalam warahmatullah Pak,” jawab Kanza yang suaranya tak separau suara Nisa.


Keduanya buru-buru mengambil tisu untuk menghilangkan jejak kesedihan di wajahnya.


“Ingat, jangan bilang-bilang ya Dek!” pinta Nisa bersungguh-sungguh.


“In Syaa Allah, amanah Kak.”


Malam tiba.


“Kami pamit dulu. Pekan depan kami ke sini lagi,” ujar Arka.


Pak Nugroho merespon. “Sebelum kamu pulang, saya mau kasih saran dulu.”


“Apa itu Pak?”


“Saya tahu kamu bos di kantor, pasti tidak bisa lepas dari berinteraksi dengan bawahan. Saya cuma mau mengingatkan, sebaiknya kamu lebih menjaga jarak dari karyawan perempuan. Jangan sampai kebablasan seperti bawahanmu yang datang tadi.”


“Iya, Pak.”


Nisa dan Arka kini berada di dalam mobil.


“Temani saya lembur di kantor!” titah Arka.


“Kakak lemburnya sama kak Dara saja. Saya mau pulang ke mansion soalnya.”


“Jangan begitu! Bahaya kalau kamu di mansion sendirian malam-malam begini.”


“Saya tidak sendiri, ada meow putih yang setia menemani saya. Daripada saya ke kantor cuman untuk jadi obat nyamuk kalian.”


Arka meninggikan suara. “Dara lagi, Dara lagi. Pembahasanmu selalu saja tentang Dara.”


“Kalau tidak mau kak Dara dibahas, ya jangan biarkan dia ada di tengah-tengah kita. Saya capek begini terus Kak. Rumah tangga kita tidak ada titik terangnya sama sekali. Saya muak menjalani hubungan yang tidak bisa memperjuangkan satu sama lain seperti kita.”

__ADS_1


“Saya tidak akan menceraikan kamu kalau usia pernikahan kita belum sampai dua tahun.”


“Saya kira kak Arka akan bilang tidak mau bercerai karena dia mencintai saya. Ternyata dia masih seperti sebelumnya, melakukan semuanya demi nama baik perusahaan. Berarti yang kemarin malam itu cuman mimpi,” batin Nisa sambil mengintip bintang di langit. Dari balik kaca jendela mobilnya Arka.


__ADS_2