Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Tamu Awet


__ADS_3

Jarum jam menunjukkan pukul 17.00. Nisa bergegas menuju lobby. Arka belum di situ, jadi ia memutuskan untuk duduk di kursi tunggu.


Sepuluh menit berlalu, Arka tak kunjung menghampirinya. Nisa lalu menuju basement, diliriknya tempat Arka memarkirkan mobil tadi pagi. Ia hanya bisa mengelus dada kala mobil Arka tak lagi di tempat.


Pantas saja Arka tak mendatanginya. Rupanya, lelaki yang sudah berstatus sebagai suaminya itu telah pulang duluan. Tanpa memberi kabar padanya sama sekali.


Seperti saat masih single, ia akan pulang dengan naik kendaraan umum saja. Beruntung ada bus yang menepi sebelum tiba waktu magrib.


Nisa buru-buru naik. Wangi bus itu tidak pernah berubah; aroma parfum dan keringat penumpang lain berpadu di situ.


Perjalanan pulang yang Nisa tempuh dengan bus terasa begitu cepat sore ini; tak seperti biasanya yang berasa sangat lama.


Mungkin karena pulangnya ke mansion Arka. Bukannya untuk istirahat tenang setelah pulang, malah makin tegang karena Arka.


Bagaimana tidak? Selalu saja ada kata-kata tidak mengenakkan yang Arka keluarkan untuk menyerang mentalnya.


Nisa menyerahkan uang kertas ke kernet, sebelum turun.


Di langit sana, matahari perlahan terbenam. Menemani Nisa yang menapakkan langkah demi langkah menuju mansion Arka.


Entah hal buruk apa lagi yang akan Arka suguhkan padanya yang telah amat lelah seharian bekerja.


Setibanya di mansion, pandangan Nisa tertuju pada garasi. Mobil Arka terparkir rapi di sana. Tega sekali ia pulang duluan tanpa Nisa. Padahal mereka tinggal seatap sekarang.


Dan ternyata...


Kali ini Arka menghadirkan Adara Pramudita di mansion mereka. Pantas saja ia lupa pada istri sendiri. Ternyata karena ada pawangnya yang mendampingi.


“Hi Nisa! Sudah pulang?” tanya Dara sembari memperlihatkan geligi ke arahnya.


“Iya kak. Cuman pak Udin dan satpam lain yang tidak pulang,” balas Nisa menohok seraya unjuk gigi.


Baru saja Nisa mau duduk.


Arka si suami laknat mengeluarkan perintah


dengan cepat. “Buat minuman yang segar-segar dulu! Dua porsi ya,” ujarnya.


Nisa terpaksa berjalan ke dapur. Cus membuka kulkas dengan perasaan malas. Beruntung kulkas Arka berisi banyak bahan makanan, setidaknya Nisa lebih lega mau buat minuman segar karena bahannya serba ada.


Nisa kemudian mengeluarkan beberapa buah yang ada. Memotongnya dengan bentuk dadu. Ia lalu mencampurkannya dengan susu, sirup, juga air. Terakhir, menambahkan beberapa buah ice cube.


Dua porsi ia buat di gelas. Seporsi lagi ia buat di mangkuk besar. Dibawanya tiga porsi minuman dingin itu ke ruang tengah.

__ADS_1


Diletakkannya dua gelas sup buah ala-alanya di meja. Tepat di hadapan Arka dan Dara yang tengah menonton ria.


“Kenapa bagian kamu lebih banyak?” tegur Arka saat melihat mangkuk di tangan Nisa.


“Kalau mau banyak, buat sendiri Kak.” Nisa yang enggan menjadi obat nyamuk, berjalan cepat ke kamar.


Then, buru-buru menghabiskan sup buah itu sebelum mandi sore. Ia pun tertawa saat meletakkan mangkuk yang isinya telah ia transfer ke perut.


“Makan tu sup buah kelewat manis buatan saya. Siapa suruh jadi orang jahat. Dipikirnya saya tidak punya emosi apa,” ujarnya sebelum masuk ke kamar mandi.


Selepas mandi. Nisa mengambil bekas mangkuk tadi. Kemudian ke ruang tengah, untuk mengambil loyang dan bekas minum Arka dan Dara.


“Sup buah buatanmu terlalu manis. Kamu sengaja ya mau buat saya diabetes?” Arka menatap curiga.


“Santai saja Kak! Bibir kak Dara juga terlalu manis. Tapi sampai sekarang, kakak tidak diabetes tuh.” Nisa tertawa kecil, ia main aman.


Arka jadi bingung dalam bersikap. Ucapan Nisa sangat ambigu baginya. Dibilang menghina, tapi memuji Dara. Dibilang memuji, tapi kok kayak menyindirnya?


Bodo amat, Arka membiarkan momen ambigu itu berlalu begitu saja. Fokusnya kini kembali ke Dara. Sedangkan Nisa, ia bergegas ke dapur.


Dapat ia dengar suara tertawa dua makhluk di ruang tengah tersebut. Kesal, ingin rasanya Nisa membunuh. Satu atau semua nyamuk yang menggigitnya saat mencuci piring.


Sesakit apa pun hati kita karena ucapan atau tindakan seseorang. Menghilangkan nyawanya sama sekali bukan solusi dari menghilangkan rasa sakit itu.


“Mau makan apa?” tanya Nisa setelah do the dishes.


“Masak untuk kamu saja. Saya sama Dara makan malam di luar,” ucap Arka lalu meraih kunci mobilnya.


“Baik, hati-hati di jalan!” Nisa tersenyum pahit.


“Nisa tidak ikut?” tanya Dara pada Arka.


“Buat apa dia ikut? Mengganggu suasana saja.”


“Dia pasti lapar, yang.”


“Ada banyak makanan di kulkas. Kalau dia lapar tinggal masak. So, dia tidak akan mati kelaparan karena tidak kita ajak makan malam bersama.”


“Nisa, kami duluan ya. Terima kasih untuk sup buahnya,” tutur Dara sebelum keluar.


Nisa mengangguk pelan.


Adzan telah dikumandangkan, saatnya ia mengadukan kesedihan lewat shalat magrib.

__ADS_1


Benar saja, bulir-bulir bening bertumpahan di atas sajadahnya. Tetiba, seperti ada yang mencakar di luar saat ia berdoa.


Jangan-jangan... mansion itu angker.


Ia memberanikan diri mengecek sumber suara itu, sambil membaca ayat-ayat Allah sebagai perlindungan diri dari gangguan makhluk tak kasat mata.


Owwww, hati Nisa meleleh kala membuka tirai. Ternyata yang mencakar-cakar adalah si meow putih yang gembul.


Dengan senang hati, Nisa membiarkan kucing itu masuk. Mulai malam ini, kucing itu akan menjadi hewan peliharaannya.


Tepat pada pukul delapan malam, Arka


kembali ke rumah. “Kenapa ada kucing di sini?” bentaknya pada Nisa.


“Saya mau pelihara kucing ini.”


“Tidak bisa. Keluarkan kucing ini sekarang juga! Saya tidak suka ada kucing di mansion ini.”


“Saya juga tidak suka kak Dara ke sini. Tapi saya tidak pernah mengeluarkannya. Kalau Dara boleh masuk sini, kucing ini juga.”


“Jangan bawa-bawa nama Dara terus!” teriak Arka. Ada kilatan di netranya saat marah.


“Kalau tidak mau kak Dara dibahas, jangan bawa dia ke rumah ini!” balas Nisa.


“Mansion ini punya saya. Siapa yang boleh masuk dan siapa yang tidak, itu terserah saya. Ingat ya, kamu cuma numpang di sini.”


“Kamu boleh mesra-mesraan dengan kak Dara di kantor. Tapi tidak di mansion ini. Kamu jangan bawa dia lagi!”


“Kamu pikir kamu siapa, hah? Dasar perempuan tidak bermutu. Tidak tahu malu sekali.”


“Ini demi kebaikan kamu juga, Kak.”


“Kebaikan saya atau kebaikan kamu saja? Cihhh, egois.”


Bukannya menjawab, Nisa malah ikut melemparkan pertanyaan. “Orang tua kita bisa datang kapan saja ke sini. Bagaimana kalau kedatangan Dara bertepatan dengan kedatangan mereka?”


“Orang tua saya kenal baik dengan Dara. Mereka akan memaklumi kalau Dara masih menemui saya.”


“Tapi bagaimana dengan orang tua saya kak? Perasaan mereka pasti hancur melihat kamu bermesraan dengan Dara di sini.”


“Saya tidak mau tahu, itu urusan kamu. Ingat, saya menikahi kamu karena terpaksa. Jadi stop menuntut banyak hal dari saya.”


“Kamu egois kak.”

__ADS_1


__ADS_2