Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Ospek


__ADS_3

Sehari sudah Arka terjangkit batuk. Nisa sudah memberikan ramuan alami padanya, tapi tubuhnya tak menggubris. Tak ada cara lain, suami Nisa itu harus mengonsumsi obat kimia jika ingin sehat seperti sediakala.


“Kak, bisa minta nomor HP kak Daniel?” tanya Nisa.


“Buat apa?” Arka menatap curiga.


“Saya mau minta tolong.”


“Kenapa harus ke Daniel? Kenapa tidak minta tolong ke keluargamu saja?”


“Kanza pergi sekolah. Mama jaga bapak di kontrakan. Habisnya tempat tinggal kita jauh dari rumah warga. Coba dekat, apa-apa pasti saya urus sendiri. Tanpa perlu minta bantuan orang lain.”


“Okay, saya kasih kamu nomor Daniel. Asal alasanmu minta nomornya masuk akal.”


Nisa mengungkap alasannya dengan cepat. “Mau minta tolong dibelikan obat.”


“Obat? Kamu sakit apa?”


“Obatnya bukan untuk saya. Yang sakit kan Kakak.”


“Oh, untuk saya to? Saya tidak sembarangan makan obat. Obat mahal pun banyak yang tidak cocok di saya.”


“Saya tahu kok obat yang cocok untuk Kakak. Mixagrip flu dan batuk kan?” Nisa keceplosan.


“Darimana kamu tahu?” tanya Arka. Jawaban Nisa membawa pikirannya kembali pada salah satu kejadian tak terlupakan dalam hidupnya.


“Nebak, Kak. Tebakan saya benar?”


“Iya, benar.” Arka diam beberapa saat. “Tidak mungkin juga itu kamu,” imbuhnya setengah berbisik.


“Hah?” Nisa mendekatkan telinganya ke mulut Arka.


“Tidak ada apa-apa, itu cuma masa lalu. Anyway, untuk masalah obat, biar saya saja yang hubungi Daniel. Bahaya kalau nomormu diambil dia, bisa-bisa kamu diganggu terus. Daniel, lihat yang bening sedikit saja jiwa liarnya meronta-ronta.”


Flashback ke masa lalu


Arka, sebagai sosok ketua OSIS, memeriksa satu per satu pansus yang ada. Saat ini, ia berada di ruangan pansus kemuning.


“Kamu kayak kurang semangat hari ini,” tegur Maher. Ia adalah panitia ospek yang diangkat menjadi ketua di pansus kemuning.


“Saya kurang enak badan. Adek-adek pansusmu bermutu, atributnya lengkap semua. Pertahankan!!” Arka pun keluar.


Berjalan ke ruangan pansus lain.


Nisa dan teman sepansusnya yang perempuan, mengekor kepergian Arka. Mereka kembali fokus ke depan, hanya setelah Arka tak terlihat lagi di pelupuk matanya.


“Besok pemberian hadiah ke panitia. Silakan siapkan hadiah untuk panitia yang kalian suka. Satu orang harus bawa minimal dua hadiah,” titah Maher sebelum pulang.

__ADS_1


Sepulangnya dari sekolah, Nisa menyiapkan kado ala kadarnya. Tak banyak, hanya beberapa. Cuman untuk panitia di pansusnya.


Tiba-tiba, terlintas hal sangat konyol di benak Nisa saat teringat pada kejadian di ruangan tadi. Ia iseng membeli Mixagrip, memasukkannya ke dalam kado, untuk diberikan ke Arka besok.


Besoknya...


Sosok yang telah lama para junior cewek nantikan, pagi ini memasuki satu per satu pansus. “Kalau ada yang mau kasih hadiah ke saya, silakan bawa ke depan sekarang,” ujar Arka.


Teman pansus Nisa berlomba-lomba maju ke depan untuk menyerahkan kadonya. Nisa juga, ia maju untuk memberikan kado yang isinya Mixagrip.


“Masih sakit?” tanya Maher pada Arka yang kelihatan lesu.


“Iya, belum dapat obat yang cocok. Silakan ambil alih kembali.” Arka menepuk pundak Maher sebelum keluar membawa plastik besar yang hampir dipenuhi kado.


Sosoknya yang cerdas, tegas, tampan, dan hartawan, memang sangat diidolakan di sekolah itu. So, wajar jika ia mendapat kado yang menumpuk.


Siangnya...


Arka masuk lagi ke tiap ruangan. Reaksi ciwit-ciwit tak berubah sama sekali. Mereka sungguh fokus menatap Arka yang sedang menjelaskan tentang rencana ramah tamah nanti.


“Kamu kelihatan lebih sehat,” tegur Maher lagi setelah Arka selesai menjelaskan.


“Iya, sudah minum obat. Ada yang kasih kado Mixagrip tadi. Langsung saya minum, ternyata obatnya mempan.”


Nisa tersenyum mendengarnya. Ia tak menyangka, idenya yang naif itu ternyata bermanfaat untuk orang lain. Lebih tepatnya, untuk orang yang ia cintai dalam diam.


Sudah banyak sekali panitia dan siswa baru berkumpul di aula sekolah. Mereka sisa menunggu bus datang untuk cus ke pantai yang telah ditetapkan sebagai tempat pengakraban diri.


Two hours later...


Sesampainya di pantai, Nisa dan Thira duduk berdampingan. Menyaksikan suasana sekitar yang begitu ramai. Ya, mereka memutuskan untuk tidak mandi seperti orang kebanyakan.


“Senyum kak Maher manis ya Sa?” tanya Thira.


“Iya,” jawab Nisa seadanya.


“Ayo foto bareng kak Maher!” Thira menarik Nisa mendekat ke seniornya tersebut.


“Kamu saja Ra, saya malas.”


Thira menghampiri Maher. “Boleh minta foto Kak?” tanyanya pada lelaki bermata sipit itu.


Maher menarik ke dua sudut bibirnya. “Boleh.”


Thira menyerahkan gawainya ke Nisa. Ia juga meminta Nisa mundur agak jauh saat memotretnya. Yup, foto seluruh badan.


Beberapa gaya Thira yang gorgeous telah diabadikan. Ia pun mengembalikan gadget teman pansusnya itu.

__ADS_1


“Giliran kamu,” ucap Maher pada Nisa.


Nisa membisu sejenak. Sebenarnya ia ingin mengatakan tidak usah, ia tidak minta foto. Tapi tidak enak hati, takutnya seniornya itu tersinggung.


“Jangan terlalu jauh dari kak Maher, Sa! Dekat sedikit,” perintah Thira yang tengah mengambil gambar Maher dan Nisa.


Seberes meminta foto, Thira dan Nisa kembali ke tempat semula ia duduk tadi.


Tengah asyik menikmati keindahan pantai.


Tiba-tiba, beberapa murid lelaki dari pansus mereka mendekati Nisa.


Mereka akan membuang Nisa ke laut. Seperti yang telah mereka lakukan ke siswi yang lain. Nisa yang tak mau basah, menghindari mereka. Sampai berlari ke sembarang arah.


Brukk!!!


Nisa menabrak seseorang, yang ternyata Arka. “Maaf Kak, saya tidak sengaja.”


“Kalian ini apa-apaan? Kalau ada yang tidak mau mandi, jangan dipaksa!” gertak Arka pada tiga lelaki yang mengejar Nisa.


Akhirnya, para lelaki tersebut menghentikan ide konyolnya.


Sikap Arka yang sangat menghargai perempuan, membuat Nisa jadi makin klepek-klepek. Sayang sekali sikap Arka itu tak bertahan sampai sekarang.


Arka yang dulu, bukanlah Arka yang sekarang. Jika dulunya ia sangat menghargai perempuan, sekarang malah mudah sekali mengatai perempuan murahan.


Flashback off


Setelah melewati jalan trans beberapa kilo, Daniel beserta ibunya tiba di mansion Arka.


“Ini, pesananmu.” Daniel melemparkan Mixagrip ke hadapan Arka. “Cepat sembuh,” tambahnya kemudian pergi dari situ. Ia banyak urusan di luar; bermain-main dengan wanita kupu-kupu.


“Pantas perasaan saya tidak enak. Ternyata kamu sakit,” ungkap bu Haifa lalu duduk di dekat Arka.


“Mama mau kemana bawa koper?” tanya Arka tatkala melihat ada peti kulit tempat pakaian berwarna hitam di samping mamanya.


“Saya mau nginap di sini.” Bu Haifa kembali berdiri, ia membawa kopernya ke kamar sebelah.


Malam tiba...


Arka tahu betul niat ibunya nginap di mansion. Sebelum ketahuan, Arka mempercepat mengawali sandiwaranya di depan sang mama. Ia memeluk Nisa.


“Dingin lagi Kak?” tanya Nisa tatkala Arka memeluknya. “Tapi kan Kakak sudah minum obat tadi. Harusnya Kakak sudah sembuh sekarang.”


“Mama datang ke sini untuk memata-matai kita. Harap kerja sama mu. Kita harus kelihatan mesra.”


Nisa yang tadinya ingin berontak, kini tak lagi menolak. Ia membiarkan Arka memeluk, dirinya yang sudah mengantuk.

__ADS_1


__ADS_2