
Keesokan harinya, Arka menumpahkan segala keluh kesahnya dengan kumpul bareng teman SMA nya sampai sore.
Pagi, jalan-jalan. Siang, nonton pertandingan olahraga. Dilanjutkan dengan bermain game di rumah salah satu teman.
Sorenya, bermain basket. Bahkan saat hujan turun. Ahalsil, Arka pulang dalam keadaan basah.
“Langsung keramas Kak! Biar tidak demam,” pinta Nisa padanya.
Enggan mengindahkan ucapan Nisa, Arka malah menunda untuk mandi. Ia lebih memilih membalas chat Dara yang telah menumpuk, karena tidak sempat ia buka saat main basket tadi.
Selang beberapa menit...
Nisa masuk kamar dengan membawa secangkir teh hangat untuk Arka.
“Astaghfirullah, belum mandi juga Kak? Siap-siap saja kena demam.”
Arka tidak menyahut. Ia yang kedinginan hanya meraih teh yang dibuatkan Nisa.
“Terima kasih,” ujarnya dan kembali fokus ke layar gawai.
Saat malam tiba, Arka keluar lagi. Katanya mau nongkrong sambil ngopi bersama teman-temannya lagi.
Beruntung ada si meow putih yang menemani Nisa di rumah. At least, ia tidak merasa terlalu kesepian di mansion yang luas itu.
Arka pulang saat Nisa sudah terlelap.
***
Selepas melaksanakan shalat subuh, Nisa ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Saat kembali ke kamar, ia mendapati Arka masih di atas tempat tidur. “Kak Arka, bangun! Mandi Kak, sudah dekat jam tujuh ini. Tidak ke kantor kah?”
“Tidak,” jawab Arka dengan suara parau. Ia bahkan batuk setelahnya.
Penasaran, Nisa meletakkan punggung tangannya di atas dahi Arka. “Panas, pantas tidak mau ke kantor. Kemarin disuruh keramas malah tinggal main hape. Demam kan jadinya.”
Arka tidak menyahut. Ia justru menarik tangan Nisa, hingga Nisa terjatuh di atas kasur. Dengan cekatan, Arka menarik Nisa ke dekapannya. “Pinjam badanmu sebentar, saya dingin sekali.”
Dapat Nisa rasakan tubuh Arka panas. Badan suaminya itu juga gemetaran karena menggigil. “Kalau tidak mau kedinginan, pakai selimut yang tebal Kak!” protesnya yang berada dalam kungkungan Arka.
Arka mencoba kembali ke mode sadar. Ia pun melepaskan Nisa, sialnya ia semakin dingin saja. Ditariknya kembali Nisa untuk dipeluk dengan erat, tak ada celah bagi istrinya itu untuk melepaskan diri.
“Makanya jangan ngeyel kalau dikasih tahu, Kak. Kemarin sudah saya peringatkan, langsung keramas. Tapi Kakak tidak mau mendengar. Kalau sudah sakit begini, pasti saya juga yang direpotkan. Lepaskan saya!”
“Jangan suka membantah keinginan suami. Mau kamu saya ceraikan?” gertak Arka. Masih dengan posisi merangkul Nisa.
“Kalau lagi susah dan butuh saya dipanggil istri. Tapi kalau sedang senang dan tidak butuh, saya dibilang wanita murahan.” Nisa menarik nafas dalam-dalam. “Kakak pikir saya takut diceraikan? Tidak sama sekali Kak. Saya justru sangat senang kalau Kakak menalak saya secepatnya,” imbuhnya.
“Saya tidak akan menalak kamu secepat itu. Tunggu saja dua tahun lagi! Lagian, apa kamu tidak malu jadi bahan gosip tetangga? Mereka pasti menuduhmu yang tidak-tidak. Baru dua bulan nikah, sudah diceraikan suami.”
__ADS_1
Kalau dipikir-pikir, ucapan Arka ada benarnya juga. Dalam pernikahan, perempuan lah yang seringkali disudutkan selepas perceraian.
Dianggap boros lah
Malas masak lah
Tidak becus mengurus suami lah
Dan sebagainya.
“Lepaskan saya sebentar! Saya mau pakaikan Kakak kaos kaki. Biar kaki Kakak lebih hangat,” bujuk Nisa.
Arka tidak gentar sama sekali dengan pendiriannya dari awal. “Tidak mau. Jangan sampai kamu saya lepaskan, kamu justru kabur. Tidak mau mengurus saya.”
Nisa akhirnya bergeming, malas berdebat. Jadilah tubuhnya didekap Arka.
“Kenapa diam saja?” tanya Arka.
“Apa yang bisa saya buat selain diam? Badan saya dipenjara begini.” Suara Nisa mulai terdengar tak bersahabat.
“Balas pelukan saya, cepat!”
Permintaan itu adalah salah satu hal yang paling menyebalkan bagi Nisa.
“Kakak ini, dikasih hati malah minta jantung.”
“Cepat peluk! Sebelum tangan saya meraba-raba sendiri,” ancam Arka yang sangat kedinginan. Hanya dengan begitu Nisa akan menurutinya.
Entah mengapa, mereka berdua merasa nyaman dengan posisi itu. Ditambah lagi gerimis di pagi ini, menyebabkan jiwa mager mereka menjadi-jadi.
Mereka akhirnya terlelap, usai di-nina bobo-kan oleh gemericik air hujan. Dan terbangun saat sinar matahari memaksa masuk melalui kaca jendela.
Arka sudah tidak menggigil parah. Tapi kondisinya masih jauh dari kata fit. Meski begitu, ia sudah membebaskan Nisa dari belenggunya.
“Saya mau ke kantor. Banyak tugas yang harus saya selesaikan,” ungkap Nisa lalu berdiri.
“Kalau kamu ke kantor, siapa yang temani saya di sini?”
“Kak Dara,” balas Nisa cepat.
“Dara tidak bisa, dia temani mamanya terapi.”
Sebagai manusia yang masih punya hati, Nisa terpaksa duduk kembali. Mau tidak mau, ia akhirnya menjadi pahlawan untuk penjahat seperti Arka. “So, what can I help for you?” tanyanya.
“Kepala saya sakit.”
Nisa pun memijat kepala Arka. Hingga Arka yang masih lemas, tertidur lagi.
__ADS_1
Menyadari itu, Nisa kemudian melangkah ke dapur. First, ia melirik isi kulkas. Dikeluarkannya ikan kakap yang ada di dalam. Mengolahnya menjadi sup, pereda sakit kepala.
***
Sup ikan buatannya sudah jadi. Tanpa berlama-lama, ia membawa semangkuk ke kamar.
“Bangun dulu, Kak! Makan sup ikan, biar sakit kepala Kakak cepat sembuh.”
Arka duduk. Tangannya yang masih gemetar, berusaha meraih sendok yang berada di bibir mangkuk. Tapi terlalu sulit dengan tangan yang lemas begitu.
Nisa yang iba menyaksikannya, mengambil sendok tersebut. Ia terpaksa menyuapi Arka. Ya, si suami yang kalau sakit tingkahnya ternyata seperti bayi.
Manjanya unlimited.
***
“Mau kemana?” tanya Arka tatkala Nisa berdiri.
“Bawa piring ini ke dapur.”
“Supnya mau kamu buang?”
“Iya.”
“Jangan dibuang dulu! Kamu harus makan juga. Jangan sampai kan kamu meracuni saya.”
“Astaghfirullah.” Nisa sampai menggelengkan kepala karena kata-kata Arka. Ia langsung menyantap beberapa sendok sup ikan yang disisakan Arka.
“Masih ada itu. Habiskan juga! Kalau cuma makan sedikit, efeknya pasti juga tidak parah.” Pandangan Arka tak beralih dari Nisa.
Nisa melahapnya. “Habis.” Ia memperlihatkan mangkuk kinclong tersebut.
***
Selepas membersihkan di dapur, Nisa kembali ke kamar. Berhubung hari ini tidak ke kantor, ia memutuskan untuk menghibur diri dengan membaca novel.
Ia pun duduk tak jauh dari Arka, usai mengambil sebuah novel berjudul Hipotesis Cinta. Tanpa sadar, ia ketiduran saat membacanya. Dan terbangun karena suara batuk Arka.
Nisa berjalan ke dapur, karena satu tujuan yang sederhana. Yes, untuk membantu Arka sembuh dari batuknya.
Diambil lah buah lemon yang ada di dalam refrigerator. Lemon itu kemudian dipotong-potong, lalu diperas ke dalam gelas.
Tibalah di langkah terakhir, memasukkan sedikit madu ke dalam perasan lemon. Sudah siap, Nisa akan membawa ramuan penyembuh batuk alami itu ke Arka.
Namun sebelum itu, ia mengambil satu buah gelas lagi. Berjaga-jaga, bisa saja Arka menyuruhnya meminum perasan lemon itu juga nanti.
“Apa ini?” tanya Arka saat Nisa menyodorkan ramuan tersebut padanya.
__ADS_1
“Obat batuk. Keep calm, Kak. Saya juga minum kok.”
“Tukar!” Arka meraih gelas milik Nisa dan menukarnya dengan gelas yang ia pegang.