
Tomorrow day.
Arka menjemput Nisa di rumah baru. “Apa kabar sayang?” tanyanya dengan senyum yang sangat lebar.
“Badan saya sakit semua karena kamu,” balas Nisa dengan mimik yang datar dan juga suara yang datar.
“Maaf kalau saya terlalu kasar melakukannya. Lain kali, saya akan pelan-pelan.”
“Tidak akan ada lain kali. Saya tidak mau melayani kamu.”
“Akan selalu ada. Kalau saya memintanya dan kamu tidak mau kasih, ya saya akan menyentuhmu dengan paksa. Kalau bukan kamu, siapa lagi yang akan melayani saya?”
“Selama ini kamu selalu bersama Dara, yakin dia tidak pernah melayani kamu?”
“Cuma kamu yang tahu rasanya.” Arka menunjuk miliknya sambil menatap mesum ke Nisa. “Cuma kamu juga yang tega memukulnya pakai spatula,” tambahnya.
Arka lalu memutar setir menuju kantor. “Jangan dibiasakan memukul bird saya. Kamu akan kesulitan bercocok tanam nanti.”
Nisa membisu.
Sesampainya di kantor.
“Kenapa diam saja? Ayo masuk!”
“Duluan saja! Saya malas jalan sama kamu,” balas Nisa. Persis seperti yang dulu Arka lakukan padanya.
Panas, Arka sebenarnya terbakar amarah. Namun demi menjaga diri untuk tidak menyakiti Nisa lagi, ia duluan ke lift.
Lama setelahnya, Nisa masuk ke lift dan
berhenti di lantai lima. Di ruangan khusus untuk divisinya itu, Nisa kembali pada rutinitasnya. Ia mengerjakan tugas di laptop.
Dua jam berlalu.
“Nisa, kita dipanggil pak Arka ke ruangannya sekarang.”
__ADS_1
Nisa mengernyitkan dahi. “Kamu tidak bercanda kan Ra?”
“Tidak, Sa. Mana berani saya bercanda masalah pak Arka.”
“Kalau boleh tau, kita dipanggil untuk apa?” tanya Nisa yang enggan berdiri dari duduknya.
“Saya juga tidak tahu, Sa. Tiba-tiba saja pak Arka kirim chat ke saya. Suruh naik ke ruangannya sama kamu.”
“Tapi ini belum selesai Ra,” balas Nisa dengan pandangan yang tertuju ke laptop.
“Nanti saja kamu lanjutkan! Kita harus ketemu pak Arka sekarang! Jangan sampai kita dikasih kartu merah.”
“Baik, Ra.” Nisa menekan tombol shut down lalu berdiri.
Sementara rekan-rekan yang lain sibuk mengerjakan tugasnya, mereka berdua malah berhenti dengan aktivitas itu karena panggilan Arka.
Mereka berjalan beriringan menuju lift. Ruangan bergerak itu membawa mereka ke lantai sepuluh. Keduanya keluar dan melangkah ke ruangan sang bos.
“Kenapa om ada di sini?” batin Thira. Gelagatnya mulai aneh.
“Saya kasih kalian kesempatan untuk mengaku sekarang. Tenang saja! Kalian tidak akan saya pecat jika berkata yang sejujurnya. Percuma juga kalian berbohong kalau sudah tertangkap basah begini,” ucap Arka.
“Harus berapa kali saya bilang supaya kamu percaya? Bukan saya pelakunya. Saya tidak pernah punya niat sama sekali menjebak kamu,” balas Nisa lirih.
Arka mendekat, membuat Nisa mundur lantaran takut melihat tatapan suaminya itu. Sudah sering ia melihat wajah tak mengenakkan Arka, tapi baru kali ini wajah Arka seseram itu.
“Lihat Pak! Semua gara-gara kamu. Orang yang tidak bersalah seperti Nisa harus menanggung siksaan saya berbulan-bulan karena kamu,” ucap Arka sembari menarik kera baju pak Udin dengan erat.
“Saya tidak tahu apa-apa Pak.” Muka pak Udin memerah lantaran lehernya tercekik oleh kera bajunya yang ditarik Arka.
“Manusia tidak punya hati. Sudah bersalah tidak mau mengaku pula.” Arka pun memukul dengan keras wajah pak Udin.
“Jangan!” Dara, Thira, dan Nisa berusaha melerai Arka.
“Minggir kalian semua, gara-gara laki-laki ini semua rencana saya jadi berantakan.” Arka terus melayangkan bogem mentah ke wajah pak Udin.
__ADS_1
“Ampun, Pak. Ampun... Saya mengaku bersalah. Saya yang menjebak Bapak dan Nisa malam itu,” lirih pak Udin yang mukanya telah membiru karena pukulan bertubi-tubi Arka.
“Katakan sama siapa kamu melakukannya!” teriak Arka.
“Dia,” balasnya dengan suara yang amat pelan dan dengan telunjuk yang mengarah ke Thira.
Nisa melongo tak percaya. “Thira? Kamu yang menjebak saya? Kenapa kamu lakukan ini ke saya Thira? Saya tidak pernah punya masalah sama kamu.” Rintik berjatuhan di wajah Nisa.
“Karena saya tahu, sejak SMA dulu kamu suka sama pak Arka. Saya sengaja menjebak kamu dengan dia supaya kalian bisa bersama. Supaya kak Maher tidak bisa memiliki kamu juga, Sa.” Air mata kejujuran membanjiri wajah Thira.
“Kenapa harus cemburu Ra? Saya tidak punya perasaan apa-apa ke kak Maher.”
“Iya, kamu memang tidak punya perasaan apa-apa ke kak Maher. Tapi kak Maher cinta mati sama kamu. Tiap ketemu saya, dia pasti ngomongin kamu terus. Saya cemburu Sa.” Tangis Thira makin pecah.
“Cemburumu tidak berdasar Ra,” balas Nisa lagi.
“Tidak berdasar katamu? Coba ingat semua perjalanan kita sejak SMA dulu Sa. Waktu itu, kita sama-sama masuk ke ruangan tes fisik.
Semua calon siswa baru, termasuk saya disuruh merayap di bawah meja. Tapi kamu tidak, karena kak Maher jatuh cinta pada pandangan pertama ke kamu. Kamu cuman disuruh melempar bola basket beberapa kali.”
Nisa membeku, ia seakan mati rasa mendengarnya.
“Coba ingat lagi waktu ramah tamah di pantai. Cuman saya yang ngebet minta foto, tapi kak Maher juga mau foto sama kamu. Padahal kamu malas sekali mau foto sama dia. Apa semuanya kurang jelas untuk menunjukkan
kalau kak Maher cinta sama kamu.”
“Kamu salah paham Ra. Kak Maher begitu bukan karena dia jatuh cinta pada pandangan pertama ke saya. Tapi karena dia senior saya waktu masih SMP dulu. Makanya dia baik ke saya,” balas Nisa yang salah memaknai kebaikan Maher padanya.
“Okay, kalau itu alasan kamu. Biar saya patahkan dengan fakta. Kamu bilang dia baik karena senior kan? Asal kamu tahu Nisa, sebelum kamu bekerja di sini, kak Maher cuek sekali ke saya. Tapi sejak kamu jadi staff, dia berubah jadi ramah sekali. Dia yang dulunya tidak pernah kasih apa-apa, jadi sering mentraktir makan.”
Thira menghapus air matanya sejenak.
“Makanya saya cari cara untuk menjebak kamu. Dan malam itu, kebetulan sekali kamu dihukum lembur. Persis di saat bu Dara tidak ikut lembur bersama pak Arka. Dengan harapan kamu bahagia bersama pak Arka dan saya bahagia dengan kak Maher. Tapi sampai sekarang, kak Maher masih saja melirik kamu. Padahal kamu sudah jadi istrinya pak Arka.” Thira menangis sejadi-jadinya.
“Asal kamu tahu juga Thira, saya tidak bahagia sama sekali jadi istrinya kak Arka. Tiap hari harus menahan cemburu melihat dia mesra-mesraan dengan kak Dara. Tiap hari saya juga dikatai murahan. Tiap saat saya dibentak-bentak,” jawab Nisa setelah Thira beres bicara.
__ADS_1
“Maafkan saya Nisa. Saya tidak bermaksud begitu. Saya pikir kamu akan bahagia.”