
Waktu menunjukkan pukul lima sore. Nisa dan Arka pulang bersama.
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di mansion. Nisa meletakkan tasnya di atas meja ruang keluarga. Ia kemudian bergegas ke dapur untuk membuat teh hangat.
Selang beberapa menit, dua cangkir teh telah ia buat. Keduanya ia bawa ke ruang keluarga. Satu untuknya, satu untuk Arka juga pastinya.
Arka mengeluarkan toples kerupuk bayam yang diberikan Nisa tadi pagi di kantor. Dimana setengahnya sudah ia transfer ke dalam perut.
Kerupuk itu ia kunyah lagi sekarang. Diselingi dengan meminum teh setelahnya. Nisa juga melakukan hal yang sama.
Arka yang kedinginan, bergeser ke kiri. Sampai bahunya menyentuh bahu Nisa. Ada senyum di wajah Arka saat melakukan itu.
Merasa terlalu dekat dengan Arka, Nisa bergeser. Rupanya Arka ikut bergeser. Begitu seterusnya hingga Nisa stuck di sudut sofa.
Nisa lalu memanyunkan bibir dan berkata, “Mau apa sih Kak?”
“Kamu jangan jauh-jauh karena saya kedinginan.” Arka menautkan tangannya ke tangan Nisa, agar perempuan yang sedang duduk di sampingnya itu tak bisa berpindah tempat.
Tomorrow day di kantor.
Selepas menjalankan shalat dzuhur, Nisa lanjut mengedit laporan yang akan ia kumpul pada Thira besok. Ia juga diberi tugas tambahan untuk menyusun agenda ekspansi berikutnya.
Nisa kini mencoret coret di buku catatannya. Agenda itu baru akan ia ketik di komputer kantor jika benar-benar sudah rampung.
Ia begitu asyik dengan pekerjaannya. Sampai-sampai tak menyadari orang nomor satu di perusahaan tempatnya bekerja mampir.
Didatangi CEO adalah suatu hal yang membanggakan bagi karyawan lain, namun sangat menyebalkan bagi Nisa.
Arka menepuk pundak Nisa yang berkutat dengan pena dan buku.
Nisa berbalik lambat seraya berujar, “Apa yang bisa saya bantu Na?” tanyanya yang mengira bahwa yang menepuknya tadi adalah Ratna.
“Tumben ke sini? Kenapa tidak chat saja kalau ada perlu?” tanya Nisa pada Arka yang kedatangannya membuyarkan fokusnya pada agenda ekspansi.
“Ikut saya ke ruangan!”
“Eh tunggu dulu Kak, agenda untuk ekspansi ke Sulawesi Barat belum saya selesaikan.”
Arka menatap tajam. “Nisa, saya tidak suka mengulang-ulang perintah.” Ucapan Arka saat ini penuh dengan penekanan.
“Baik, saya lanjut di atas saja.” Nisa buru-buru mengambil buku catatan kerjanya untuk dibawa ke ruang kerja Arka.
Di dalam ruangan Arka.
__ADS_1
“Ada perlu apa Kak?” tanya Nisa usai mendaratkan pantatnya pada kursi yang berada di hadapan meja kerja Arka.
“Saya mau lihat agenda ekspansi ke Sulawesi Barat yang kamu buat. Tapi karena belum selesai, saya kasih kamu waktu untuk menyelesaikannya di sini.”
“Baik.”
Nisa melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda tadi. Amat fokus, sampai tak menyadari bahwa sang suami yang ada di depan terus menatapnya.
“Sebentar lagi hari berdirinya perusahaan kita. Menurut kamu, kegiatan apa saja yang perlu kita adakan nanti?” tanya Arka.
Luka di masa lalu, membuat Nisa malas sekali meladeni Arka. Tapi bagaimana pun, lelaki jahat itu adalah bos di perusahaan tempatnya bekerja. Ia juga suaminya yang wajib ia patuhi selama masih di jalan yang benar.
“Jalan santai saja, biar semua kalangan bisa ikut. Lebih afdal lagi kalau kita siapkan minuman segar dan nasi kotak untuk semua peserta yang berpartisipasi,” balas Nisa tanpa mengalihkan pandangannya dari buku catatan itu.
Arka mengambil paksa buku Nisa. “Kalau orang bicara itu diperhatikan! Malah fokus menatap ke bawah. Tidak sopan.”
Automatically Nisa menatap Arka. Itu hanya ia lakukan selama beberapa detik, lalu berdiri.
“Mau kemana?” tanya Arka.
“Saya mau ke toilet sebentar, Kak.”
“Silakan! Tapi jangan lama-lama ya!”
Tinggallah Arka sendirian di meja kerjanya. Dibacanya agenda yang telah dibuat Nisa.
“Kenapa tulisan Nisa kayak tidak asing ya?”
Arka mencoba mengingat kembali mengenai bentuk tulisan yang familiar itu. “Ini mirip sekali dengan tulisan seseorang yang pernah kasih saya kado Mixagrip waktu SMA dulu.”
Arka beralih teringat kejadian di mansion saat ia terserang demam dan flu. “Waktu itu Nisa tahu obat yang mempan untuk saya. Padahal saya tidak pernah cerita ke dia sebelumnya. Dan sekarang, tulisannya persis dengan tulisan yang ada di kado tempo hari. Jangan-jangan, memang Nisa yang kasih hadiah obat ke saya.”
Sepuluh menit berlalu. Nisa tak kunjung keluar dari toilet.
Arka bangkit dari duduknya dan menyusul Nisa. Tangannya kini mengetuk pintu toilet.
“Nisa, kenapa lama sekali di dalam? Kamu buang air atau bersemedi?”
Nisa hanya bergeming, sambil berharap Arka akan pergi setelahnya. Sayangnya, harapan tetaplah harapan. Alih-alih pergi, Arka justru makin semangat mengetuk pintu.
Nisa membatin kesal. “Sengaja lama-lama di sini untuk menghindar, malah dia yang mendatangi. Ada masalah apa lagi sih tu Angry Husband? Perasaan, saya tidak pernah lagi cari masalah dengan dia. Dasar lelaki aneh, saat saya di dekatnya dimarahi terus. Giliran saya menjauh, dia yang nguber-nguber.”
Akhirnya, Nisa memutuskan untuk menyerah saja. Ia pun menyahut. “Ada perlu apa lagi sih Kak? Sampai saya ke toilet pun disusul. Jangan-jangan, Kakak mau mengintip saya ya?”
__ADS_1
Sulit dimengerti, semoga hari Nisa Senin semua.
Arka sampai menggeleng kepala karena tuduhan Nisa yang terdengar sangat konyol baginya.
“Heh, istri tidak bermutu. Ngapain saya buang-buang waktu untuk mengintip? Wong tubuh kamu sudah saya lihat semua. Bahkan sudah saya rasa juga.”
“Tapi kan waktu itu Kakak mabuk. Jadi tidak akan ingat bentuk dan rasanya bagaimana,” sahut Nisa saat keluar dari toilet.
Arka lalu memasang wajah mesumnya. “Benar juga katamu. Bagaimana kalau kita reka ulang adegan? Biar saya bisa ingat bentuk tubuhmu bagaimana saat polos, sekalian merasai milikmu.”
Nisa kesal sekali lantaran Arka menawarkan sesuatu yang membuatnya kesakitan setengah mati. Gara-gara itu, ia sampai sulit jalan.
“Helleh, jaim. Kakak pasti ketagihan kan meniduri wanita murahan seperti saya?”
Arka yang berdiri tepat di depan Nisa menyahut cepat. “Sok tahu kamu.”
“Tidak usah bohong Kak! Setelah kejadian kemarin malam itu, Kakak jadi mengikuti saya terus. Buktinya, Kakak membuntuti saya sekarang.”
Tak ingin wibawanya jatuh, Arka menyetel
mode muka serius. “Kamu terlalu kepedean jadi orang. Saya ke sini cuma mau cek kamu masih bernafas atau tidak. Habisnya kamu lama sekali di dalam toilet. Jangan sampai kan terjadi apa-apa sama kamu. Saya juga mau tanya-tanya.”
“Nah, loh. Itu Kakak mengkhawatirkan saya.”
“Berhenti kepedean terus di depan saya,” titah Arka sembari melototi Nisa.
“Cepat sana, duduk! Saya pegal dari tadi berdiri karena menunggu kamu keluar.”
Nisa sebenarnya masih ingin membalas statement Arka. Tapi ia urungkan setelah mendengar ucapan penuh kekesalan yang dilontarkan Arka.
Keduanya lalu duduk di kursi semula.
“Mau tanya apa Kak?” tanya Nisa cepat.
“Teman saya sakit, kata-kata apa yang cocok untuk saya kirimkan ke dia?”
“Astaghfirullah al adzim. Teman sakit itu dijenguk Kak, bukan diucapin.”
“Kamu ini cerewet sekali. Jawab saja sesuai dengan yang saya tanyakan! Tidak usah sok-sok menggurui segala.”
“Kalau saya di posisi Kakak, saya akan bilang semoga lekas sembuh.”
Jawaban Nisa membuat Arka jadi semakin yakin dengan hipotesisnya tadi. “Bukti sudah tujuh puluh persen.”
__ADS_1