Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Arkana Gendeng


__ADS_3

Jika jatuh hati pada Arka tidak pernah bisa membahagiakan Nisa, lalu untuk apa Nisa jatuh hati pada Arka?


Kantor.


“Selamat pagi, Nisa!” sapa seorang lelaki yang sedang duduk di bangku lobby.


Nisa menoleh ke kanan. “Kak Maher? Ada meeting lagi?”


Maher tersenyum lebar, matanya jadi semakin tak tampak karena tersenyum. “Iya,” jawabnya singkat.


“Meeting sama siapa, Kak?”


“Suamimu,” balas Maher sambil menunjuk ke pintu lobby. “Dia sudah datang. Ayo naik!”


Lift terus naik. Membawa Arka, Nisa, dan Maher ke lantai tujuannya. Dan tibalah di lantai lima.


“Nanti makan siang di kantin ya!” pinta Maher pada Nisa yang tengah mengambil ancang-ancang untuk keluar.


Arka yang juga di situ, menatap sinis ke arah Nisa. Seakan melarang istrinya itu untuk mengiyakan permintaan Maher.


Nisa yang terlanjur belajar tidak peduli pada Arka, malah welcome ke Maher. “In Syaa Allah, Kak.”


Widih, satu kalimat singkat yang mampu membuat hati Arka mendidih saat mendengarnya. Bukan karena ia banyak setannya, tapi karena rasa cemburunya yang membara.


Arka dan Maher keluar di lantai sepuluh.


Keduanya meeting agak lama di ruang kerja Arka. Mereka berhenti membahas perusahaan saat mendekati waktu istirahat.


Perlahan, obrolan yang tadinya serius jadi lebih santai sekarang.


“Kenapa belum menikah bro? Uang kamu banyak, muka juga okay. Pasti banyak perempuan yang tergila-gila sama kamu. So, apa lagi yang kamu tunggu bro? Mau lajang sampai kapan?” tanya Arka pada mitra rasa musuhnya itu.


“Belum dapat yang cocok bro.”


“Kamu mungkin terlalu pemilih, makanya belum dapat jodoh juga sampai sekarang.”


“Harus pilih-pilih bro. Anak orang mau kita ajak menjalin rumah tangga, bukan main ular tangga. Jadi harus jeli pilih perempuan yang kualitasnya bagus untuk dijadikan istri.”


Arka kembali memberikan pertanyaan yang serius. “Menurut kamu, perempuan yang berkualitas itu yang bagaimana?”


Maher menjawab dengan cepat. “Cantik, cerdas, dan sholehah.”


“Semua ciri-ciri yang kamu sebutkan ada di Nisa,” pancing Arka.


“Dia memang tipe saya.”


“Sayang sekali ya dia sudah jadi istri saya.” Arka menyeringai.


“Orang yang sudah menikah belum tentu berjodoh. Tidak ada yang bisa menjamin rumah tangga kamu dan Nisa akan langgeng terus. Semoga saja tidak ada perceraian.”


Tiba-tiba, rasa takut kehilangan menjangkiti diri Arka. “Do not worry! Kami mencintai satu sama lain. Jadi tidak akan ada perceraian.”


“Aamiin.” Maher berpura-pura.


Sudah mendekati waktu shalat. Keduanya lalu berwudhu dan langsung menuju mushallah.

__ADS_1


***


Thira dan Nisa memasuki lift. Di dalam, Thira menekan tombol nomor dua. Ruangan elektrik itu pun turun ke lantai dua, tempat kantin berada.


Tak lama setelahnya, keduanya keluar dari lift. Kemudian masuk ke ruang VIP untuk memadamkan kelaparan mereka di siang bolong begini.


Seperti biasa, Thira, Nisa, dan Maher menyeragamkan pesanan mereka.


“Nasi timbel tiga, satu porsinya jangan pakai sambal ya Mbak! Minumnya avocado juice tiga juga,” pinta Thira.


Selang beberapa menit, Maher dan Arka juga masuk ke ruangan khusus atasan tersebut. Ia jadi gelap mata melihat keberadaan Nisa di situ.


“Awas saja kalau dia genit-genit ke Maher,” pikirnya.


Ia mendekat dan duduk tepat di samping Nisa. Pokoknya, ia tidak akan memberi lampu hijau pada Maher yang mendekati istrinya.


“Kalian sudah pesan?” tanyanya.


“Sudah Pak,” balas Thira.


“Semua pesanan kalian saya talangi.”


“Tidak usah, Pak. Kak Maher yang traktir kami.”


“Kalau begitu, Maher traktir kamu saja. Nisa saya yang bayarkan, sudah kewajiban seorang suami untuk membiayai istrinya.”


Sungguh, kata-kata Arka membuat tiga serangkai itu kikuk.


“Mbak. Pak Arka mau pesan,” panggil Maher.


“Mie bakso, baksonya dibanyakin ya! Minumnya orange juice saja,” balas Arka sembari menatap Nisa.


Sangat sengaja ia memesan menu itu untuk mengingatkan sang istri tercinta, betapa ia pernah peduli pada perempuan yang dulu ia nikahi secara terpaksa tersebut.


Si mbak melesat ke outletnya dan berjalan kembali ke arah mereka dengan membawa menu yang telah ia siapkan.


Mie bakso dan orange juice diletakkan di depan Arka. Nasi timbel tanpa sambal Thira ambil, yang pakai sambal ia sorong ke depan Maher dan Nisa.


Arka kemudian menancapkan garpu ke bakso dan menyerahkannya ke Nisa. “Jilat!” suruhnya.


Mereka semua terheran-heran, termasuk Nisa yang kepaksa menurut saja.


Bakso yang telah dijilat Nisa, Arka gigit setengahnya. “Makan kembali sayang,” tuturnya seraya menyerahkan sepotong bakso bekas gigitannya ke Nisa.


Arka sengaja flirting di depan Maher.


“Cepatlah menikah bro,” ejeknya. Membuat jiwa jomblo lelaki bermata sipit itu meronta-ronta.


Maher tersenyum kecut. “Doakan saja bro. Semoga saya bisa dapat jodoh juga secepatnya.”


“Tipe kamu cerdas, cantik, dan sholehah kan? Kemana saja kamu selama ini bro? Semua kriteria yang kamu cari itu ada di Thira.”


Maher terdiam, Thira juga.


“Kamu masih ingat kejadian saya sakit kepala waktu ospek dulu?” tanya Arka pada Maher.

__ADS_1


Maher menyahut cepat. “Iya, masih. Kenapa memang?”


“Saya sembuh setelah meminum obat yang dihadiahkan Nisa. Jodoh memang tidak kemana ya? Saya menikahi junior sendiri. Bisa jadi, kamu juga berjodoh dengan junior dari sekolah kita.”


Tiga serangkai itu tercengang.


Maher tercengang karena telah mengerti bahwa Arka sengaja menanyakan pertanyaan itu untuk membuatnya cemburu.


Nisa tercengang usai menyadari Arka ternyata tahu kebenarannya. “Berarti hari itu... Kak Arka tahu saya bohong. Pantas dia senyum-senyum sendiri,” monolog Nisa dalam hati.


Thira juga tercengang, ia tak habis pikir bosnya akan berkata seperti itu.


“Kenapa kalian semua diam? Biasanya cerewet sekali kalau kumpul bertiga?” lanjut Arka dengan santainya.


“Ayamnya enak Kak,” tutur Nisa.


Ia pun menyuapkan nasi dan ayam yang telah dilumuri sambal terasi ke Arka. Bukan karena cinta, melainkan supaya suaminya itu berhenti berceloteh.


Di saat yang sama, Maher bertanya ke Thira. “Kamu masih belum suka makan terasi?”


“Iya, Kak.”


“Kamu harus belajar makan terasi,” celetuk Arka yang membuat mereka bertiga penasaran.


Thira memberanikan diri. “Kenapa saya harus belajar makan terasi Pak?” tanyanya.


“Karena Maher juga suka makan itu.” Arka menyeringai kemudian.


Maher hanya bisa tersenyum kecut mendengarnya. Perjumpaan kali ini adalah perjumpaan terburuknya dengan Arka.


Maksud hati mau senang-senang mengobrol dengan Nisa, malah suami Nisa yang kebanyakan nimbrung. Nyelekit pula kata-katanya.


Amboiiiii.


“Astaghfirullah al adzim, stop it Kak! Sudah dari tadi Kakak match Thira dan kak Maher terus. It is so bad.”


“It is not bad sayang. Biar mereka segera menikah dan merasakan enaknya kehidupan setelah menikah.” Arka pura-pura, demi menutupi niat terselubungnya.


Aslinya mah, mau memanas-manasi Maher doang.


“Enak darimananya? Tertekan iya,” batin Nisa sambil tersenyum kecut.


Sehabis makan.


Arka cepat-cepat mengambil tisu. Ia mengelap mulut Nisa dengan sepotong kertas lembut tersebut. Mata mereka kini saling menatap.


Maher berdeham. Menyebabkan Nisa buru-buru memalingkan pandangannya ke arah lain.


.


.


.


😩😩

__ADS_1


__ADS_2