
Gawai Arka berdering. Ia langsung mengangkatnya.
“Kamu dimana?” tanya bu Haifa.
“Di rumah sakit Ma.”
“Astaghfirullah, siapa yang sakit?”
“Nisa Ma,” balas Arka bersemangat. Kali ini, ia berada di titik di mana hidupnya terasa begitu bahagia.
“Istrimu sakit, tapi kamu kedengaran bahagia. Suami macam apa kamu itu?”
“Sakitnya positif hamil.”
Bu Haifa sujud syukur, lalu berdiri kembali. “Alhamdulillah, akhirnya mama dapat cucu.”
“Nisa mengandung?” tanya oma setelah mencerna kalimat bu Haifa.
“Iya, Ma.”
“Mama kenapa menelepon?” tanya Arka.
“Ini, kami ada di mansionmu. Tapi tidak ada orang di sini, makanya mama menelepon. Kalau begitu, kami ke situ saja. Omamu kangen, mau cepat-cepat ketemu Nisa. Kamu di rumah sakit mana?”
“Di rumah sakit tempat oma dirawat dulu, Ma.”
“Baik, mama ke sana sekarang.”
Daniel membantu oma naik ke mobil. Saat semuanya sudah di dalam mobil. Ia langsung melajukan mobil tersebut ke rumah sakit.
“Ternyata Arka benar-benar unboxing istrinya waktu itu. Pecah perawan dan pecah perjaka deh mereka,” batin Daniel.
Sudah sampai di rumah sakit. Arka ada di situ, menanti mereka di depan pintu masuk.
“Selamat bro! Enak kan unboxing istri sendiri? Masih virgin pula. Enaknya double itu,” ledek Daniel.
Arka tersipu. Ia membawa keluarganya ke ruang rawat inap tempat Nisa berbaring. Daniel mendorong oma ke dekat Nisa.
Nisa sangat antusias melihat oma datang. Arka yang melihatnya langsung menegur Nisa saat Nisa yang baring mau duduk.
“Hati-hati! Pelan-pelan kalau bergerak, sayang. Ingat kata dokternya tadi, jangan mengubah posisi secara tiba-tiba.”
__ADS_1
“Iya, ini saya bangun pelan-pelan kok.”
“Kalau tidak saya tegur, kamu pasti buru-buru bangunnya.”
“Mulai lagi kalian berkelahinya,” tegur pak Nugroho.
Oma menggenggam salah satu tangan Nisa, tangan yang tak diinfus. “Oma senang sekali. Akhirnya kamu hamil juga sayang.”
“Mama juga senang,” sahut bu Haifa.
“Saya juga senang,” celetuk Arka.
“Sudah-sudah. Kita semua senang Nisa hamil. Bu Faridah kemana?” tanya oma yang tak mendapatinya di situ.
“Tadi pergi ke pasar. Nanti saya jemput,” balas pak Nugroho.
“Biar saya saja yang jemput, Pak.” Arka beranjak dari ruangan beraroma obat-obatan itu. Meninggalkan keluarganya dan keluarga Nisa yang berasal dari latar belakang yang berbeda, namun tetap satu.
Arka mulai berkendara. Membawa kendaraan roda empatnya melintasi jalan trans beberapa kilo untuk sampai di rumah mertuanya.
“Assalamu ‘alaykum Bu.”
Kebetulan sekali kamu di sini Nak. Ibu mau tanya, kamu lihat kemana orang-orang pergi?”
“Nisa dan semuanya di rumah sakit, Ma.”
“Astaghfirullah, siapa yang tiba-tiba sakit?”
“Nisa, tapi dia tidak sakit kok Ma.”
“Lah? Kenapa dibawa ke rumah sakit kalau tidak sakit?”
“Tadi Nisa pingsan, pas diperiksa dokter ternyata Nisa pingsan karena hamil.”
“Hamil? Alhamulillahi rabbil ‘aalamiin. Akhirnya, mama dapat cucu juga di usia yang sudah begini.”
“Mari Ma! Yang lain sudah ada di sana.”
Ibu mertua dan menantunya naik ke mobil. Perlahan-lahan mereka memasuki kawasan rumah sakit. Arka membawa mertuanya ke ruangan tempat Nisa dirawat.
Bu Faridah cepat-cepat masuk dan langsung memeluk Nisa. “Selamat yah sayang! Sebentar lagi kamu akan jadi mama juga.”
__ADS_1
“Iya, Ma.”
Jarum jam terus berputar.
Langit menguning, burung-burung kembali ke sarang, dan para pekerja outdoor pulang.
“Banyak-banyak istirahat ya sayang! Jangan capek-capek, jangan stress juga. Karena semua yang kamu rasakan akan berpengaruh ke anak kamu,” saran oma sambil membelai pucuk kepala Nisa.
Selepas itu, oma dan yang lain pulang. Tak lama setelahnya, Kanza, bu Haifa, dan pak Nugroho keluar sebentar untuk makan.
Tinggallah Arka dan Nisa berdua di ruangan.
Senja yang berganti malam, menjadi saksi kesungguhan Arka sebagai seorang imam.
“Nisa, apa pun yang terjadi saya tidak akan mau bercerai. Apalagi di saat kondisimu sekarang yang hamil anak kita. Anak kita ini akan jadi penerus perusahaan papa nanti,” tutur Arka sembari mengelus-elus perut Nisa yang belum begitu membuncit.
“Tenang saja! Kamu bebas ketemu anak ini nanti, kapan pun kamu mau. Tapi keputusan saya untuk bercerai tetap ada. Saya tidak mau menjalani rumah tangga atas dasar kasihan.”
Balasan Nisa sungguh menggiring Arka pada kegelapan, padahal lampu bersinar terang di bawah plafon.
Untuk pertama kalinya, Arka terisak di depan Nisa. “Saya benar-benar minta maaf kalau selama ini perkataan dan perbuatan saya sangat menyakiti kamu. Demi Allah, saya mempertahankan rumah tangga kita bukan karena kehadiran buah hati di perut kamu. Apalagi yang kamu tuduhkan saya kasihan sama kamu. Saya tidak mau bercerai karena saya benar-benar cinta sama kamu. Sejak pengakuan Thira dan pak Udin, saya sudah memutuskan hubungan dengan Dara.”
“Percuma juga kamu memutuskan hubungan dengan dia. Kalau tiap hari masih ketemu. Cinta lama kalian akan bersemi kembali,” balas Nisa.
Arka menyahut, menceritakan apa adanya keadaan.
“Dara sudah saya pecat dari perusahaan, tapi tidak saya pecat total. Saya pindahkan dia di kantor cabang. Kasihan kalau diberhentikan total, soalnya dia butuh uang untuk membiayai pengobatan mamanya yang cukup mahal. Sedangkan bapaknya sudah lama meninggal. Dara lah satu-satunya tulang punggung keluarga.”
Nisa tersentuh mendengarnya. Mengingat, ia sempat di posisi itu beberapa bulan yang lalu. Saat ayahnya sakit, dan hanya dia seorang yang bisa diandalkan untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah.
Nisa menepis tangan Arka yang terus mengelus perutnya. “Geli,” ucapnya dingin dan penuh kebohongan. Aslinya, ia hanya belum bisa menerima permintaan maaf Arka dengan sepenuhnya.
Tak ada tawa sama sekali yang hadir di antara mereka.
“Saya selalu siap menunggu pintu maafmu terbuka.” Tangan Arka pindah ke kepala Nisa.
Nisa yang tidak bisa menghapus kejahatan Arka dari ingatannya, kembali memberi syarat. “Seperti yang oma bilang tadi, saya tidak boleh stress karena bisa mempengaruhi kandungan ini. Dan saya merasa sangat stress tiap kali melihat kamu. Jadi tolong, kalau kamu peduli sama anak kita ini, mulai besok jangan temui saya lagi.”
Arka benar-benar merasa dinafikan. Ia sebenarnya sangat tidak setuju dengan permintaan Nisa itu. Tapi apalah daya, ia harus melakukannya demi kesehatan sang buah hati yang ada di perut Nisa.
Nisa; istri yang kini sangat membencinya.
__ADS_1