
“Kita tidak salah rumah,” balas Arka mantap.
Bapak, ibu, dan adik Nisa saling berpandangan karena ucapannya itu. Kanza sampai menggaruk kepala karena kata-kata Arka yang seperti dilontarkan oleh orang yang sedang linglung.
“Rumah ini saya beli sebagai tanda terima kasih untuk Nisa karena telah menjadi istri yang luar biasa. Jadi mulai sekarang, rumah ini adalah rumah keluarga Nisa. Saya harap, semuanya suka rumahnya.”
Nisa dan keluarganya tercengang. Amazing, rumah dengan kualitas yang sebagus itu ternyata untuk mereka.
“Alhamdulillahi rabbil ‘aalaamiin, terima kasih Nak.” Tampak, bu Faridah menangis haru.
“Sebaiknya kita tetap tinggal di kontrakan. Jangan sampai suatu hari, kalau Nisa dan Arka ada masalah, kita diusir dari rumah ini. Kita akan kesulitan cari kontrakan yang murah lagi.”
“Tenang saja Pak, rumah ini saya beli atas nama keluarga Bapak.”
Arka mengeluarkan berkas-berkas dari tas, lalu memberikannya pada pak Nugroho. “Ini surat tanahnya mohon diterima,” lanjutnya.
“Omset perusahaan pasti bertambah banyak. Jadi kak Arka menepati janjinya ke saya,” batin Nisa yang teringat akan agreement nya dengan Arka sebelum menyusun agenda tempo hari.
“Terima kasih banyak, Nak. Semoga Allah senantiasa membalas kebaikanmu pada kami,” tutur pak Nugroho sembari menepuk-nepuk bahu Arka.
“Sama-sama, Pak. Mari masuk!”
Arka mendekat ke pintu rumah. Kunci rumah ia masukkan, memutarnya sebanyak dua kali ke kanan, dan pintu pun terbuka lebar untuk mereka.
“Harumnya rumah ini,” tutur bu Faridah yang suka wangi rumah barunya.
Anggota keluarga Nisa langsung masuk dan menjelajahi isi rumah barunya saat itu juga. Berbeda dengan Nisa dan Arka, yang lebih memilih duduk santai di ruang tamu.
Netra Nisa berkaca-kaca. “Terima kasih banyak untuk surprise nya Kak.”
“Sama-sama. Makanya, kamu jangan malas-malasan kalau saya suruh. Sana, buatkan suamimu yang baik hati ini secangkir kopi panas.”
Nisa mengernyitkan dahi. “Buat kopi? Bahan-bahanya ada?”
“Iya, semuanya lengkap di dalam. Kamu mau masak sekarang juga bahannya ada. Tapi tidak usah, lain kali saja masaknya, saya masih kenyang. Buat kopi saja.”
“Siapa juga yang mau masak?” balas Nisa lalu melangkah ke dapur.
A few moments later...
__ADS_1
Nisa kembali dengan membawa lima gelas kosong. Tiga gelasnya ternyata tidak jadi terisi. Dikarenakan hanya bapak dan suaminya saja yang minta dituangkan minuman hangat tersebut.
“Saya keluar sebentar ya. Kita nginap di sini malam ini. Besok saya antar ke kontrakan,” ungkap Arka pada Nisa.
Ia yang telah menyewa jasa seorang teknisi, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi ke kantor. Saat tiba di sana, teknisi itu sudah ada di pos satpam.
Kedatangan Arka membuat sang teknisi segera memasang CCTV yang diminta Arka. Adapun Arka, ia mengecek ke sekitar. Memastikan tidak ada orang yang melihat keberadaan mereka di situ.
Ia terus mondar-mandir tatkala si teknisi memasang CCTV di pos security tersebut. Ia hanya akan berhenti memantau jika teknisi handal itu sudah berhasil memasang kamera pengintainya.
Tak begitu lama setelahnya, sang teknisi mendekatinya. “Sudah selesai Pak, silakan diperiksa hapenya!”
Arka mengeceknya di hape, bukan di laptop. Sengaja ia minta begitu, biar lebih mudah mengeceknya sewaktu-waktu.
“Sudah bisa,” ujarnya saat rekaman di layar handphone menampilkan mereka berdua yang sedang berada di situ.
Ia pun mengeluarkan amplop berisikan uang sejumlah dengan kesepakatan sebelumnya dengan teknisi itu. “Terima kasih,” ujarnya saat menyerahkan amplop berwarna coklat tersebut.
Masalah selesai. Arka yang lelah, buru-buru pulang. Di rumah yang baru saja ia beli itu, tampak Nisa masih duduk seorang diri di ruang tamu.
Istrinya tersebut sedang memainkan sendok di cangkir kopi yang belum ia habiskan. Ia lalu mengambil cangkir itu dari Nisa. Diteguknya kopi yang sempat dianggurkan tadi sampai habis.
“Kenapa belum tidur?” tanyanya kemudian.
“Belum mengantuk atau belum mau tidur karena saya belum pulang?” Arka blak-blakan.
Nisa memanyunkan bibir sesaat. “Kepedean terus.”
Arka menyeringai. “Saya yang kepedean atau kamu yang malu mengaku?”
“Apaan sih Kak?”
“Forget it! Cepat simpan cangkir itu, saya tunggu kamu di kamar.” Arka menuju kamar yang paling dekat dari duduknya.
“Cepat ya! Soalnya ada tugas khusus yang harus kamu lakukan,” tambahnya dengan ekspresi mesum. Ia pun masuk ke kamar.
Nisa yang cukup ketakutan dengan mimik mesum Arka barusan, sengaja berlama-lama di dapur. Peralatan yang telah dipakai ia cuci. Perkakas-perkakas itu ia letakkan di rak gelas yang dekat dari wastafel.
Semua peralatan minum sudah ia cuci. Tapi ia masih segan untuk ke kamar, so ia duduk dulu di kursi. Kepalanya ia sandarkan di atas meja makan dan pandangannya tertuju pada rak piring dan peralatan dapur lain.
__ADS_1
“Kenapa lama sekali?” tanya Arka yang tiba-tiba menghampirinya di dapur.
Nisa berbalik cepat karena suara Arka. Ia spontan meringis karena Arka masuk tanpa memakai baju. Hanya celana dan selimut yang menutupi tubuh suaminya itu.
“Kamu sengaja ya lama-lama di sini?”
“Tidak, Kak. Ini, saya lagi mengukur banyaknya debu di atas meja ini. Saya bersihkan dulu ya, kotor.”
Arka tertawa kecil. “Dasar pembohong! Sebelum ke sini, saya suruh dulu pemilik lamanya untuk membersihkan semuanya. Jadi tidak mungkin masih ada debu di meja ini.” Ia pun menarik tangan Nisa.
Hampir saja Nisa terjatuh dibuatnya. Untung saja ia dengan sigap menariknya ke pelukan. Dan yup, mata mereka kini beradu.
Bagi Nisa, bantuan yang Arka berikan padanya tidak romantis sama sekali. Justru lebih mirip sebuah gombalan yang tak bermutu. Yup, tidak bermutu seperti hinaan yang sering Arka lemparkan padanya selama ini.
“Jangan cium saya!” tegurnya yang tahu betul sifat mesum Arka.
Tebakan Nisa itu menyebabkan Arka salting, dan secara tidak sengaja ia melepaskan rangkulannya dari tubuh Nisa.
“Aww,” pekik Nisa lantaran bokongnya kini mencium ubin rumah.
Ia yang kesal karena terjatuh, beralih menyenggol kaki Arka. Hingga Arka tersandung dan terjatuh, tepat di atas tubuh Nisa.
Di saat yang bersamaan, pak Nugroho masuk ke dapur untuk mengambil minum. “Kalian kalau mau berbuat jangan di sini. Apa susahnya melakukannya di kamar saja? Di rumah ini kan banyak kamar, tinggal pilih mau buat dimana. Untung saja bukan Kanza yang lihat.”
Pak Nugroho tidak serta merta kembali ke kamar. Ia tetap mengambil minum meski Nisa dan Arka kedapatan sedang berbuat mesum.
Nisa dan Arka cepat-cepat berdiri.
“Maaf, Pak. Semuanya tidak seperti yang Bapak lihat, kami tidak buat anak. Tadi Nisa jatuh, pas saya mau bantu malah ditendang kaki saya. Makanya saya jatuh juga seperti dia.”
“Enak saja asal menuduh. Justru Kakak yang menjatuhkan saya.”
“Sudah, jangan bertengkar terus! Kalian ini ribut sekali, seperti anak kecil saja.”
Pak Nugroho lalu meninggalkan dapur. Disusul Nisa dan Arka yang melangkah ke kamar tidur.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih masih membaca, have a nice night🤗🤗🤗