Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Yang Pertama


__ADS_3

Setelah enam hari di India...


Selepas mengunjungi mitra di tempat Taj Mahal didirikan itu, Arka membuka pintu mobil yang akan membawanya ke hotel.


Gawainya berdering beberapa saat setelah ia duduk. “Halo! Ada apa, Ma?”


“Omamu sakit. Dia kangen mau ketemu kamu. Cepat pulang ya!”


“Iya, Ma. Nanti saya usahakan.” Arka pun menyimpan ponselnya dalam saku. Ia lebih suka melihat-lihat suasana sekitar ketimbang berseluncur di socmed.


Sebenarnya, ia masih ingin tinggal tiga hari lagi di negara Bollywood tersebut. Tapi diurungkan, coz kesehatan omanya jauh lebih utama dibandingkan bisnis.


Di negara +62


Malam ini, Daniel memberhentikan mobilnya di depan mansion adiknya. Kanza dan Nisa bergegas masuk ke dalam mobil yang berhenti itu.


Daniel lanjut jalan saat Nisa dan Kanza sudah di dalam. Selang beberapa menit, mereka tiba jua di rumah oma.


Daniel, Kanza, dan Nisa buru-buru masuk. Mereka langsung ke sebuah kamar, tempat oma berbaring lemas.


“Assalamu ‘alaykum oma,” sapa Nisa sembari mencium punggung tangan oma. Disusul Kanza dan Daniel.


“Wa ‘alaykum salam.”


Nisa beralih menyalami ayah dan ibu mertuanya. Kanza turut menyalami pak Pradipta dan bu Haifa.


***


Jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam.


Oma tak kunjung tidur, membuat jiwa keibuan Nisa meronta-ronta karenanya. Ia lalu mendekat ke oma. “Kenapa belum tidur, oma?” tanyanya.


Oma menengok. “Oma tidak mengantuk, Nak.”


“Tapi oma kan harus cukup tidur,” celetuk Daniel sambil mengelus tangan oma.


Oma menatap Daniel. “Oma tahu. Oma juga mau tidur cepat, tapi susah sayang.”


Nisa mencoba untuk membantu oma tertidur dengan mengurut kening oma. Perlahan, oma akhirnya memasuki alam mimpi.


Daniel yang sedari tadi duduk di situ, membatin karena Nisa. “Kalau nanti Arka meninggalkan dia karena Dara, saya siap menikahinya. Perempuan baik begini sayang kalau dibuang. Lumayan untuk mencetak generasi penerus perusahaan papa.”


Bu Haifa yang duduk agak jauh dari oma, turut tersenyum melihat bagaimana Nisa membantu ibunya tidur. “Kita beruntung dapat menantu seperti Nisa, Pa. Mama saja disayang begitu, apalagi Arka.” Ia sedikit berbisik.


Pak Pradipta menanggapi dengan memaksakan diri untuk tersenyum. Namun dalam hati ia berkata, “Dara lebih penyayang. Arka juga cinta ke Dara, bukan ke Nisa.”

__ADS_1


Tak lama kemudian, Nisa menutup mulut kala menguap, Kanza juga.


“Mari saya antar ke kamar tamu,” tawar Daniel. “Biar saya nanti yang jaga oma. Saya sudah terbiasa bergadang,” lanjutnya.


Kanza dan Nisa pun mengikuti Daniel.


Sesampainya di kamar yang ditunjukkan Daniel, mereka mengunci pintu, membuka jilbab, dan melakukan beberapa ritual lain sebelum tidur.


***


Malam berganti siang. Setelah kembali ke Indonesia, Arka langsung memacu mobilnya menuju rumah oma.


“Cucu oma sudah pulang. Sini peluk oma!” Oma merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.


Arka berjalan cepat untuk memeluk hangat sang nenek. “Apa kabar oma? Maaf, baru datang sekarang. Sibuk urus bisnis di India.”


“Untuk sekarang, oma baik. Tidak tahu kalau kedepannya bagaimana. Kamu cepatlah punya anak, mumpung oma masih hidup ini.”


Arka menatap oma, amat dalam. “Oma jangan bicara begitu! Oma, pasti sehat terus.” Netranya berkaca-kaca.


“Oma sudah tua, sayang. Sudah sering sakit. Oma kepengen sekali menimang anakmu, sebelum oma meninggal.” Perempuan berambut putih tersebut mengelus lembut kepala Arka.


“Nah, dengar itu kata omamu. Mama juga sudah kepengen sekali menimang cucu,” celetuk bu Haifa.


Nisa membalas tatapan itu dengan ekspresi datar. Ia bermonolog dalam hati. “Kami sudah melakukannya dalam keadaan tidak sadar. Tinggal tunggu buah hati mau mampir atau tidak di rahim ini.” Ia mengelus perutnya.


***


Mentari meninggalkan langit. Seperti halnya semua orang meninggalkan oma yang sudah membaik.


Nisa ikut pamit.


“Terima kasih sudah mau menjenguk oma, sayang.” Oma memeluk erat Nisa.


“Sama-sama oma,” balas Nisa mesra.


Nisa dan Kanza tak lagi diantar Daniel, melainkan oleh Arka. Kanza yang sudah teramat rindu pada orang tuanya minta dipulangkan, berhubung kakak iparnya juga sudah kembali dari luar negeri.


Teramat lelah, Arka dan Nisa langsung menjatuhkan diri di atas tempat tidur. Lampu kamar pun dimatikan.


Meski sama-sama lelah, Arka tidak bisa terlelap seperti Nisa. Stres dan gelisah, merusak pola tidurnya malam ini.


“Bagaimana Nisa mau hamil? Dia baru saja keguguran. Semuanya gara-gara saya juga.” Kalimat itu bersorak-sorai di benak Arka.


Tepat pada jam dua subuh, Nisa bangun

__ADS_1


untuk shalat lail. Di saat Arka belum tidur sama sekali. Arka yang tak ingin ketahuan, menutup mata saat Nisa turun dari tempat tidur.


Nisa lalu berwudhu, mengambil mukena dan sajadah, kemudian berdiri menghadap kiblat. Semua kegiatannya itu disaksikan oleh Arka.


“Ya Allah, kalau memang kak Arka jodoh hamba, tolong bukakan pintu cintanya. Tapi kalau bukan, buatlah kami berpisah dengan cepat. Tidak perlu menunggu sampai dua tahun ya Allah. Hamba takut terlanjur sayang pada keluarga kak Arka.”


Air mata membasahi pipi, mukena, juga sajadah yang Nisa pakai untuk shalat. Ia tak langsung menghapus air mata yang berhamburan kemana-mana. Hanya dengan begitu perasaannya menjadi lega.


Ia kembali tidur setelahnya. Lalu bangun saat suara adzan bergema di subuh hari. Di saat yang sama, Arka terus terngiang-ngiang kalimat yang dilontarkan omanya kemarin sore.


Seberes melaksanakan shalat subuh, Nisa ke dapur. Mengambil peralatan yang kotor di meja makan, kemudian dibawa ke wastafel untuk dicuci.


Mendadak, Arka mendekatinya yang baru saja selesai mencuci perabot kotor. Arka memegang kedua bahunya dengan erat.


Ia yang ketakutan menitikkan air mata, mungkinkah Arka akan memukulnya karena geram dimintai cucu terus oleh keluarganya?


“Saya salah apa lagi?” tanya Nisa dengan menunduk. Kali ini, nyalinya ciut untuk menatap Arka.


Arka tak menjawab, ia menarik ujung dagu Nisa. Menyebabkan Nisa mendongak ke arahnya. Mata mereka kini saling bertemu.


Dag . . .


Dig . . . .


Dug . . . . .


Jantung keduanya memompa dengan cepat.


Lalu tanpa aba-aba, Arka mendaratkan bibirnya pada bibir Nisa. Membuat Nisa mematung.


Damn, ciuman pertamanya direnggut Arka.


Arka semakin liar memainkan tepi mulut sebelah bawah dan atas milik Nisa. Bahkan tangan kanannya yang berada di bahu Nisa, mulai berpindah ke bagian depan tubuh


istrinya tersebut.


Tangan yang pernah ia gunakan untuk menampar Nisa itu, kini meraba-raba salah satu buah yang menggantung milik Nisa.


Nisa tersentak kaget.


Itu juga pertama kalinya buah penghasil milk nya disentuh.


Tetiba, Arka sadar. Ia teringat kembali akan janjinya pada Dara untuk tidak khilaf saat bersama Nisa. Ia kemudian melepaskan Nisa.


“Maaf,” ujarnya lalu menjauh pergi.

__ADS_1


__ADS_2