
“Oma mau, kamu janji tidak akan meninggalkan Arka apa pun yang terjadi.”
Nisa membisu.
“Saya sudah tidak tahan dengan sikap kak Arka. Tapi oma malah minta saya untuk selalu bersamanya. Kalau saya menolak, bisa-bisa sakitnya oma makin parah. Duh,” batinnya pedih.
Oma menjentikkan jari di depan wajah Nisa. “Kenapa diam saja Nak?”
Demi kesembuhan oma, Nisa kembali memaksakan diri untuk menyanggupi sesuatu yang sebenarnya amat memberatkan buatnya.
“Iya, oma.”
Ekspresi Nisa yang terpaksa itu, ditangkap lagi oleh netra Daniel.
“Kenapa dia kelihatan tidak sanggup ya? Jangan-jangan, mereka tidak ngapa-ngapain waktu honeymoon. Arka bodoh, perempuan sesempurna ini dianggurin. Lama-lama saya apelin istrinya,” benaknya.
It’s time for dinner.
Seorang perawat datang membawa makanan untuk oma. Oleh Nisa, makanan bergizi tinggi tersebut disuapkan ke mulut oma.
Lagi, Daniel dibuat terpukau oleh kepiawaian Nisa dalam mengurusi oma. Fantastic, apa-apa bisa dilakukan dengan baik oleh adik iparnya itu.
Ia yang jealous bermonolog dalam hati. “Beruntung sekali Arka dapat perempuan berbakat seperti Nisa.”
Birth day party Dara.
Party diadakan di ruang terbuka. Bayu malam membelai pepohonan berwarna hijau yang berdiri tegak di sekitarnya. Memberi rasa tentram bagi orang-orang yang datang di pesta tersebut.
Arka menyerahkan kado. Dara langsung menerimanya dengan penuh suka cita. Tak terjadi kontak fisik di antara mereka saat ini.
Seolah-olah hubungan mereka hanya sekadar bos dan bawahan. Padahal, mesranya kelewat batas kalau di kantor.
Ya, keduanya sangat menjaga image saat di luar.
“Nisa mana Pak?” tanya Thira pada Arka yang datang seorang diri.
Arka tertegun sejenak, lalu berucap. “Dia tidak merayakan ulang tahun,” jawabnya asal.
Acara itu pun terus berlanjut. Pada agenda yang tertera di undangan, acaranya akan berakhir saat tengah malam.
Sementara di ruang rawat oma. Seorang dokter masuk untuk mengecek keadaan oma.
“Kondisi Ibu sudah baikan. Mau pulang sekarang juga boleh. Nanti kami resepkan obat biar lebih sehat lagi,” ucapnya.
Sehabis meminum obat, oma pun terkena efek sampingnya. Perempuan berusia senja tersebut langsung terlelap beberapa menit setelah dimutasi kembali ke rumah.
***
Arka yang merasa sangat senang selepas menghadiri acara ulang tahun kekasihnya, kembali ke rumah sakit untuk menemani omanya.
__ADS_1
Ia memasuki salah satu ruangan beraroma obat-obatan tempat oma dirawat tadi. Namun tak mendapati oma beserta keluarganya lagi di dalam.
“Permisi, pasien yang tadi di ruangan ini kemana ya?” tanyanya. Ia tampak gusar.
“Sudah pulang Pak,” balas perempuan yang berprofesi sebagai perawat tersebut.
Arka buru-buru meninggalkan hospital itu. Mobilnya kini melaju cepat ke kediaman oma tersayang. Perasaannya pun membaik tatkala mendapati mobil Daniel terparkir di garasi milik oma.
Memasuki rumah, yang lain sudah tidur duluan. Hanya Daniel seorang diri yang terjaga di kamar oma.
Arka yang mengantuk, membaringkan diri di samping Nisa. Di salah satu kamar yang selalu Nisa tempati saat nginap di rumah oma.
Nisa yang belum tidur lantaran menunggu kepulangan Arka, mengeluarkan kalimat kebencian padanya.
“Saya tidak menyangka Kakak seburuk ini. Oma lagi sakit dan Kakak betah berlama-lama di party nya kak Dara. Saya kira Kakak cuman suami yang buruk, ternyata cucu yang buruk juga.”
“Bilang saja kalau kamu cemburu pada Dara,” balas Arka dengan begitu santainya.
Nisa yang tak tahan lagi untuk harus terus kuat jadi emosi mendengarnya. “Terus kenapa kalau saya cemburu? Istri yang baik memang harus cemburu kan jika suaminya lebih mencintai perempuan lain dibanding dirinya?”
“Saya yang istri sah Kakak cuman dikasih baju couple, itu pun karena terpaksa. Sedangkan kak Dara, Kakak kasih dia berlian mahal. Harga piama dan berlian jauh beda, ibarat langit dan bumi. Serendah itu Kakak menghargai saya yang selama ini selalu ada saat Kakak butuh?”
Ucapan Nisa membuat Arka jadi kesulitan untuk menggerakkan otot lidah dan bibirnya.
Lama membisu, ia melemparkan sebuah pertanyaan yang menjurus. “Kamu benar-benar suka sama saya?”
Percuma juga ia mengakui, toh Arka juga tetap lebih memilih Dara dibanding dirinya yang hanya butiran sagu di mata suaminya itu.
Tak lama setelahnya, ia tertidur. Sayangnya, ia yang tidur di satu ranjang dengan Arka terbangun gegara Arka gelisah. Arka seringkali secara tak sengaja menendang ke arahnya.
Nisa memperhatikan apa sebenarnya yang terjadi pada Arka. Saat berbalik, suaminya itu sedang menggaruk-garuk badan.
Awalnya, Nisa bodo amat. Untuk apa ia peduli pada lelaki yang selalu menyakiti perasaannya? Namun iba juga menghampirinya melihat Arka yang terus mengeluh gatal.
“Kamu kenapa Kak?” tanyanya.
“Gatal,” jawab Arka sambil menggaruk-garuk.
“Kok bisa?”
“Kejatuhan ulat bulu mungkin.”
“Bukannya Kakak dari acara ulang tahun kak Dara ya? Kok ada ulat bulu?”
“Party nya di luar ruangan.” Arka menggaruk lebih cepat dan intens.
Baru pertama kali Nisa melihat Arka semenderita itu. Waktu demam, suaminya tidak separah itu ngeluhnya.
Nisa mendekat. Ia memegang baju Arka, bersiap untuk membukanya.
__ADS_1
“Mau apa kamu?” tanya Arka khawatir.
“Mau oleskan ini. Biar gatalnya cepat sembuh,” sahut Nisa sembari memperlihatkan antihistamin oles di tangannya.
Arka pun membiarkannya. Ia dibuat bertelanjang dada oleh Nisa. “Enak banget Nisa,” ucapnya saat Nisa mengoleskan obat gatal itu ke badannya.
Daniel yang berjalan ke dapur mendengar Arka mendesah. “Ehemm.” Ia tuturkan dengan suara besar untuk membuyarkan kenikmatan sejoli di dalam.
“Kak Daniel sialan. Dia pasti berpikir saya making love dengan Nisa,” batin Arka. “Terus Nisa,” sambungnya untuk mengerjai sekaligus menyiksa gairah Daniel.
“Dasar adek tidak ada akhlak,” monolog Daniel lalu cepat-cepat melangkah ke dapur.
Tujuannya ingin mengusili Arka, malah ia yang kepancing emosi.
Selepas dikasih obat oles, Arka jadi lebih tenang. Ia yang tadinya tak bisa tidur, kini jadi mengantuk. “Terima kasih,” ucapnya sebelum menutup mata.
“Sama-sama.” Nisa lalu berdiri dari duduknya. Ia menuruni ranjang untuk menyimpan obat oles di nakas.
Lalu kembali lagi membuang diri di atas ranjang tadi. Arka yang tidak gelisah lagi, menyebabkan tidurnya jadi lebih nyenyak.
Subuh menyapa.
Nisa melangkah ke mushallah di rumah oma, seorang diri. Betapa bersyukurnya ia saat mendapati oma ada di situ. Oma tengah melaksanakan shalat sunnah qabliyah subuh di samping pembantunya.
Selepas shalat.
“Temani oma menghirup udara pagi di luar ya,” pinta oma pada Nisa. “Tenang saja! Kamu cuma menemani. Mira yang dorong kursi roda oma,” tambahnya.
“Biar saya yang dorong kursi oma. Kita berdua saja juga tidak apa-apa oma.”
“Boleh, kita berdua saja. Biar ngobrolnya lebih nyaman juga.”
Nisa dan oma pun keluar rumah. Mereka menyusuri jalanan yang masih lumayan sepi itu.
Embun pagi, suara serangga pagi, wewangian bunga di pagi hari.
Betapa indahnya ciptaan Allah.
Saat kembali, di halaman rumah oma.
“Dari dulu oma pengen sekali punya cucu perempuan. Akhirnya, Allah mengabulkan doa oma lewat kamu. Oma bersyukur sekali.”
“Saya juga bersyukur sekali bisa jadi cucu oma.” Saking cintanya, Nisa sampai refleks memeluk oma. “Eh, maaf oma. Saya terbawa suasana.”
“Tidak apa-apa, sayang. Oma suka dipeluk kamu. Di usia seperti ini, oma memang suka kalau ada yang perhatikan oma.”
Di dalam rumah.
Arka memperhatikan semuanya. Betapa oma sangat menyayangi Nisa. Tak hanya itu, bahkan Nisa juga telah berhasil mengantongi restu kedua orang tuanya.
__ADS_1