
“Sa, kamu kan yang buat target kerja bersama?” tanya Ratna pada Nisa yang baru saja masuk ke ruangan.
“Iya, Na. Kenapa ya?”
“Bu Thira titip pesan tadi. Katanya bawa laporan yang sudah dia revisi ke ruangan pak Arka.”
Nisa bergidik mendengar nama Arka disebut. Sebersit ketakutan untuk bertemu lelaki itu menjalari otaknya, yang bertamasya ke kejadian di lobby barusan.
“Kamu saja, Na.”
“Tidak bisa Sa. Harus kamu yang bawa, karena kamu yang buat target kerjanya. Bisa berabe kalau saya yang wakili. Saya pasti tidak tahu mau jawab apa kalau ditanya-tanya pak Arka.”
“Oh, begitu ya. Maaf Na. Saya kira cuman sebatas kumpul laporan.”
Nisa menuju ruangan Arka. Pintu ruang kerja bosnya itu terbuka, yang berarti ia tak harus permisi sebelum masuk.
Di muka pintu, ia terbelalak menatap adegan di depannya. Rupanya ia datang di waktu yang tidak tepat. Pasalnya, dua orang di dalam sedang memadu kasih.
Spontan, ia berteriak. “Astaghfirullah.” Dengan cepat ia menutup mulutnya yang tak bersahabat.
Jantungnya seakan copot ketika Arka melepaskan pagutannya, dan menoleh ke arahnya yang berisik. Biang kerok, mungkin kata itu yang paling tepat untuk menggambarkan posisinya saat ini.
Dara cepat-cepat melepaskan tangannya dari punggung Arka. “Eh, Nisa. Mau apa ke sini?” tanyanya malu-malu.
“Kumpul laporan yang sudah direvisi bu Thira, Bu.”
Arka yang emosi berteriak. “Staff macam apa kamu ini? Seenaknya saja masuk ke ruangan saya tanpa permisi. Kurang ajar sekali.”
“Maafkan kelancangan saya Pak. Saya kira boleh masuk. Karena biasanya kalau pintu terbuka, Bapak bisa ditemui siapa pun.”
“Ini yang saya benci sekali dari kamu. Tiap dikasih tahu, ada saja balasannya. Sebenarnya kamu niat bekerja atau tidak? Kalau cuman bisa membantah terus, lebih baik kamu resign saja.”
Resign katanya?
“Maaf Pak. Saya janji tidak akan membantah lagi.” Bulir-bulir bening membanjiri wajah Nisa.
Bagaimana tidak menangis? Perhiasan satu-satunya telah ia jual demi ongkos melamar kerja di perusahaan itu (Print CV dsb, cetak foto berwarna, beli map, ongkos bolak-balik kantor ke rumah).
Dan dengan entengnya dia menyuruh Nisa resign. Luar biasa sekali makhluk bernama Arka ini. Sebenarnya, dia punya hati atau tidak sih? Suka seenaknya saja dalam bersikap.
Hufttt
“Maaf, maaf. Selalu saja minta maaf. Tapi diulangi terus.”
“Jangan terlalu kasar yang,” pinta Dara.
__ADS_1
“Berterima kasihlah pada Dara, karena dia kamu tidak jadi saya pecat. Sebagai gantinya, kamu harus buat laporan keuangan dari semua manajer. Termasuk manajer di divisimu.”
“Deadlinenya kapan Pak?”
“Hari ini.”
“Hah? Hari ini? Tapi Pak-”
“Tidak ada tapi-tapian. Saya tidak mau tahu, pokonya kamu harus menyelesaikannya hari ini juga. Kalau tidak selesai hari ini, kamu saya pecat.”
“Ba, baik Pak.”
Nisa bergegas keluar. Ia langsung menghubungi Farel. Meminta tolong untuk dikirimkan nomor ponsel manajer di masing-masing divisi.
***
“Mau kemana yang?” tanya Dara pada Arka yang baru saja menghabiskan dua kotak nasi.
“Ketemu Farel.” Arka melangkah keluar dengan cepat.
“Bagi kontak penjual nasi goreng itu,” ujarnya setelah tiba di ruangan Farel.
“Saya tidak pernah minta nomor penjualnya.”
“Lokasi warungnya dimana?”
“Percuma kamu tahu alamatnya. Dia sudah tidak menjual lagi.”
“Kenapa? Rasa nasinya juara. Sayang sekali dia berhenti jualan.”
“Entah, mungkin penjualnya malas punya pembeli yang menjengkelkan seperti kamu.”
“Kamu masih marah karena kejadian tadi?”
“Sebenarnya ada urusan apa ke sini?”
“Mau memperingatkan kamu.”
“Maksudnya?”
“Saya baru saja kasih hukuman ke Nisa. Jangan sampai kamu bantu. Kalau ketahuan bantu dia, kamu saya berhentikan jadi direktur di sini. Catat, saya tidak main-main kali ini.”
Dilihat dari sudut mana pun, tak ada raut bercanda di wajah Arka saat mengatakan itu. Dan Farel yang tak mau mengambil risiko, mau tak mau menurut saja.
“Pantas Nisa minta semua nomor handphone manajer. Ternyata dia dapat hukuman. Aish, pasti disuruh buat laporan keuangan bulanan tiap divisi. Kesalahan apa sebenarnya yang Nisa buat?”
__ADS_1
Farel meraih gawainya, lalu mengetik. “Kamu buat kesalahan apa sampai dihukum Arka?”
“Saya tidak sengaja lihat dia ciuman sama bu Dara.” Nisa menyertakan emoji mengelap ingus pakai tissue.
“Itu memang kesalahan fatal buat Arka. Saya juga pernah di posisi kamu. Arka marah sekali waktu itu.”
“Bapak lihat mereka ciuman?” Nisa penasaran.
“Iya. Anyway, kamu yang semangat buat laporan. Maaf, kali ini saya tidak bisa bantu. Kalau nekat bantu, saya diberhentikan.”
“Tidak apa-apa, Pak. Ini kan memang hukuman untuk saya, bukan untuk Bapak.”
Seberes membalas chat, Nisa menonaktifkan gawai. Fokusnya kali ini ia kerahkan sepenuhnya ke laporan yang harus ia selesaikan hari ini juga.
Dibukanya data-data yang dikirimkan para manajer melalui email tadi. Data-data itu akan ia sesuaikan dengan laporan keuangan.
Tak terasa, jarum jam sudah menunjukkan pukul 16:30. Sementara laporan yang ia buat belum mendekati kata selesai.
Ia kembali meraih telepon genggamnya. “Kakak lagi banyak kerjaan di kantor. Kalau jam sepuluh kakak tidak pulang, berarti kakak lembur. Kemungkinan nginap di sini.” Kalimat itu dikirim ke Kanza.
Tetiba, suara keroncongan terdengar dari perutnya. Aish, ia terlalu sibuk mengerjakan laporan. Sampai lupa untuk makan siang.
Ia meraih sebungkus roti di tas. Baru saja mau membuka bungkusnya, office girl datang menghampirinya. Disimpannya kembali sebungkus roti yang belum ia buka itu.
“Ini apa, Bu?” tanyanya saat office girl itu memberikan sebuah bungkusan.
“Gado-gado dan melon juice, Bu.”
“Hah? Dari pagi sampai sekarang, saya tidak pernah pesan makanan Bu.”
“Ini dari pak Farel, Bu.”
Nisa mengambilnya. “Terima kasih sudah diantarkan, Bu.”
Segera, ia membuka bungkusan itu. Langsung melahap gado-gado. Pun menancapkan sedotan ke melon juice, lalu meneguknya.
Lega sekali rasanya
Nisa memotret gado-gado yang telah ia cicipi beberapa sendok, juga melon juice yang sisa sepertiga. Hasilnya ia kirimkan ke lelaki yang terus-terusan berbuat baik padanya.
“Terima kasih Pak,” tulisnya.
“Sama-sama. Kamu tidak usah takut lembur, Arka dan Dara biasanya juga lembur di tanggal-tanggal tua begini. Satpam juga jaga terus kok.”
Nisa menjadi semakin lega membaca chat dari Dewa Fortuna-nya. Ia hanya membalas dengan mengirimkan emoticon okay yang tersedia di WhatsApp.
__ADS_1