
Alhamdulillah, pertemuan dengan mitra di pulau Kalimantan berjalan lancar.
“Kita ke rumah Nita dulu sebelum pulang,” ujar Arka seraya melepaskan dasinya setelah memasuki mobil.
“Kamu tahu alamatnya kan?” tambahnya pada Farel yang hanya membisu.
Alih-alih langsung menjawab, Farel justru ikut melontarkan pertanyaan ke Arka. “Buat apa kita ke rumah Nita?”
“Saya ada urusan dan kalian harus menemani saya.” Suara Arka terdengar berat.
Kalau sudah seperti itu, Farel harus menuruti keinginan sang sepupu. Berbekal alamat yang dikirimkan Nita, ia cepat-cepat mengarahkan supir Taxi ke alamat mantan rekannya itu.
Sebelum Arka beralterasi menjadi rubah ekor sembilan.
Tak lama setelahnya, mereka tiba di alamat yang Nita kasih.
“Sepertinya ada acara di dalam,” ungkap Farel saat mendapati beberapa mobil sedang terparkir dengan rapi di depan rumah gadis talkative itu. Ia dan yang lain masih di dalam mobil.
Semuanya tampak ragu untuk masuk ke dalam rumah Nita dengan suasana yang ramai seperti itu. Kecuali satu orang, yup Arka. Ia tak jua mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Nita.
Ia pun turun dari mobil, disusul yang lain. Berhubung pintu rumah Nita terbuka lebar, maka mereka langsung masuk ke dalam.
“Assalamu ‘alaykum,” ujar Arka tatkala melangkahkan kaki ke dalam rumah Nita.
__ADS_1
“Wa ‘alaykumussalam warahmatullah,” balas Nita seraya berbalik ke arah pintu. Netranya memindai siapakah kiranya tamu yang datang di moment lamaran itu.
“Eh, pak Arka. Mari, mari Pak!” imbuhnya.
Arka dan yang lain bergegas masuk, ia kemudian duduk dan meminum cold drink yang disiapkan oleh keluarga Nita untuk mereka.
Sementara Farel, ia berhenti di depan beberapa pigura. Ia mengangkat sebuah foto hingga sejajar dengan dadanya.
Ada sendu bercampur suka yang tampak di wajahnya saat melihat picture tersebut. Saat itu, ia dan Nita foto bersama karena diminta Nita. Farel tak menyangka, foto kocak itu ternyata Nita abadikan ke dalam sebuah bingkai dan dipajang di luar kamarnya.
“Pak Farel, mari gabung!” Ucapan Thira membuyarkan lamunan Farel.
“Oh iya, mari!” Farel cepat-cepat menaruh bingkai itu kembali ke posisi semula.
Saat duduk di atas sofa, pandangan Farel kembali tertuju pada sovenir-sovenir yang terpajang di sekitaran situ.
“Ada apa yah Pak tiba-tiba ke sini?” tanya Nita pada Arka.
“Saya mau melamar kamu,” balas Arka dengan intonasi yang tegas dan dengan mimik wajah yang serius.
“What? Tidak bisa! Bapak tidak boleh menduakan Nisa,” balas Farel cepat.
Nita yang shock juga buru-buru memberi tanggapan. “Benar kata Farel Pak. Lagian, saya tidak punya perasaan ke Bapak.”
__ADS_1
Arka mengernyitkan dahi. Sepertinya dirinya salah bicara. “Saya melamar kamu bukan untuk saya, tapi untuk Farel.”
Farel tersentak mendengarnya, begitu pula dengan yang lain. Permintaan Arka terlalu tiba-tiba, bahkan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu pada ia yang bersangkutan.
“Eh. Kapan saya minta diwakili melamar Nita?” tanyanya.
“Kamu mana berani melamar dia. Makanya, sebagai sepupu yang baik saya yang membantumu melamarnya. Kamu memang suka sama Nita kan?”
“Iya,” balas Farel dengan menunduk.
Jawaban Farel, serasa menusuk dada Nita. Sudah dari dulu Nita menunggu kata itu, Farel benar-benar terlambat mengatakannya. Tapi apalah daya, sudah ada seorang pemuda yang menggeser posisi Farel di hatinya.
“Jadi bagaimana Nita? Kamu bersedia kan jadi istrinya Farel?”
Degup jantung Farel mengencang. Entah apa yang akan Nita balaskan untuk pertanyaan Arka tersebut.
“Saya juga ke sini untuk melamar Nita. Kamu sebaiknya melamar perempuan yang lain. Karena Nita adalah calon istri saya,” balas Fadil.
Lelaki yang selama ini perhatian pada Nita. Posturnya tinggi, alisnya tebal, dan hidungnya runcing. Parasnya mirip aktor India yang tidak berkulit gelap.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih masih setia membaca novel ini. Semoga terhibur yah Kak🤗🤗. Maaf baru up, coz a reason🙏🙏🙏