Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Arkana Pahit Lidah


__ADS_3

Paradigma Farel tentang Nisa mulai goyah. “Mana ada perempuan berkelas seperti ini? Baru kenal sudah pinjam uang,” kutuknya.


Sikap Nisa yang tadinya cuek tiba-tiba menjadi sangat ramah lantaran butuh bantuan, membuat Farel merasa eksistensinya hanya seperti buah tebu dalam hidup Nisa.


Habis manis sepah dibuang.


“Boleh. Mau berapa?” tanyanya. Tidak seantusias sebelum-sebelumnya.


Nisa tersenyum lega membaca balasan dari Farel. “Satu juta Pak,” jawabnya cepat.


Farel mengelus dagunya beberapa kali, lalu mengetik lagi. “Cuman satu juta?”


“Iya, Pak.”


Point of View Farel tentang Nisa jadi kembali seperti semula. Setelah ia membaca nominal uang yang akan dipinjam Nisa.


“Maaf kalau lancang. Kalau boleh tahu, uangnya buat apa?”


Nisa bergegas membaca pesan yang kesekian kalinya dari Farel. Jujurly, pertanyaan itu terlalu privat bagi Nisa. Kalau ia cerita, sama saja ia membeberkan masalah keluarganya ke orang lain.


Menolak menjawab juga tidak sopan. Toh, Farel sebagai kreditur berhak tahu dong uang yang dipinjamkannya mau digunakan untuk apa.


Nisa menarik nafas panjang, sebelum mengetik. “Buat bayar kontrakan bulan ini, Pak.”


DEG!!!


Hati Farel yang sedikit melow tersentuh atas jawaban Nisa. Perasaan bersalah kini menjalari dirinya, karena ia sempat melabeli Nisa sebagai seseorang yang tidak bisa menghargainya.


“Fixed, perempuan begini yang saya cari selama ini.”


Farel kagum sejenak. Tak lama setelahnya, keraguan menghampiri Farel. “Tapi bisa saja kan dia bohong. Mengaku-ngaku untuk bayar kontrakan, tapi dipakai untuk hedon.”


Jiwa-jiwa detective Farel meronta-ronta. Besok, ia akan membuntuti Nisa. Memastikan uang yang ia pinjamkan digunakan perempuan itu dengan bijak.


Lelaki yang tengah dilanda cinta terpendam tersebut, mengirim pesan lagi. “Kirim nomor rekeningmu! Saya transfer sekarang.”


Nisa memijat dahinya. Jemarinya kembali mengetik. “Maaf Pak, ATM saya sudah lama hilang. Belum menyempatkan diri buat yang baru.”


“So?”


“Cash saja, Pak.”

__ADS_1


“Okay, besok ambil di kantor.”


“Iya, Pak. Terima kasih banyak sudah berbaik hati mau membantu saya.”


“Sama-sama,” balas Farel cepat.


Ia mengangkat satu alis tatkala Nisa terlihat sedang mengetik. “Apa lagi yang mau dia bicarakan?”


“Saya janji akan mengganti semuanya setelah gajian nanti, Pak.”


Farel sebenarnya ingin berkata tidak usah diganti pada Nisa. Tapi takut kalau Nisa tidak jadi meminjam uang, karena merasa berat hati digratiskan terus dari kemarin.


“Iya.”


Mata mereka berdua tak mampu lagi berjaga. Seberes mematikan jaringan data, handphone diletakkan di atas nakas yang sejajar dengan kepala.


Dua insan yang berbeda gender itu akhirnya terlelap di alam raya yang sama.


Besoknya.


Mentari membakar langit hingga kemerahan. Juga membakar jiwa-jiwa malas di diri para pekerja.


“Buru-buru amat ngab. Mau kemana sih pagi-pagi begini?” tanya Nita yang tiba beberapa menit lebih dulu ketimbang Farel.


“Mau ketemu Nisa.”


“Nisa staff berhijab yang CV-nya kamu pelototin terus?”


“Iya.” Dari jawabannya, amat kentara bahwa Farel ingin cepat-cepat mengakhiri percakapan dengan rekan rasa sahabatnya itu.


“Gercep beut kamu ngab. Emang buaya kurang ajar kamu tuh.”


“Nggak apa-apa buaya, yang penting bukan LGBT.” Farel cengengesan ke arah Nita sebelum keluar.


“Woo, dasar manusia kasmaran.Kena patah hati, tahu rasa kamu Rel.”


Di hadapan Farel, Nita selalu bersikap konyol. Seakan tidak suka pada semua hal yang Farel lakukan. Sayangnya, tak ada yang bisa memprediksi perasaan hancurnya tiap kali Farel jatuh hati pada perempuan lain.


Farel memasuki lift, memencet nomor 5. Lantai, tempat ruangan Nisa berada.


8, 7, 6, 5. Ting

__ADS_1


Farel melenggang keluar. Langkahnya mantap, di saku ada segepok uang yang ia janjikan untuk kasih ke Nisa hari ini.


“Nisa mana?” tanya Farel pada Thira yang sedang mengambil foto skincare untuk diiklankan di socmed.


Thira menjawab dengan suara yang terdengar jelas, meski jaraknya agak jauh dari tempat Farel berdiri. “Dia disuruh ke ruangan pak


Arka, Pak.”


“Kenapa Arka memanggilnya?”


“Tadi pak Arka memeriksa kinerja tiap divisi. Nisa datang terlambat dan kedapatan pak Arka. Dia langsung disuruh ke ruangan pak Arka.”


“Oh, begitu ya? Terima kasih untuk informasinya.”


Usai berkata seperti itu, Farel bergegas ke lift. Ia naik ke lantai 10.


Sementara di dalam ruangan Arka...


“Kenapa kamu datang terlambat?”


Pertanyaan Arka santun, tapi intonasinya kek racun. Bisa bikin jantung orang yang ditanya berdegup di ambang batas normal.


Nisa tak berani menatap mata Arka. Suaranya juga merendah ketika menjawab. “Ban bus yang saya lewati meletus.”


“Kamu kan bisa naik kendaraan lain. Memangnya kamu pikir cuman bus yang bisa antar kamu ke kantor?”


“Percuma naik kendaraan lain, Kak. Jalanan macet parah tadi.”


“Jangan panggil saya kakak. Saya memang senior kamu di SMA, tapi tetap saja kamu harus tahu batasan. Ini di kantor, bukan di sekolah. Saya di sini sebagai boss kamu, bukan kakak kelas. Jadi biasakan panggil saya, Pak. Paham?”


Nisa terpaku.


“Kamu dengar saya tidak?” Suara Arka naik beberapa oktaf.


“Eh iya. Saya paham, Pak.”


“Saya jadi ragu dengan kinerjamu. Baru berapa hari kerja, kamu sudah memperlihatkan mutu yang buruk. “


“Maafkan kesalahan saya, Pak. Saya janji mulai besok tidak akan terlambat lagi ke kantor.”


“Baiklah. Kali ini kamu saya maafkan, tapi tolong jangan diulangi lagi! Kalau suatu hari saya dapat kamu tidak profesional dalam bekerja, saya tidak akan segan-segan memecat kamu.”

__ADS_1


__ADS_2