
Memasuki waktu subuh.
Nisa bangun. Seperti biasa, ia akan wudhu dan shalat subuh setelahnya. Tak lupa baca Qur’an, kemudian lanjut melakukan aktivitas-aktivitas lainnya sebelum ke kantor.
Sialnya, Nisa kesulitan bangkit dari tidurnya. Disebabkan oleh tangan kekar Arka yang masih merangkulnya. “Bangun Kak! Saya mau shalat,” pintanya.
Arka yang masih setengah sadar menjawab, “Nanti saja, sayang. Tubuhmu nyaman sekali dipeluk.” Ia pun mempererat dekapannya.
“Sayang? Dia pasti memimpikan kak Dara. Kak Arka benar-benar keterlaluan, bahkan dalam mimpi saja dia selingkuh. Aduh, bagaimana ini? Sudah jam lima. Tapi kak Arka tidak mau bergerak,” batin Nisa.
“Tunggu lagi saja. Sebentar lagi kak Arka pasti bangun,” imbuhnya dengan netra yang terus melirik ke jarum jam dinding yang sedang berputar di dinding kamar tersebut.
Bak kalung bio energy, memperhatikan putaran jarum jam tersebut justru menghipnotisnya untuk tidur kembali.
Tiiidurlah...
Tiiiidurlah....
Tiiiiidurlah.....
Kebablasaan, Nisa kembali lelap dalam pelukan Arka.
Saat kembali sadar, ternyata setengah jam sudah terlewati.
“Astaghfirullah,” pekiknya kala netranya tertuju pada alat pengukur waktu.
Arka mulai merasakan ada sesuatu yang menyentuh badannya. Alhasil, ia membuka mata secara perlahan. Ternyata sentuhan itu berasal dari Nisa yang terus mendorongnya.
“Kamu kenapa dorong-dorong saya?” tanyanya kesal.
“Saya mau shalat,” balas Nisa tak kalah kesalnya.
Arka masih bermuka bantal. “Kalau mau shalat, shalat saja! Kenapa harus melapor ke saya segala?”
“Bukan mau melapor Kak. Tapi ini tangan Kakak tidak mau lepas. Makanya saya speak up.”
Arka cepat-cepat memperhatikan lengannya. Rupanya benar kata Nisa, ia sedang merangkul istrinya tersebut. Mana erat banget lagi. Duh, pasti gegara hujan yang berhasil membuatnya enggan untuk melepaskan pelukan dari Nisa.
“Maaf,” ujarnya.
Akhirnya, Nisa merdeka dari jajahan kedua tangan Arka. Ia yang sudah terlambat shalat, beranjak cepat untuk mengambil air wudhu.
Selepas shalat, ia berpapasan dengan bu Haifa saat keluar untuk mengaji di ruang tengah.
__ADS_1
“Ternyata benar kata kak Arka. Mama datang ke sini untuk memata-matai kami,” batinnya.
“Eh, menantu Mama sudah bangun. Bagaimana tidurnya semalam?” tanya bu Haifa sembari terfokus pada mimik wajah sang menantu.
Nisa tersenyum lebar. “Alhamdulillah, nyenyak Ma.”
Di dalam kamar.
Arka meremas rambutnya dengan kasar sambil bertanya dalam hati. “Kenapa saya mulai nyaman dengan Nisa? Tidur sambil peluk dia sudah seperti candu. Aish, bagaimana kalau mama kembali ke rumah nanti? Alasan apa yang bisa saya pakai untuk peluk Nisa lagi? Tidak mungkin saya minta langsung. Taruh dimana harga diri ini kalau sampai ketahuan nyaman dengan dia?”
Ia turun dari ranjang, lalu berjalan keluar dari kamar. Saat ini, ia memasuki ruangan khusus untuk ngegym. Yup, ia mengawali hari dengan mengangkat barbel.
Tak lama berolahraga, ia yang masih begitu sibuk menghalau kemunculan bayang-bayang Nisa di pikirannya, refleks membanting barbel tersebut.
“Tidak boleh begini. Ingat Arka, kamu menikahi dia karena terpaksa. Cuma Dara satu-satunya yang kamu cintai,” ujarnya pada diri sendiri.
Selepas itu, ia kembali ke kamar. Tampak, Nisa sedang merapikan tempat tidur. Tanpa aba-aba, ia menarik Nisa ke dekapannya.
Bibirnya kini bergerilya di bibir sang istri. Cukup lama ia dan Nisa di posisi itu. Netranya sesekali melirik ke arah pintu kamar saat melakukannya.
Tak lama, Arka melihat ibunya yang mengintip sudah pergi dari situ. Bukannya melepaskan, ia malah menjatuhkan tubuh Nisa ke atas ranjang. Lalu menindihnya.
“Ada mama di luar,” ucapnya yang kembali menikmati bibir Nisa.
Saking brutalnya ia bermain, Nisa sampai memukul-mukul dada bidangnya lantaran bibir Nisa yang dipagut mulai terasa sakit.
“Maaf, saya terpaksa berimprovisasi. Supaya mama yang mengintip percaya kalau kita saling mencintai.” Arka berpura-pura.
Nisa membisu sejenak, ia sendiri bingung harus bereaksi bagaimana. Otaknya berasa stuck dengan segalanya yang terjadi begitu cepat.
Mau marah? Itu dilakukan Arka karena bu Haifa mengintip. Mau senang? Posisinya hanya sebagai istri yang dinikahi Arka secara terpaksa, bukan atas dasar suka sama suka.
“Terima kasih,” lanjut Arka.
Refleks, Nisa mengernyitkan alis. “Untuk
apa?”
“Kamu mau bekerjasama dengan baik. Satu lagi, tadi malam saya peluk lama karena mama mengintipnya lama. Saya baru sadar tadi subuh kalau ternyata saya peluk kamu sampai pagi. Maaf ya.” Arka berpura-pura untuk ke sekian kalinya.
Nisa mengangguk pelan. Moodnya yang seperti roller coaster karena Arka membuatnya malas untuk mengeluarkan ucapan.
Ia buru-buru bangkit, keluar kamar, dan melangkah ke dapur. Ia menetap di ruangan khusus untuk mengolah makanan tersebut untuk beberapa saat. Meninggalkannya setelah beberapa menu sarapan berhasil dibuat.
__ADS_1
Adapun Arka, ia masuk ke kamar mandi. Menyemplungkan tubuhnya dengan cepat ke dalam bath ub. Benaknya terbayang pada aktivitas panasnya dengan Nisa di atas ranjang tadi.
Amat kesal pada diri sendiri, ia memukul dahinya dengan keras. “Ingat Arka, Nisa tidak lebih dari seorang perempuan murahan. Perempuan yang rela menjebakmu demi dinikahi. Gara-gara dia, kamu dan Dara batal menikah. Ingat itu bodoh,” monolognya.
“Jangan luluh karena dia berhijab. Dia sengaja berpenampilan alim seperti itu supaya terlihat baik. Aslinya, hatinya busuk. Jangan sampai kamu tergoda,” imbuhnya.
Selang beberapa menit...
Ia yang sudah selesai membersihkan diri dengan air, mengambil bath robes. Lalu menutup pintu kamar mandi dari luar.
Lanjut menuju wardrobe. Berbagai jenis pakaian dengan harga yang fantastic tergantung di dalam. Karena akhir-akhir ini sering hujan, udara juga terasa dingin. Arka memutuskan untuk memakai kemeja berlengan panjang yang dipadukan dengan celana bahan.
Nisa yang baru saja selesai masak, buru-buru masuk ke kamar mandi. Ia cepat-cepat membersihkan diri di dalam.
Seusai itu, ia meraih bath robes. Kemudian berpakaian untuk ke kantor. Dan tak lupa, ia memakai make up alami keluaran perusahaannya.
Sudah cantik, saatnya menyusul Arka yang telah duluan ke meja makan. “Mama tidak ikut sarapan, Kak?” tanyanya yang tidak melihat sosok ibu mertuanya di situ.
“Mama pergi jogging. Tenang saja, mama pasti makan nanti. Makanan seenak ini tidak mungkin mama biarkan basi begitu saja.”
Nisa tersenyum manis mendengar kata-kata Arka barusan. Dari subuh sampai sekarang, Arka belum pernah melontarkan kata-kata kasar padanya. Semoga saja tidak pernah.
Semoga.
“Kamu tidak usah ke kantor. Di sini saja temani mama. Mama pasti kesepian kalau sendiri di sini,” tutur Arka setelah menyadari bibir Nisa terlihat lebam karena ulahnya tadi.
Ia sengaja menahan Nisa di mansion. Jangan sampai bibir lebam Nisa kedapatan Dara lagi. Bisa-bisa ia ketahuan habis mencumbui perempuan yang dianggap murahan itu.
“Kenapa tidak bilang dari tadi Kak? Kalau tahu mau dilarang, saya tidak perlu repot bersiap-siap ke kantor.” Nisa memanyunkan bibir.
“Begini saja, hari ini kamu ke kantor. Nanti saya minta mama pergi shopping biar tidak sunyi sendiri di sini. Tapi besok kamu harus temani mama di sini ya?”
Nisa menyahut dengan cepat. “Siap!!”
“Tapi ada syaratnya,” imbuh Arka yang menggantung ucapannya.
“Apa?”
“Kamu tidak boleh keluar dari ruangan. Apalagi sampai ke ruangan saya.”
Nisa beralih menatap curiga. “Kenapa?” tanyanya.
“Tidak usah banyak tanya! Silakan kamu pilih. Mau ke kantor tapi tidak boleh keluar-keluar atau ganti baju sekarang, temani mama di sini.”
__ADS_1
“Baik, saya janji tidak akan keluar-keluar. Tapi pulangnya bagaimana?”
“Tunggu saya di parkiran. Kita pulang sama-sama.”