
Selepas shalat isya, Nisa keluar kamar untuk membaca Al-Qur’an. Saat itu, Arka datang dan duduk di sampingnya yang tengah membaca surah Al-Kahf.
Melihat sang suami duduk di sebelahnya, Nisa berhenti sejenak. “Ada perlu apa Kak?” tanyanya yang cukup terganggu dengan kehadiran Arka.
Tanpa basa-basi, Arka langsung menarik Nisa ke dalam pelukannya. Lalu berkata, “Malam ini malam Jumat.”
Bulu kuduk Nisa jadi berdiri dibuatnya. “Tolong lepaskan pelukan Kakak! Saya mau simpan Al-Qur’an ini,” pintanya agar bisa menghindar dari kungkungan Arka.
Arka pun melepaskannya. Sejurus kemudian, Nisa menarik nafas lega dan buru-buru masuk ke kamar. Namun lagi, seberusaha apa pun ia menghindar, Arka tetap membuntutinya. Ya, sampai di kamar tidur mereka.
“Ada masalah apa sih Kak? Kenapa dari tadi mengikuti saya terus?” tanya Nisa dengan intonasi meninggi.
“Ajari saya shalat!” Suara Arka terdengar datar-datar saja.
“Nonton di YouTube saja Kak. Ketik tata cara shalat yang baik dan benar di kolom pencarian. Pasti banyak nanti video yang muncul. Soalnya saya mau kerja laporan, tadi Thira bilang harus selesai besok.”
Arka menyahut cepat. “Masalah laporan, nanti saya lobi ke Thira. Untuk sekarang, ajari saya shalat dulu.”
Nisa yang terjerembab titah Arka, terpaksa melayani Arka. Ia membuka aplikasi YouTube di gawainya. Dan dibukalah video tentang tata tata cara shalat yang baik dan benar.
Ia dan Arka kini menontonnya. Tiap kali ada poin yang penting, Nisa akan mem-pause-nya. Lalu menjelaskannya ulang ke Arka. Sesekali Arka mengajukan pertanyaan padanya jika belum mengerti.
Hingga sejam berlalu.
“Sudah dulu ya Kak, saya tidak enak hati kalau laporannya belum selesai. Apa kata Thira nanti? Bisa-bisa Thira dan karyawan lain menjudge saya yang tidak-tidak. Nanti ada yang bilang; Mentang-mentang istri CEO jadi semena-mena dalam bekerja.”
Arka spontan tertawa mendengar alasan Nisa. “Kalau begitu, kamu jadi asisten saya saja. Tidak akan ada yang menilai kamu seperti itu.”
“Malah lebih parah kalau jadi asisten Kakak. Orang-orang akan bilang saya jadi asisten karena yang punya perusahaan itu Kakak.”
“Banyak sekali alasanmu,” ucap Arka lalu mengatur alarm.
“Iya juga ya, pembahasannya jadi panjang lebar begini.”
Nisa bergegas mengambil laptop. Agenda yang telah ia rampungkan akan ia ketik. Baru saja akan memulai, keyboard laptopnya malah ngambek. Mati total, tak ada satu pun tombol yang berfungsi.
“Boleh saya pinjam laptop Kakak?”
Bak malaikat yang sedang menyamar, Arka berbaik hati untuk membantu Nisa. “Boleh. But, laptopmu kenapa? Rusak? Kalau rusak, besok saya belikan yang baru.”
“Hah? Jangan, jangan! Saya tidak butuh yang baru Kak. Ini masih layak pakai kok, keyboardnya saja yang bermasalah.”
“Sini saya perbaiki!” ucap Arka yang membuat Nisa sampai melongo karena perubahannya yang drastis.
“Boleh.” Nisa tersenyum manis, lalu meyerahkan laptopnya ke Arka.
“Perhatikan baik-baik! Nanti kalau bermasalah lagi, kamu bisa perbaiki sendiri.”
Nisa pun mendekat ke Arka.
Arka mulai menjelaskan. “Buka PC, terus klik kanan. Terus tekan manage. Tunggu sampai tampilannya berubah kayak begini.”
__ADS_1
Arka akhirnya berhasil menyeret Nisa untuk dekat-dekat dengannya.
“Terus apa lagi Kak?”
“Tekan Device Manager. Cari tulisan Keyboards, nah tekan keyboards nya.” Arka terus menjelaskan langkah-langkahnya dengan telaten sampai selesai.
“Keyboardnya masih belum bagus Kak,” keluh Nisa sambil menekan-nekan sembarang tombol keyboard di depan Arka.
“Sudah kamu restart belum?”
“Belum,” balas Nisa seraya menggeleng.
Arka refleks menepuk jidatnya. “Direstart dulu, Nisa.”
“Oh begitu ya? Hehe, maaf Kak. Saya tidak tahu.”
Nisa mengikuti arahan Arka, ia mematikan laptopnya. Kemudian mengaktifkannya kembali.
“Wah, sudah bagus Kak. Terima kasih ya,” tambahnya.
“Saya bantu kamu secara pamrih.” Arka menggantung ucapannya.
“Mau dibayar berapa Kak?” balas Nisa cepat.
“Saya tidak butuh uang, saya sudah punya banyak uang soalnya.”
“Terus? Bagaimana cara saya berterima kasih ke Kakak?”
“Temani saya periksa kualitas bahan make up dengan para mitra, besok.”
Arka menyeringai. “Jadi kamu menolak permintaan ini?”
Nisa mengangguk cepat.
“Baguslah, berarti kamu pilih opsi yang lain kan?” tanya Arka yang dibalas anggukan lagi oleh Nisa.
“Kalau begitu, mendekatlah ke sini! Saya sudah tidak tahan menjamah bibirmu lagi.”
“Hah?” Perasaan kesal menyelimuti Nisa.
“Tidak mau. Saya pilih opsi yang pertama saja,” lanjutnya.
“Nice choice, silakan lanjutkan buat laporan. Laptopmu sudah saya perbaiki. Oh ya, jangan sampai kamu bergadang. Saya tidak mau ya kamu kelihatan tidak bersemangat di depan mitra perusahaan kita, besok.” Arka lalu tersenyum puas sebelum menarik selimutnya.
“Jangan tidur dulu Kak! Saya punya syarat juga,” pinta Nisa.
“Apa?” tanya Arka di balik selimutnya.
“Besok malam, saya mau nginap di kontrakan. Kakak harus antar saya ke sana, biar tidak terkesan saya ke kontrakan tanpa izin Kakak.”
Kalimat itu terdengar tidak memberatkan bagi Arka. Jadi ia menjawab dengan cepat.
__ADS_1
“Boleh.”
“Wah. Terima kasih, Kak.”
Mimik bahagia terpancar di wajah Nisa. Bukan karena Arka tidak melarangnya nginap di kontrakan. Kalau masalah larang melarang ke kontrakan mah Arka tidak peduli sama sekali.
Yang bikin Nisa senang, karena Arka bersedia mengantarnya. Setidaknya keluarganya akan lebih menerimanya jika datang diantar Arka.
Nisa cepat-cepat menyelesaikan ketikannya. Buru-buru mematikan lampu setelahnya. Then tidur di samping sang suami.
Subuh telah tiba.
Nisa bangun dan menoleh ke samping. Ada yang berbeda subuh ini, Arka yang biasanya tidur nyenyak seperti anak kecil di jam segitu, tidak ada di tempat.
“Kak Arka mana ya?” Nisa bicara sendiri.
Tetiba, suasana subuh yang teramat tenang itu pecah oleh suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Dan beberapa menit setelahnya, Arka keluar. Dari wajahnya yang basah, Nisa menebak-nebak, sepertinya Arka habis wudhu.
“Kak Arka habis wudhu atau cuci muka saja?” Ia bertanya-tanya dalam hati.
Arka menarik kedua sudut bibirnya. Lalu berujar, “Cepat wudhu! Kita shalat subuh berjama’ah.”
Nisa yang berpikir sedang berada di kondisi tidak sadar, mencubit pipi sebelah kirinya.
“Aww, sakit.”
“Kamu memang tidak mimpi. Cepat wudhu! Kalau kamu lambat, saya shalat subuh sendiri saja.”
“Maa Syaa Allah, kak Arka jadi tambah ganteng kalau habis wudhu begitu.”
“Darimana saja kamu selama ini? Tiap hari kita ketemu, tapi baru kali ini kamu sadar kalau saya ganteng. Pasti ada yang salah dengan matamu. Sebaiknya kamu cepat-cepat periksakan matamu itu!”
Jantung Nisa berdebar lebih kencang dari biasanya. Mungkin karena subuh ini ia juga lebih bahagia dari biasanya.
Ia beranjak cepat menuju kamar mandi. Berwudhu, mengambil mukena, lalu berdiri sebagai makmum di belakang Arka.
Yup, dua orang itu lebih terlihat sebagai sepasang suami istri sekarang. Sehabis berdoa bersama, Arka berbalik dan menyodorkan punggung tangannya.
“Mau dipijat Kak?” tanya Nisa cepat.
“Aish, perempuan tidak bermutu. Cium tangan saya!”
“Cium?” Otak Nisa ngelag.
“Iya. Atau kamu mau cium bagian tubuh yang lain?”
Permintaan Arka barusan terasa susah bagi Nisa. Bagaimana tidak? Mencium punggung tangan Arka saja ia malas, apalagi mencium bagian tubuh yang lain.
Nisa pun mengecup punggung tangan Arka. Entah kenapa, ia merasa ingin tertawa setelah melakukannya.
__ADS_1
“Kenapa kamu senyum-senyum?” tanya Arka disertai tatapan sinisnya.
“Kakak keren sekali hari ini,” balas Nisa guna menutupi perasaan menggelitiknya.