
Thira dan yang lain memasuki mobil Farel. Mereka sengaja mengosongkan kursi depan agar Nita duduk di samping Farel.
Mobil pun melaju, memecah riuh kota yang didominasi oleh kendaraan para pekerja yang berpulangan di senja kala.
Si empunya mobil pun mengantar satu per satu rekannya. Hingga yang tersisa di dalam kendaraan pribadinya tersebut hanya ia dan Nita.
So awkward.
“Nita, mampir sebentar yuk di rumah! Mama tanyakan kamu terus, dia rindu.”
Nita termenung agak lama.
“Sebentar saja Ta! Habis ini kamu kan balik ke Kalimantan. Entah kapan kamu ke sini lagi. Kasihan mama, dia tanyakan kamu terus.”
“Okay kita ke rumahmu! Tapi sebentar doang kan?”
“Iya bawel.”
Setibanya di rumah Farel.
“Nak Nita darimana saja? Kebetulan sekali kamu datang, Nak. Nyonya Ravelva sudah lama menanyakan kamu terus,” sambut bi Atun.
“Saya pulang kampung, Bi. Farel juga bilang begitu tadi, makanya saya sempatkan mampir dulu sebelum balik ke Kalimantan.”
“Silakan duduk Nak! Saya panggilkan nyonya, dia pasti senang sekali karena kedatangan nak Nita.”
“Iya Bi.”
__ADS_1
“Buat minum juga ya Bi!” perintah Farel.
“Baik Tuan kacak.” Bi Atun buru-buru pergi untuk melaksanakan tugasnya.
Nita mengernyitkan alis seraya menatap Farel. “Kacak? Kacak itu artinya tampan kan, Rel?”
“Iya, kenapa Ta?” Farel menyeringai.
Nita refleks mendorong pelan bahu Farel. “Ya elah Rel, kepedean beut kamu mau dipanggil kacak.”
“Yah mau bagaimana lagi Ta. Mantan rekan kerjamu ini memang kacak dari lahir. Tidak niat kah memperbaiki keturunanmu?”
Nita meringis. Baru saja akan menjawab pertanyaan Farel, tiba-tiba gawainya berdering karena sebuah panggilan.
Nita segera mengangkat panggilan telepon itu.
“Iya, halo Kak.” Senyum terpatri di wajahnya.
“Lagi bertamu ke rumah orang, Kak.”
“Ke rumah siapa?” Si jejaka di seberang sana kian possessive.
Nita menatap Farel selama beberapa detik. “Rumah teman Kak,” balasnya kemudian.
Lelaki gagah itu pun memutuskan panggilan teleponnya setelah mengetahui Nita sedang baik-baik saja.
Nita kemudian menyimpan ponselnya ke dalam tas. Senyum manis menghiasi wajahnya.
__ADS_1
“Siapa Ta? Pacar kamu?”
“Teman bruhh.” Nita tersenyum lebar, sampai-sampai giginya yang rapi dan putih kelihatan.
“Teman atau deman?” tanya Farel sembari tersenyum kecut.
Betapa menyesalnya ia, lantaran dulu tak menjatuhkan hatinya pada perempuan yang sedang duduk di sebelahnya. Di saat hubungan mereka tidak seintim dulu lagi. Bahkan hati Nita tampaknya sudah bertuan sekarang.
“Teman, Rel.”
Nita memberikan penekanan pada kalimat singkatnya. Walau mulutnya berkata lelaki yang menelepon barusan itu hanya teman, tetap saja wajahnya tak bisa menutupi perasaan deman yang terpancar dari hati.
“Teman tapi perhatiannya melebihi teman. Bisa aja kamu ngelesnya. Bilang saja kalau itu pacar kamu,” ungkap Farel sembari mencubit hidung Nita.
Mati-matian ia menyembunyikan rasa cemburunya.
“Iya deh, saya ngaku. Dia itu seperti teman tapi mesra buat saya. Sudah banyak kali dia mengatakan cinta, tapi tidak saya gubris.”
Farel yang tenggelam pada rasa penasaran, cepat-cepat bertanya. “Kamu juga suka sama dia kan?”
Nita mengangguk cepat.
“Terus, kenapa kamu tidak mau jadi pacarnya?”
“Supaya kalau suatu hari dia suka sama perempuan lain, kami masih menjadi teman. Beda cerita kalau saya menerima dia jadi pacar. Kalau dia jatuh cinta ke perempuan lain, dia akan minta putus. Saya akan jadi mantan pacarnya dan hubungan kami juga pasti jadi renggang. Makanya lebih baik berteman tanpa melibatkan perasaan terlalu dalam. Soalnya sakit melihat orang yang kita sayang, ternyata sayangnya ke orang lain.”
Nita tersenyum kecut setelahnya. Akhirnya, perasaan sakit hati sejak tiga tahun lalu, separuhnya telah ia kembalikan ke Farel.
__ADS_1
Farel pun berinisiatif untuk meminta Nita agar mendampinginya seumur hidup. Tapi ibu dan pembantunya malah keburu datang.
Damn, rusak sudah rencana lamarannya.