Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Takut


__ADS_3

“Kami sangat menghargai kedatangan keluarga Bapak dan Ibu ke mari untuk melamar Nisa. Kami selaku orang tua mengikut keputusan Nisa saja,” balas pak Nugroho.


“Bagaimana, Nak? Kamu terima lamaran anak ibu ini atau tidak?” tanya bu Faridah.


Slow motion


Benak Nisa kembali pada kenangan tadi pagi. Saat ia dan Arka terbangun dalam keadaan saling merangkul tanpa busana. Dimana kemungkinan terbesarnya adalah, mereka telah melakukan hubungan intim.


Pertanyaan bagaimana kini menyerang pikiran Nisa.


Bagaimana jika nanti ia hamil tanpa suami? Pasti bukan hanya dia yang akan dihina, tapi kedua orang tuanya juga, karena dianggap tidak becus dalam mendidik anak.


Bagaimana jika ia melahirkan juga tanpa suami? Anaknya yang harusnya diazankan oleh suaminya, akan beralih diazankan oleh ayahnya.


Bagaimana jika nanti anaknya tumbuh tanpa sosok ayah? Anaknya kemungkinan besar akan mengidap fatherless daughter syndrome. Penyakit yang menyebakan penderitanya terus-menerus membuat keputusan buruk saat menjalin hubungan dengan pria.


Ia tak mau orang tuanya dihina, tak ingin anaknya diazankan oleh ayahnya, dan tak akan membiarkan anaknya mengidap fatherless daughter syndrome.


Pada akhirnya, hanya menerima lamaran itulah satu-satunya cara agar ia bisa terhindar dari hal-hal yang tak diinginkan tersebut.


“Iya. Saya bersedia jadi istri pak Arka.”


Daniel yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Nisa kembali bermonolog dalam hati. “Pasti bukan perempuan ini yang menjebak Arka. Dia mengiyakan lamaran ini saja secara perlahan. Kalau memang dia yang menjebak, pasti cara jawabnya menggebu-gebu.”


Sedangkan Farel, ia hanya bisa mecoba untuk ikhlaskan. Meski rencana pernikahan Nisa dan Arka telah memporak-porandakan separuh jagat rayanya.


“Alhamdulillah,” ucap bu Haifa seorang diri. Yang lain diam saja.


Acara meminang itu pun dilanjutkan dengan menentukan tanggal pernikahan. Pak Pradipta meminta untuk dilakukan tiga hari lagi.


“Apa ini tidak terlalu terburu-buru, Pak?” tanya pak Nugroho.


“Saya rasa tidak, Pak. Hal yang baik memang harus disegerakan. Bapak tenang saja, masalah pernikahan ini kami yang mengurus sepenuhnya. Untuk pakaian, kami akan siapkan pakaian terbaik untuk keluarga Bapak.”


Bu Faridah melangkah ke dapur. Saat kembali, ia membawa beberapa gelas teh hangat dan dua toples biskuit.


Terlalu ala kadarnya untuk orang berada seperti keluarga pak Pradipta. Meski begitu, mereka tetap mencicipi. Ya, demi menghargai.


Acara lamaran selesai, kedua belah pihak saling bersalam-salaman. Setelahnya, keluarga pak Pradipta beranjak cepat untuk menyiapkan resepsi pernikahan Arka dan Nisa.


“Calon istrimu cantik. Buat saya saja,” canda Daniel yang hanya berdua dengan Arka di dalam mobil (Farel dan kedua orang tuanya di mobil yang satu).

__ADS_1


“Ambil saja wanita murahan itu,” jawab Arka. Ia tak cemburu sama sekali.


“Dia perempuan baik-baik, tidak murahan seperti yang kamu tuduhkan.”


“Jangan tertipu dengan penampilannya, Kak. Dia memang terlihat baik di luar, tapi sangat buruk di dalam.”


Daniel bersikukuh. “Saya justru sangat yakin dia perempuan baik-baik.”


“Bela saja terus perempuan murahan itu.” Arka jadi ngebut.


“Hati-hati kalau bicara. Jangan sampai nanti kamu malah cinta mati sama dia.”


“Tidak akan pernah, Kak.”


Arka hanya mengantar Daniel pulang, lalu kembali ke kantor. Itu karena ia tak mau ikut andil mengurusi pernikahan yang tak diinginkannya.


Arka berjalan ke ruangan Dara.


Awalnya, Dara ingin resign dari kantor itu. Tapi diurungkan karena ibunya yang sakit parah. Jika bukan dirinya, lantas siapa yang akan menebus biaya pengobatan sang ibu? Sementara ayahnya sudah lama meninggal. Dan hanya ia satu-satunya lah anak bu Starla.


Menyadari kehadiran Arka, Dara cepat-cepat berdiri untuk keluar dari ruangannya. Tapi ditahan oleh Arka yang berdiri tepat di depan pintu.


“Minggir, saya lapar. Mau sarapan di cafe,” ucap Dara ketus.


“Saya tidak punya waktu.” Dara mendorong paksa tubuh Arka, tapi sama sekali tak berhasil membuat lelaki itu pindah dari tempatnya.


“Saya akan menikahi Nisa. Tapi sampai kapan pun rasa cinta saya cuma ke kamu.”


“Daebak. Kemarin, kamu mengaku tidak bersalah. Hari ini, kamu bilang akan menikahi dia. Kalau memang merasa tidak bersalah, kenapa sampai menikahi dia?” Dara terisak.


Arka memeluk erat tubuh mungil kekasihnya itu. “Saya memang tidak bersalah sayang. Saya menikahi dia, demi mempertahankan perusahaan ini. Kita sudah lama menjalin hubungan, sayang. Apa pernah saya selingkuh? Tidak kan?”


Dara yang terjebak dalam pelukan Arka menyahut pelan. “Tidak.” Air matanya terus


berjatuhan.


“Itu karena rasa cinta saya memang cuma buat kamu.”


“Percuma juga rasa cinta kamu ke saya. Tapi ragamu milik Nisa. Kalian tetap akan jadi suami istri. Dan lama kelamaan kamu bisa jatuh cinta sama dia. Witing tresno jalaran soko kulino. Kalau sudah di fase itu, kamu pasti membuang saya.”


“Raga saya akan sering bersama Nisa, tapi tidak dengan jiwa saya. Cuma kamu yang saya cinta, sayang. Selamanya.” Arka mencium dahi Dara. “I promise.”

__ADS_1


Perlahan, Dara luluh. Akhirnya ia percaya bahwa Arka lah yang dijebak Nisa. Sepuluh tahun berpacaran, Arka memang tidak pernah berselingkuh. Dan itu lebih dari cukup untuk meyakinkan dia bahwa Arka memang lelaki yang setia.


Dara jadi tidak sudi lelakinya menjadi suami orang lain. “Kamu janji ya, tidak akan jatuh cinta sama dia.”


“Janji sayang.” Arka mempererat pelukannya.


“Kalau perlu, perempuan itu akan saya kasih pelajaran. Biar tidak seenaknya lagi menjebak orang lain.”


“Iya, kasih dia pelajaran. Tapi jangan sampai menyakiti dia berlebihan ya, sayang.”


“Untung kamu yang minta. Kalau tidak, dia pasti menyesal seumur hidup telah menjebak saya.”


“Sudah peluknya, saya lapar.” Dara melepaskan tangan dari punggung Arka.


“Iya, sayang.” Arka mencubit pipi chubby Dara.


“Saya yang bayar makanannya.”


Pembicaraan baik-baik mereka, berakhir dengan hasil yang baik pula. Mereka sepakat akan tetap menjalani hubungan itu, meski Arka dan Nisa akan jadi suami istri nantinya.


Di tempat lain, Daniel menemani Farel menuju bandara. “Kenapa mau pindah ke Malaysia sekarang? Tidak tunggu Arka selesai menikah dulu,” tuturnya yang sedang mengemudikan mobil.


“Saya takut kehabisan ayam goleknya opah,” gurau Farel.


“Serius dek! Dari dulu kamu ditawari papa untuk jadi CEO di sana, tapi lebih memilih jadi direktur di sini. Sekarang, tiba-tiba saja kamu mau ke sana. Pasti ada masalah besar yang membuat kamu berubah pikiran dengan cepat kan?”


Farel menarik nafas dalam-dalam, lantas membuangnya pelan-pelan. “Calon istri Arka adalah perempuan yang saya incar selama ini.”


Daniel mengernyitkan dahi. “Incar untuk apa?”


“Dijadikan istri lah, Kak. Memangnya Kakak, otak se-lang-ka-ngan.”


“Saya begini karena ditinggal istri. Coba kalau dia masih hidup, saya pasti jadi lelaki yang paling calm di dunia.”


Mereka berdua membisu sesaat.


“Kenapa tidak kamu perjuangkan?” imbuh Daniel.


“Apanya yang mau diperjuangkan? Dia lebih memilih Arka.”


“Arka mabuk gara-gara masalah tadi pagi itu. Nisa menangis sampai matanya bengkak. Saya yakin mereka tidak melakukan itu dengan sengaja.”

__ADS_1


“Keputusan saya sudah bulat untuk ke Malaysia, Kak. Jangan katakan apa pun yang bisa bikin saya berubah pikiran. Saya sudah rela dengan semua yang terjadi. Mungkin Nisa memang bukan jodoh saya.”


__ADS_2