Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Jangan Mendekatinya!


__ADS_3

“Temani saya olahraga!” pinta Arka.


Nisa yang berencana untuk memasak sekarang, menyahut cepat. “Olahraga sendiri saja, Kak. Biasanya juga begitu.”


“Biasanya, karena saya cuma angkat barbel. Hari ini saya mau main bulu tangkis, tidak bisa kalau cuma sendirian.”


“Tapi saya mau masak, Kak.”


Arka menyahut cepat. “Mitra kita janjinya datang jam sembilan. So, kamu tidak usah khawatir akan terlambat.”


Mau tidak mau, Nisa yang niatnya hanya setengah-setengah untuk berolahraga, kini setuju untuk menemani Arka bermain badminton.


“Jangan malas-malas kalau disuruh suami! Ingat, menyenangkan suami itu kewajiban seorang istri. Bisa dapat pahala yang banyak kalau kamu lakukan.”


Kata-kata Arka berdengung panjang di telinga Nisa. Ia kini antusias setelah mendengar kata pahala dikumandangkan oleh suaminya itu.


Keduanya pun berdiri, berseberangan.


Tangan kiri Arka memegangi shuttlecock, mengangkatnya hingga sejajar dengan dada. Tangan kanannya memukul bola bulu tangkis tersebut hingga melambung sampai ke seberang net.


Nisa membalas, rangakain bulu angsa dengan pangkal setengah bola gabus itu dibuat melambung tinggi ke hadapan Arka.


Suaminya di sebelah menyambut shuttlecock itu dengan melompat sedang. Dipukulnya dengan keras dan tajam bola bulu tangkis tersebut.


Cock itu mendarat begitu saja. Tak ada perlawanan lantaran Nisa tak mampu membendung pukulan smash dari Arka.


Nisa terus mencoba menahan smash dari Arka. Namun berapa kali pun ia mencoba, tetap saja ia gagal terus.


“Kak Arka main sendiri saja,” ucapnya yang lelah.


“Mana ada orang main badminton sendirian. Kamu kenapa tidak mau main lagi? Capek?”


“Capek lah, Kak. Dari tadi saya pungut bola terus. Kakak terlalu semangat sih smashnya.” Nisa menekankan ujung kalimatnya.


“Oh, kamu tidak suka kalau saya smash terus? Kenapa tidak bilang dari tadi? Ya sudah, kita main santai saja sekarang.”


“Sudahi saja, Kak. Saya mau masak.”


“Ya sudah, sana masak! Saya juga sudah lapar.”


Nisa kini berjalan ke dapur. Peluh yang keluar dari pori-pori tubuhnya dilap terlebih dulu, sebelum ia berkolaborasi dengan alat-alat dapur.


Hari ini, ia ingin makan yang manis-manis. So, menunya akan jauh berbeda dengan menu-menu yang biasanya ia buat untuk sarapan.

__ADS_1


Telur, gula pasir, vanili dan ovalet ia mixer sampai benar-benar mengembang. Setelah itu, ia masukkan tepung terigu dan mentega cair ke dalamnya.


Adonan yang telah merata tersebut Nisa masukkan ke baking pan. Lalu menaburkan coklat sebelum dipanggang dengan api sedang. Setelah masak, bolu panggang itu ia turunkan dari api.


Next, ia ke kamar mandi dengan perasaan yang bahagia.


Selepas sarapan, Nisa dan Arka menuju garasi.


“Duduk di depan!” perintah Arka pada Nisa yang sedang membuka pintu tengah mobil.


Nisa mengernyitkan dahi. “Kenapa di depan? Kan tidak ada orang tua kita di sini.”


“Kita langsung ke plantation nanti. Apa kata para mitra kalau lihat kamu duduk di belakang? Kelihatannya kita seperti bukan suami istri. Malah lebih mirip supir dan nyonya nya.”


Nisa terdiam sejenak.


“Cepat masuk, Nisa! Jangan sampai kita keduluan mitra sampai di sana.”


Nisa bergegas masuk.


Akhir-akhir ini, ia bisa diajak kerja sama dengan mudah. Mungkin karena Arka juga jadi lebih mudah untuk diajak komunikasi.


Semakin lama mereka meninggalkan kota, semakin asri pula jalanan yang mereka lalui. Pepohonan yang rimbun di tepi jalan, sungguh memberi kenyamanan tersendiri bagi setiap mata yang memandang.


“Paham, Kak. Lebih bagus begitu, saya juga jadi lebih leluasa dalam berekspresi. Kalau saya di dekat Kakak terus, rasanya kaku banget.”


Arka spontan menggerutu. “Rata-rata lelaki ganteng memang kaku, Nisa. Coba lihat chef Juna dan Nicholas Saputra, semuanya kaku kan seperti saya?”


Hampir saja Nisa terbahak-bahak mendengar pengakuan dan pertanyaan Arka.


Beruntung, ia cukup jeli dalam mengontrol diri. Ia cepat-cepat menghadap ke samping agar Arka tak melihat pipinya yang mengembang karena menahan tawa.


Selang beberapa menit, mereka tiba di perkebunan. Keduanya pun turun dari mobil.


Kata-kata Arka di mobil tadi, menjadi acuan bagi Nisa untuk bertindak bagaimana di situ. Jika Arka ke sebelah kanan, maka ia ke sebelah kiri. Jika Arka ke Utara, maka ia ke Selatan.


Intinya, mereka harus berpencar. Lantas nanti kumpulnya di tengah-tengah perkebunan yang sangat luas itu.


“Morning chagiya!” sapa Dara seraya menepuk dada Arka.


“Hush, jangan begitu sayang! Jangan sampai ada mitra yang melihat kita sedekat ini. Bisa-bisa mereka curiga nanti dengan hubungan kita.”


Dara pun bersikap profesional sesuai permintaan Arka. Ia tetap mengekori Arka, tapi tidak melewati batas wajar antara bawahan dan atasannya.

__ADS_1


Di sisi lain. Mendadak, Maher menyapa Nisa.


“Apa kabar pengantin baru?” tanyanya yang tahu bahwa Arka dan Nisa menikah hanya karena terpaksa.


“Alhamdulillah ‘ala kulli hal, Kak.”


“Kenapa jawaban kamu seperti orang yang tidak bahagia? Harusnya kamu lebih bahagia setelah menikah, karena ada teman hidup. Jadi kamu tidak kesepian lagi.”


“Menikah kan ada lika-likunya Kak. Tidak setiap hari suami istri bahagia terus, kadang ada saja cek cok yang harus dihadapi dengan kepala dingin.”


Melihat ekspresi Nisa yang cukup sedih, Maher berhenti menanyakan masalah rumah tangga padanya.


“Kenapa perusahaan kamu memproduksi tomato sheet mask? Padahal banyak buah lain yang lebih baik dari tomat,” ungkapnya demi mengalihkan topik pembicaraan.


“Karena tomat bisa menghilangkan flek. Makanya kami coba buat masker wajah dari tomat, Kak. Alhamdulillah, ternyata banyak yang suka pakai.”


Statement tersebut bukan serta-merta opini Nisa saja. Semua yang ia lontarkan telah ia cari referensinya terlebih dulu. Hal itu juga telah dikaji baik-baik oleh pihak perusahaannya.


Tibalah mereka di spot terakhir, titik kumpul bertemunya kembali para mitra dan pihak perusahaan.


“Ini apelnya boleh dimakan kah?” tanya Maher lagi.


“Iya, boleh Kak. Silakan!” balas Nisa cepat.


Ia sebenarnya kurang tahu masalah boleh makan apel di situ atau tidak. Akan tetapi, tidak mungkin juga kan ia melarang Maher untuk memakan buah berkulit lunak nan berwarna merah tersebut?


Maher lalu memetik dua buah. “Ini pasti enak,” tuturnya sembari menyerahkan satu ke Nisa.


Nisa meraihnya sambil menarik kedua sudut bibirnya. “Terima kasih, Kak.”


Arka menyaksikan perhatian Maher itu ke Nisa. Ia yang awalnya memilih untuk cuek bebek, kini tak mampu lagi bersikap apatis setelah menyaksikan Maher terus-terusan membuntuti Nisa.


Ia cepat-cepat memetik apel yang berwarna merah darah. Dengan cekatan ia mendekat ke Nisa. “Makan ini!” perintahnya.


Nisa menggeleng tanda tak setuju.


“Kenapa tidak mau?” tanya Arka disertai tatapan mengintimidasi.


“Ini sudah ada, dikasih kak Maher. Apel itu Kakak saja yang makan.”


Arka yang tak terima dengan permintaan Nisa, merampas buah apel yang Maher berikan pada istrinya. Adapun buah yang ada di genggamannya, ia serahkan pada Nisa.


Jadilah Nisa memakan buah apel darinya, bukan buah yan dipetikkan Maher.

__ADS_1


__ADS_2