
“Kamu mau kemana?” tanya Daniel saat Arka ikut berdiri.
“Ke dapur.”
“Woo, dasar manja. Istri ke dapur, kamu ikut ke dapur. Seperti anak bebek saja, suka mengekor.”
“Bilang saja kamu iri. Makanya menikah lagi, biar bisa mengekor seperti bebek.” Arka tetap ke dapur.
In the kitchen.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Arka pada sang istri. Ia berubah jadi lebih perhatian. Berharap, dengan begitu Nisa mau memaafkannya.
Selang beberapa menit.
“Bawa ini keluar. Kalau ada yang tanyakan saya, bilang saya mau masak dulu. Kalau sudah selesai, saya pasti cepat-cepat keluar.”
Arka kemudian mengangkat loyang yang memuat beberapa cangkir teh itu ke ruang keluarga. “Tuang sendiri-sendiri,” ujarnya lalu kembali ke dapur.
“Mereka lagi apa ya? Kelihatannya sibuk sekali,” tutur bu Haifa.
“Lagi buat anak kali Ma,” celetuk Daniel.
Pak Pradipta melemparkan bantal ke Daniel.
“Otakmu itu,” ucapnya dengan padangan mata yang amat tajam.
Sementara di dalam dapur.
Arka membantu Nisa memotong-motong wortel. Baru kali ini ia merasa bahwa memasak itu menyenangkan.
Lebih tepatnya, apa pun yang ia lakukan bersama Nisa pasti akan menyenangkan baginya.
“Ayo lomba potong wortel,” tantang Arka.
“Apa hadiahnya?” tanya Nisa cepat.
“Kalau saya menang, kamu wajib menuruti satu perintah saya. Perintah apa pun yang saya kasih harus kamu turuti. Kalau kamu yang menang, saya yang akan menuruti satu permintaanmu. Apa pun itu.”
“Baik,” jawab Nisa.
Taruhan itu membakar semangat mereka.
Arka mulai memberi aba-aba. “Satu, dua, tiga, mulaiii.”
Suara mata pisau yang bertabrakan dengan talenan semakin lama semakin menimbulkan suara. Daniel, bu Haifa, dan pak Pradipta jadi penasaran dibuatnya. Mereka semua masuk ke dapur.
“Kalian lagi apa?” tanya bu Haifa pada Nisa dan Arka yang sibuk memotong-motong wortel.
Sialnya, menantu dan anaknya itu tidak menggubris. Keduanya terlalu sibuk berlomba untuk memotong wortel itu sampai habis.
__ADS_1
Nisa mengangkat tangannya ke atas. “Saya menang,” ucapnya saat lima wortel telah habis ia potong-potong.
Sementara Arka, masih ada satu wortel utuh di samping. “Saya kalah. Apa perintahmu?” tanyanya sambil melempar satu wortel lagi ke Nisa.
Sudah terlanjur kalah. Sekalian saja Nisa yang habiskan memotong-motong lobak merah yang akan ia olah menjadi camilan tersebut.
“Nanti saja saya kasih tahu,” balas Nisa yang mampu mengalahkan Arka pada lomba dadakan itu.
“Kalian lagi apa itu?” Bu Haifa mengulangi pertanyaannya yang tidak dibalas tadi.
“Kami belajar memotong wortel ala-ala chef ternama Ma,” jawab Arka.
“Ayo keluar ngeteh! Keburu tehnya dingin nanti,” panggil pak Pradipta.
“Terima kasih, Pak. Nanti kami keluar,” sahut Nisa.
Daniel beserta kedua orang tuanya pun kembali ke ruang keluarga. Meninggalkan pasutri gaje tersebut dengan potongan wortel mentah di ats meja.
“Apa permintaanmu?” tanya Arka lagi setelah keluarganya tak nampak lagi di pelupuk mata.
“Saya mau tinggal di rumah baru selama sebulan.”
“Tidak bisa! Kamu curang sekali, mengajukan permintaan yang sulit sekali dilakukan. Licik sekali kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan.”
“Tidak boleh begitu dong Kak. Kakak sendiri tadi yang kasih aturan. Kalau saya menang, Kakak akan menuruti apa pun itu. Harus berani tanggung resiko dong. Mulai besok, saya nginap di rumah sampai sebulan.”
Arka kesal, sampai-sampai membanting talenan. Ia yang tak sudi dengan permintaan Nisa, auto keluar. Bergabung dengan yang lain di ruang keluarga.
Wortel yang telah dipotong-potong Nisa kukus. Sambil menunggu kukusan wortel itu matang, ia nyambi membaca novel yang berjudul Revenge in Marriage.
Setelah membaca beberapa bab, ia memeriksa kembali rebusan lobak merah itu. Ternyata sudah matang, ia pun mengangkat dan menyisihkannya.
Nisa makin sibuk menyiapkan:
Adonan kering; tepung terigu, tepung maizena, dan kaldu jamur bubuk
Adonan basah; tepung terigu, tepung maizena, kaldu jamur bubuk, oregano, lada bubuk, garam dan air
Masing-masing adonan Nisa campurkan, hingga merata dengan sangat baik.
Next, ia memasukkan wortel yang telah dikukus tadi ke adonan kering lalu ke adonan basah. Ia masukkan lagi ke adonan kering sambil ditepuk-tepuk. Supaya wortel tidak menempel terus, seperti Dara dan Arka.
Kemudian, Nisa memanaskan minyak goreng. Wortelnya ia naikkan ke minyak goreng panas, sampai warnanya kuning kecoklatan.
Jadi deh wortel crispy.
Bentuknya? Menggoda.
Rasanya? Bikin nagih, kayak Arka ke Nisa gitu.
__ADS_1
Keripik wortel itu Nisa bawa ke ruang keluarga. “Mari makan!” ujarnya lalu menggigit satu buah kerupuk wortel yang bentuknya agak panjang.
“Hujannya makin deras. Kalian menginap saja di sini. Sudah lama juga kamar Arka tidak dihuni,” pinta bu Haifa.
“Iya, Ma.” Nisa setuju untuk menetap di situ, hanya malam itu saja. Besok-besok, tinggalnya di rumah baru pemberian Arka.
Bu Haifa mematikan TV. Malam itu, ia khususkan untuk quality time dengan mengobrol satu sama lain. Dan tepat di pukul sepuluh malam, mereka semua bubar.
Menghambur ke kamar masing-masing
Arka membawa Nisa masuk ke kamarnya. Mereka yang lelah, begitu mudahnya menutup mata.
Di sepertiga malam, Arka meraba-raba. Mungkin mencari keberadaan teman hidupnya. Ia membuka mata secara perlahan, ternyata Nisa memang tak ada di sampingnya. Ia yang penasaran kemana perginya, mencari-cari di dalam rumah.
Pencariannya terhenti di mushallah rumah.
Istrinya yang cantik itu ternyata sedang melangitkan doa. Entah apa doanya, yang Arka tahu, istrinya sampai terisak saat meminta. Hatinya terenyuh kala memandang momen haru itu.
Arka mengulurkan tangan ke Nisa yang baru saja selesai berdoa.
“Eh.. Kak Arka buat apa di sini?”
“Cari kamu,” jawabnya blak-blakan. “Ayo ke kamar lagi!” tambahnya seraya mengulurkan tangan.
Keinginan untuk menolak, lebih kuat dari keinginan Nisa untuk menerima. Jadi Nisa menepisnya pelan.
“Saya mengantuk sekali Kak,” tolaknya secara halus.
Nisa berjalan ke kamar dengan cepat. Ia naik ke ranjang dan mencoba untuk menutup mata lagi. Tapi ia sudah terlanjur insomnia.
Arka ikut naik ke ranjang dan langsung
memeluk Nisa. Dan Nisa menampik tangan Arka. “Tolong tangan Kakak dikondisikan!”
“Lusa kita ekspansi ke Sulawesi Barat.”
“Tidak mau. Kenapa saya yang harus ikut? Saya kan bukan kepala divisi,” balas Nisa setengah berteriak.
“Jangan terlalu ribut! Nanti kita dicurigai lagi bikin anak. Padahal kita cuma ngobrol biasa.”
Nisa memelankan suara. “Makanya, Thira saja yang ikut ekspansi. Biasanya juga dia dan para senior yang pergi.”
“Kamu lupa sudah merevisi aturan untuk divisimu dengan Farel?”
“Kembalikan saja ke aturan yang lama!”
“Tidak bisa Nisa. Peraturan baru yang telah disetujui bersama, tidak boleh dikembalikan seperti semula.”
“Tapi kan aturannya mengikut ke jadwal.”
__ADS_1
“Memang begitu. Yang ikut ekspansi kali ini adalah Ratna, kamu, dan Chelsea. Jangan coba-coba menolak lagi! Ini aturan perusahaan, bukan aturan saya.”