
Nita kembali ke ruangan. Ia bekerja sambil menunggu Farel, tapi lelaki kece itu belum datang juga. Membuat perasaan rindu menghinggapi dirinya.
“Farel ke mana ya? Self heeling-nya kok lama beut? Ruangan ini jadi sepi kalau tidak ada dia di sini.”
Ia meraih ponsel. Diteleponnya Farel untuk ke sekian kalinya. Masih seperti kemarin, nomor Farel tetap tak dapat dihubungi. Socmed-nya juga tak ada yang aktif.
“Saya harus cek ke rumahnya nanti,” tutur Nita yang tak bersemangat.
Nisa juga sudah tiba di ruangannya. Ia duduk dan terdiam sejenak. Barulah memeriksa tas, mengambil laporan laba rugi di divisi regional. Tapi ternyata, ia salah ambil laporan. Yang ia bawa justru laporan perubahan modal milik Arka.
Ia cepat-cepat membawa laporan perubahan modal tersebut ke lantai 10. Sebelum suaminya yang eksotis itu beralterasi menjadi rubah ekor sembilan.
“Kamu tidak lebih dari sekadar fragmen kebencianku.” (Kurama)
Di dalam ruangan Arka.
“Bagaimana malam pertamamu, sayang?” goda Dara.
“Sangat menyenangkan.” Arka berbalik menggoda. Ingin tahu seperti apa reaksi sang kekasih jika ia berkata seperti itu.
“Oh, ya? Sampai berapa ronde mainnya?” Dara terkekeh.
“Saking banyaknya, saya jadi lupa berapa. Ingatkan nanti malam, biar saya tidak lupa hitung.” Arka memasang mimik serius. Berharap dengan begitu, ia dapat mengelabui Dara.
“Kamu bercanda kan?” Dara memanyunkan bibir.
“Iya, bercanda. Makanya jangan tanya begitu lagi. Masih banyak hal yang bisa kita bicarakan. Kenapa harus bahas malam pertama saya dengan dia?”
“Cuma mau pastikan kamu tidak khilaf, sayang.”
Arka menggenggam jemari Dara. “Sampai kapan pun, saya tidak akan pernah making love dengan Nisa.”
Terendus aroma cinta dalam kalimat Arka yang singkat itu. Sekelompok kata yang juga terdengar oleh Nisa yang berdiam diri di luar.
Betapa menyakitkan perkataan orang-orang di kantor tentangnya. Tadi, difitnah Nita. Sekarang, suaminya berjanji ke perempuan lain untuk tidak menyentuhnya.
Nestapa sekali hidupnya.
“Janji ya, sayang. Kamu Cuma akan melakukannya dengan saya,” pinta Dara dengan derai air mata.
__ADS_1
“Iya, sayang. Saya tidak akan melakukannya, kalau bukan sama kamu.” Arka menghapus air mata Dara.
“Bagaimana kita mau melakukannya? Yang istrimu kan Nisa, bukan saya. Tidak mungkin juga kita berzina.”
“Kita akan menikah.”
“Omo. Maksudnya, saya jadi istri kedua? Saya tidak mau berbagi dengan perempuan lain.” Dara kembali memanyunkan bibir.
“Tidak dong, sayang. Untuk sementara, kamu harus ikhlas menjalani hubungan kita yang seperti ini. Nanti kalau sudah cukup dua tahun, Nisa saya ceraikan. Kita menikah minimal setengah tahun sesudah perceraian saya dengan dia.”
“Terlalu lama, sayang. Kenapa harus dua tahun lebih? Kan bisa satu tahun saja.”
“Tidak bisa kalau cuma satu tahun, sayang. Satu tahun bisa berdampak buruk ke image saya. Imbasnya nanti ke perusahaan juga. Menikah dengan Nisa kan cuma status sayang. Yang terpenting itu you and me sama-sama tahu that we love each other.”
Patah hati.
Dirasakan oleh Nisa yang menunda untuk memberikan laporan di genggamannya ke Arka. Istri mana yang akan senang jika mendengar janji seperti itu keluar dari mulut suaminya? Baru saja melangsungkan pernikahan, Arka sudah merancang hari perceraian mereka.
Ia masuk ke dalam ruangan itu beberapa saat setelah percakapan Dara dan Arka berakhir. Berpura-pura tak menguping pembicaraan sepasang kekasih tak halal tersebut.
“Permisi, boleh saya masuk kak?” tanya Nisa di luar.
Nisa meletakkan laporan punya Arka di atas meja. “Saya salah bawa laporan tadi,” tuturnya.
“Apa kabar, Nisa?” Dara berbasa-basi sebelum istri dari kekasihnya keluar.
“Alhamdulillah, baik Kak.”
Nisa tersenyum. Ia tidak akan pernah menunjukkan kesedihan di hadapan dua orang yang telah bersekongkol untuk menyingkirkannya.
Selepas menjawab pertanyaan Dara, tanpa bertanya balik bagaimana kabar perempuan tersebut, Nisa langsung hengkang dari ruang kerja terkutuk itu.
Air mata membanjiri pipinya tatkala ia kembali ke divisinya.
Ia mulai jenuh dengan segala yang menimpanya akhir-akhir ini. Dimana-mana ada saja orang menyebalkan.
Pikirannya kini melanglang di waktu-waktu pendaftaran. Saat itu, ia mendaftarkan diri dengan penuh semangat di perusahaan NaturalSkin Indonesia tersebut.
Sayangnya ia jadi tidak begitu bersemangat lagi setelah diterima bekerja. Diawali dari hidupnya yang justru terasa menjadi lebih berat.
__ADS_1
Dibenci atasan, difitnah rekan, dan sebagainya. Sekarang saja, ia jadi bahan omongan orang sekantor. Sungguh, ia kewalahan menanggung semuanya sendirian.
Tak ingin dikuasai rasa putus asa yang berlebih, Nisa segera membuat laporan jumlah kas masuk bulan kemarin di divisi regional. Setidaknya, ia bisa melupakan masalahnya sejenak dengan sibuk bekerja.
Sialnya, kesedihan kembali menghampiri Nisa ketika tiba jam istirahat.
Ketika semua orang ke cafe untuk makan siang. Ia tetap stay di ruangan berisikan beberapa komputer itu. Hanya menikmati sebungkus roti. Padahal, ia telah menjadi istri orang nomor satu di kantor itu. Tanpa terasa, air mata Nisa menetes. Sesak sekali rasanya, sampai-sampai di saat makan pun ia terisak.
Sepotong roti itu telah ia habiskan, tapi tak berhasil mengganjal rasa laparnya. Salah sendiri, ia tidak sarapan tadi pagi.
Sebenarnya, salah Arka juga. Tadinya Nisa mau sarapan, tapi dibatalkan gegara Arka yang suruh cepat-cepat ke garasi.
Now, Nisa menyandarkan kepalanya di atas meja kerja. Ia pun menangis sejadi-jadinya, menumpahkan segala kekesalan atas semua kejadian tak mengenakkan yang menimpanya akhir-akhir ini.
Tiba-tiba, seseorang menepuk pundaknya. Nisa menghapus air matanya cepat, lalu mendongak. “Eh, Thira. Ada yang bisa saya bantu?”
“Seharusnya saya yang tanya begitu. Kamu ada masalah ya?"
“Tidak ada. Kenapa tanya begitu?”
“Itu, kamu habis nangis.”
“Bukan nangis Ra. Saya kalau mengantuk memang begini, suka keluar air mata. Habisnya tadi malam bergadang, terlalu sibuk berbenah di mansion kak Arka.” Nisa memaksakan diri untuk tersenyum.
“Kalau mau cerita atau butuh bantuan, bilang ya. Siapa tahu saya bisa bantu,” tutur Thira sambil menepuk bahu Nisa.
“Pasti. Terima kasih ya Ra, kamu selalu baik ke saya. Tidak seperti yang lain, suka membentak seenaknya.”
“Atasan memang harus peduli dengan bawahannya, Sa. Anyway, saya beli dua tadi. Semoga semakin fresh kerja laporannya.” Thira meletakkan sebotol You-C di atas meja Nisa.
“Thanks, Ra.”
“Most welcome.” Thira kemudian menuju mejanya.
Nisa meneguk minuman pemberian Thira itu sampai habis. Jika dulu ia memiliki Farel sebagai Dewa Fortuna. Kini ia memiliki Thira sebagai Dewi Fortunanya.
Dahaga Nisa telah terobati dengan minuman yang kaya akan vitamin C tersebut. Saatnya untuk shalat dzuhur.
Kali ini, Nisa shalat di mushallah. Awalnya ia mau shalat di ruangan saja, tapi diurungkan. Karena ada Thira di situ.
__ADS_1
Keberadaan Thira membuatnya tidak bisa bebas untuk mencurahkan isi hatinya saat berdoa. Sementara ia butuh mengadukan segala kesedihannya pada yang Maha Pemberi Solusi.