Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Kamu Tak Termaafkan


__ADS_3

Di basement.


“Kenapa Nisa belum datang juga? Apa dia punya tugas tambahan lagi dari Thira?” Arka bertanya-tanya.


Bak kepingan puzzle, Arka merasa perjalanan pulangnya tidak lengkap tanpa Nisa. Ia yang mulai jenuh menunggu Nisa, mengirimkan chat pada Nisa.


“I hate you Kak,” batin Nisa saat melihat notifikasi WhatsApp nya. Alih-alih membalas, ia justru memutuskan koneksi internetnya.


Arka mengernyitkan dahi. “Tadi WhatsAppnya sedang aktif, kenapa tiba-tiba tidak aktif lagi?”


Ia pun beralih ke panggilan telepon biasa.


Lima menit berlalu, tapi Nisa tak kunjung mengangkat panggilan seluler darinya.


“Kenapa lagi anak ini? Saya harus tambah hukumannya biar dia jera.”


Di dalam bus.


“Hape kamu dari tadi bunyi Sa. Kenapa tidak diangkat?” tanya Ratna yang mulai jenuh dengan suara nada dering ponsel Nisa.


“Saya malas angkat, Na. Panggilan ini dari orang aneh.” Nisa mencoba untuk kelihatan baik-baik saja di depan Ratna.


Dan lagi, ponselnya kembali berdering. Tak ingin diganggu, gadgetnya ia matikan total. Alhasil, Arka tidak bisa lagi menghubunginya.


Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.


Arka terpaksa pulang sendiri. Ia menghidupkan mesin mobilnya, di saat Nisa justru telah sampai di depan rumah baru orang tuanya.


“Nginap di sini Kak?” tanya Kanza.


“Iya,” jawab Nisa dengan suara pelan.


Ia tak punya semangat lagi untuk kembali ke mansion. Harapannya untuk menjalin hubungan yang sungguh-sungguh dengan Arka, telah ia kubur dalam-dalam.


Untuk memperlancar planning nya, Nisa memohon pada adiknya. “Kanza, kamu di dekat saya terus ya! Supaya Arka tidak dekat-dekat saya terus.”


“Siap, Kak.”


Di mansion.


Arka memarkirkan mobilnya di garasi. Dengan cekatan ia keluar dari mobilnya dan masuk ke mansion. Tempat pertama yang akan ia periksa adalah kamar.


Pintu kamar telah ia buka. Tapi zonk... Tak ada siapa-siapa di dalam bilik tidurnya itu.


Ia melanjutkan pencarian ke dapur. Mungkin saja Nisa ada di situ, memasak pun mencuci piring.


Nihil, ruangan khusus untuk mengelola makanan tersebut juga kosong.

__ADS_1


“Dia pasti ada di rumah baru,” tuturnya yang mulai lelah untuk mencari.


Arka kemudian ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sesudah mandi, ia shalat magrib sendiri di mansion.


Setelah itu, ia mengeluarkan beberapa lembar pakaian Nisa dari lemari. Pakaian itu ia masukkan ke dalam tas untuk dibawa ke rumah baru. Saatnya ia berkutat dengan setir.


Tak lama berkendara, ia tiba di rumah mertuanya. “Assalamu ‘alaykum,” ucapnya.


Kanza keluar untuk membukakan pintu. “Wa 'alaykumussalam warahmatullah. Mari masuk Kak,” pinta adik iparnya tersebut.


“Nisa ada di sini kan?” tanya Arka sembari membawa masuk tas yang berisikan beberapa lembar baju milik Nisa.


“Iya, kak Nisa ada di dapur.”


Arka masuk ke dapur dan menemukan istrinya sedang berdiri di depan kompor.


Entah apa yang Nisa masak. Yang jelasnya, wangi masakan tersebut menusuk indra penciuman Arka.


“Masak apa sayang?” tanyanya.


Rasa lelah dengan sikap plin plan Arka, sudah tidak tertahankan bagi Nisa. Saking lelahnya, bahkan untuk menjawab pertanyaan sederhana dari suaminya tersebut pun ia sudah malas sekali.


Iba melihat Arka diabaikan, Kanza bantu jawab. “Kata kak Nisa tadi, dia mau buat nasi campur Korea.”


Arka terheran-heran melihat istrinya yang biasanya cerewet, kini menjelma menjadi sosok boneka poppy.


“Sejak kapan kakakmu puasa bicara?” tanya Arka tanpa mengalihkan pandangannya dari Nisa yang sejak tadi acuh padanya.


“Kak Nisa memang begitu kalau lagi capek, Kak. Irit bicara.”


“Kalau capek, kenapa dia memasak? Harusnya dia istirahat saja di kamar.”


Kanza cepat-cepat memutar otak, mencari alibi baru untuk dilontarkan ke kakak iparnya yang super duper kepo itu.


“Kak Nisa kalau benar-benar mau makan sesuatu, harus dia sendiri yang masak. Dia suka protes kalau orang lain yang masak.”


“Bilang sama kakakmu yang budeg itu, berhenti kerja saja. Suruh dia fokus di rumah, melayani suami dan anak-anaknya kelak.”


Nisa yang sedang memarinasi daging berhenti sejenak, lantaran mendengar ucapan Arka yang terasa out of the box.


Tak ingin ketahuan menguping, Nisa cepat-cepat meminggirkan daging yang telah ia marinasi tersebut.


Lanjut memberi dua jumput garam, dua jumput biji wijen, dan seperempat sendok makan minyak wijen ke tauge dan bayam. Lalu mengaduknya dengan rata.


Arka berdiri dari duduknya. Ia mendekati Nisa dan mengunci tubuh istrinya tersebut dari belakang.


“Kamu ternyata suka yang berbau Korea ya. Nanti kita honeymoon di sana,” ungkapnya lalu menghembuskan nafas di telinga Nisa.

__ADS_1


Kanza menatap nanar pada kakaknya yang tak dapat bergerak karena kungkungan kakak iparnya. “Gagal total,” batinnya saat menyadari rencananya dengan Nisa dikalahkan oleh sikap agresif Arka.


Nisa tetap pasif bicara. Namun tangannya tetap aktif memasak. Ia menumis wortel, timun, dan paprika secara bergantian. Masing-masing tumisan itu ia beri sejumput garam dan bawang putih cincang.


Ia yang terjebak belenggu, menyebabkan Arka berteriak. “Kanza, ambilkan daging itu Dek.”


Kanza tak menjawab.


Nisa membatin pilu. “Punya adik gini amat. Disuruh menemani, malah ditinggali.”


Arka menggantikan Kanza untuk mengambil daging yang telah dimarinasi Nisa lima belas menit yang lalu.


“Ini,” ujarnya sambil menyerahkan daging yang Nisa minta.


Tanpa berterima kasih karena telah dibantu, Nisa santai saja menumis daging itu dengan api kecil. Setelah itu, ia membuat telur mata sapi setengah matang.


Tak digubris, Arka kembali berdiri di belakang Nisa yang sibuk memasak. Kedua tangannya menangkap kedua telur besar milik istrinya yang sudah sangat matang lantaran sering ia sentuh.


Nisa dapat merasakan sesuatu menyentuh buttom nya di bawah. Ia yang tak suka dibegitukan, mengambil spatula dan memukul benda menggantung suaminya yang kini mengeras.


“Aduh. Kenapa kamu memukul aset saya?” hardik Arka.


“Kakak tidak mabuk kan?” tanya Nisa seraya menurunkan telur mata sapi yang sudah matang.


“Tidak lah,” jawab Arka cepat.


“Terus kenapa pegang-pegang? Bukannya Kakak tidak pernah nafsu secara sadar ke saya? Terus ini apa?” Nisa tidak akan pernah lupa pada pengakuan Arka di kantor tadi pagi.


“Kamu menguping pembicaraan saya dengan Dara?”


“Iya, saya dengar semuanya Kak. Terima kasih untuk pengakuan Kakak yang sangat luar biasa itu.”


Nisa beralih ke meja makan. Ia mengambil lima buah mangkuk besar dan meletakkannya di atas meja.


“Tolong maafkan saya. Saya tidak bermaksud,” pinta Arka pada Nisa yang sedang menata nasi dan lauknya ke lima buah mangkuk besar.


Berwarna merah dan ada cap badaknya. DEBM


“Saya sudah terlalu sering memaafkan Kakak. Tapi Kakak tidak pernah menghargai itu, kali ini saya benar-benar muak Kak.”


Nisa menambahkan satu sendok makan gochujang ke atas nasi. Kemudian melenggang keluar dari dapur.


Ia menghampiri keluarganya yang sedang menonton Televisi. “Mari makan!” ucapnya sembari mendaratkan bokong di atas sofa empuk yang menghadap langsung ke TV.


Lama duduk, akhirnya iklan juga. Bu Faridah lalu mematikan Televisi tersebut dan berjalan ke meja makan.


Disusul yang lain.

__ADS_1


Nisa menuangkan air ke gelas, dan Kanza membantunya menyebar gelas-gelas berisikan air putih itu ke bu Faridah, pak Nugroho dan Arkana Pradipta.


__ADS_2