Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Mesum


__ADS_3

“Kamu harus berterima kasih dengan memijat saya,” titah Arka. Ia kemudian melepaskan selimut yang menutupi tubuhnya.


Kedua tangan Nisa kini mendarat di atas tubuh Arka. Jemarinya menekan-nekan permukaan kulit sang suami dengan lembut.


Hasrat mulai mengaliri tubuh Arka. Tak tahan akan nikmatnya sentuhan Nisa, ia bangkit dan menindih tubuh Nisa.


Ia membelai rambut panjang Nisa. Tangan nakalnya kemudian turun ke bawah, membuka pangkal paha milik istrinya tersebut.


Arka langsung menghentakkan miliknya pada milik Nisa, dengan kondisi berpakaian. Perlahan, keduanya terbuai asmara.


“Arghhh...” Nisa dan Arka melenguh secara bergantian.


Untuk menyamarkan lenguhan yang ada, Arka memagut bibir Nisa. Cukup lama mereka begitu, Arka baru berhenti saat ia telah tiba di puncak percintaan.


Nisa yang malu habis begituan dengar Arka, cepat-cepat bersembunyi di balik selimut. Sungguh, ia sebal sekali dengan dirinya sendiri. Payah, tak mampu ia menahan rasa terhadap making love itu.


Arka yang masih dimabuk nafsu, masih mendekatinya. Ia merangkul Nisa yang diam seribu bahasa karena terlalu malu.


Jadilah pasangan suami istri tersebut tidur sambil berpelukan. Sejak saat itu, sampai memasuki waktu subuh.


***


Subuh menghampiri.


Kali ini, Arka bangun lebih dulu. Ia menoleh ke samping, lalu membuka selimut yang menutupi wajah Nisa.


Arghh, hatinya menghangat. Tatkala menatap wajah wanita, yang tubuhnya ia nikmati dengan sangat semalam.


Sampai puas.


Ia beralih mengecup kening istri candunya, sebelum memutuskan untuk ke kamar mandi. Membersihkan dirinya di dalam. Dan tak lupa juga ia berwudhu.


So freshhh.


Bersama-sama dengan sang ayah mertua, ia berangkat untuk shalat subuh berjama’ah di mesjid terdekat.


Selepas shalat subuh, ia dan pak Nugroho langsung pulang ke rumah.


Sesampainya di kamar, Arka mendapati Nisa masih tidur. Ia pun naik ke ranjang dan mendekati istrinya yang masih di bawah kendali alam mimpi.


“Manis sekali,” batinnya sambil menyimpul senyum saat memandangi bibir merah jambu Nisa.


Bibirnya lalu mendarat lembut di bibir Nisa yang tak kalah lembutnya.


Merasakan keganjilan pada bibirnya, Nisa refleks membuka mata.


Arka memilih berhenti menikmati bibir adiktif tersebut, sebelum si empunya memberikan penolakan dengan mendorong tubuhnya.

__ADS_1


“Apaan sih?” tutur Nisa sembari memeriksa fitur jam di gawainya.


Ternyata, sudah jam lima lewat. Ia pun bangkit dengan secepat kilat. Cepat-cepat ia ke kamar mandi untuk berwudhu.


Ia tetap melaksanakan shalat subuh meski agak terlambat. However, shalat lima waktu adalah kewajiban bagi setiap umat muslim yang telah baligh dan berakal sepertinya.


Means, sudah pasti ia berdosa jika meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja.


“Mengaji di sini saja,” perintah Arka seraya menepuk-nepuk permukaan bed.


Nisa menurut saja. Dibukanya Al-Qur’an tersebut saat ia telah naik ranjang dan duduk di samping Arka.


Ayat demi ayat Nisa baca dengan tartil dan merdu.


“Kamu tidak usah ke kantor hari ini. Temani mama dan bapak berbenah saja,” tutur Arka. Tepat setelah Nisa selesai membaca Al-Qur’an.


Ia kembali menggenggam tangan Nisa. “Saya mau lagi,” lanjutnya dengan mimik serius.


Mirip harimau yang siap menerkam mangsanya.


“Maaf, saya tidak bisa mengabulkan keinginan Kakak. Anggap saja yang kita lakukan tadi malam cuman mimpi,” balas Nisa yang bersikeras melepaskan genggaman Arka.


Arka auto mengeluarkan suara bariton. Lakikkk.


“Kamu boleh keluar dari sini, hanya setelah kita melakukannya tanpa pakaian yang melekat di badan.”


Ia terus membisu setelahnya. Baginya, lebih baik begitu daripada harus making love dengan Arka.


“Kenapa kamu menolak? Padahal tadi malam kamu sangat menikmatinya,” ucap Arka yang tak gentar.


“Karena kita sekadar menikah, bukan menikah karena sungguh-sungguh. Kakak menginginkan tubuh saya, tapi tidak bisa meninggalkan pacar Kakak. It means, Kakak cuman nafsu bukan cinta. Saya ingin dicintai, bukan dinafsui.”


Lagi, Arka menarik Nisa. “Tidak apa-apa kalau kamu tidak mau making love with me. Saya tetap akan mengambil hak saya tanpa kamu kasih.”


Ia yang hasratnya sudah di ambang batas, meremas paksa kedua buah ranum milik istrinya.


“Lepaskan saya, Kak!” Demi membela diri, dengan sangat terpaksa Nisa mendaratkan bogem mentah ke wajah suaminya sendiri.


“Maaf Kak,” imbuhnya.


Arka benar-benar emosi dibuatnya.


Mau tidak mau, ia kudu menghentikan akitivitas panasnya. Adapun kunci kamar yang ia sembunyikan tadi, ia keluarkan.


“Silakan keluar,” hardiknya sembari melempar kuat kunci itu ke dekat pintu.


Nisa bergegas mendekat ke pintu. Ia mengambil kunci itu guna membuka pintu yang dikunci oleh Arka. Tubuhnya gemetar dan pandangannya terus mengawasi Arka saat membuka pintunya.

__ADS_1


Akhirnya, ia berhasil keluar dari kamar tersebut.


Ia cepat-cepat melangkah ke dapur setelahnya. Di ruangan khusus mengolah makanan tersebut, ada bu Faridah. Mamanya itu sedang memeriksa isi kulkas.


“Mau masak apa kita pagi ini?” tanya bu Faridah saat menyadari kedatangan putrinya.


“Nasi goreng saja, Ma.” Nisa harap, mood Arka segera membaik setelah memakan masakan favoritnya.


Selang beberapa menit, nasi goreng sudah tersaji di atas meja makan.


Nisa pun menghambur ke kamar, mengajak Arka sarapan bersama. Saat ia masuk, Arka sedang berpakaian untuk ke kantor.


Nisa mendekatinya. “Nasi goreng panas menunggu untuk disantap Kak,” katanya.


“Saya lebih suka menyantap yang buat nasi gorengnya,” sahut Arka lalu tertawa kecil.


Ia lalu menggenggam tangan Nisa. “Kita juga harus kelihatan mesra di depan orang tuamu,” tambahnya.


Mereka kini jalan beriringan menuju meja makan. Keduanya lalu duduk berdampingan saat mencerna nasi goreng di hadapannya.


Nisa menambahkan sesendok nasi ke pinggan Arka yang hampir kinclong. “Tambah. Kakak harus makan yang banyak, biar lebih semangat kerjanya.”


Arka otomatis melirik Nisa dan tersenyum kecil. “Terima kasih sayang,” tuturnya sebelum kembali mentransfer butir-butir nasi goreng ke perutnya.


Alhamdulillah, semua orang kenyang.


Sehabis makan dan mencuci piring masing-masing, mereka semua keluar.


Masuk ke mobil Arka untuk diantar ke kontrakan. Arka tidak ikut membantu keluarga istrinya berbenah, coz ia tetap harus ke kantor.


Banyak sekali pekerjaan yang menanti kedatangannya.


***


At office.


Arka memarkirkan mobil, memasuki lift, dan melangkah ke ruang kerjanya. Today, selain menjadi CEO, ia juga merangkak menjadi pengamat.


Pengamat security. What?


Pandangannya ia fokuskan ke layar gawai yang telah terhubung dengan situasi pos satpam.


Ia memantau kejadian demi kejadian di pos satpam tersebut, tanpa sepengetahuan siapa pun yang bekerja di kantor itu. Hanya ia dan teknisi saja yang tahu keberadaan kamera tersembunyi di pos satpam.


“Ini kan sudah mau masuk jam kerja. Kenapa masih banyak staff yang santai-santai merokok di sini? Awas saja, saya tandai muka kalian. Siap-siap saja gaji kalian dipotong,” gerutunya.


Ia auto berhenti menggerutu, saat karyawan terbaik di perusahaannya juga mampir di pos security itu. Tampak, Thira memberikan nasi kotak ke pak Udin.

__ADS_1


“Luar biasa sekali Thira ini. Bukan cuma rajin, ternyata dia juga baik. Suka bagi-bagi makanan ke sesama.”


__ADS_2