Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Tak Sengaja Bertemu


__ADS_3

Di malam hari.


Farel mengemasi kembali barang-barangnya. Besok, ia akan meninggalkan kota Sangatta. Tetiba, ada pesan yang masuk di WhatsAppnya.


“Ada ajakan untuk jadi pembicara di workshop universitas Mulawarman. Saya terima atau tidak?” tanyanya pada Arka.


"Terima saja! Kita harus banyak bekerja dengan pihak lain, termasuk kampus sekalipun.”


Kebahagiaan terpampang di wajah Thira yang juga mendengarnya. “Justru bagus kalau Bapak jadi pembicara di workshop itu. Produk kita bisa dikenal lebih luas lagi. Apalagi yang mengundang itu dari pihak kampus ternama di Kalimantan.”


Farel kemudian membalas chat tersebut. Ia menyanggupi untuk hadir sebagai pembicara besok.


***


Besoknya...


Pihak kampus menunggui mereka di sekitaran Bandar Udara Internasional Aji Pangeran Tumenggung Pranoto. Jadi mereka tidak akan nyasar.


Lama setelahnya, mereka pun tiba di kampus.


Yang lain menunggu di luar, hanya Farel saja yang masuk. Berhubung masih lama, mereka memutuskan untuk keliling-keliling dulu. Mengunjungi tempat wisata yang dekat dari situ.


Mereka semua akhirnya pergi ke kapal wisata pesut etam. Menikmati sungai mahakam dengan kapal yang didesain secara instagrammable.


Tak hanya itu, di atas kapal ada hiburan musik. Tersedia juga minuman dan snack. Berhubung mereka belum makan, maka pesanlah mereka food and beverage ala-ala Kalimantan.


Semuanya kompak memesan soto Banjar dan es tebu. Es yang terbuat dari tebu hijau, rasanya enak dan pastinya dapat menghilangkan dahaga pada siang hari.


At workshop.

__ADS_1


Farel membetulkan kacamatanya tatkala menanti speaker yang lain datang. Berhubung ia speaker terakhir, maka ia turut menyaksikan dua speaker sebelum dirinya untuk memaparkan materinya.


“Ini pemateri pertama doyan telat. Selain namanya, sifatnya juga mirip kayak Nita,” batin Farel yang mulai jenuh menanti.


“Pembicara pertama sudah datang,” ucap salah satu panitia yang bertugas.


Farel ikut berbalik untuk melihatnya. Ia membuka kacamata, mengucek matanya sebentar, lalu memakai kembali lensa tipis untuk mempertajam penglihatan tersebut.


“Nita, howaya sista?” teriaknya refleks.


“Hey, Farel. Long time no see bruhh.” Nita berjalan cepat ke dekat Farel.


“Kemana saja kamu?” tanya Farel seraya mencubit hidung Nita.


“Kamu itu ngab yang kemana saja? Ke Malaysia nggak bilang-bilang. Jahat beut dah.”


Benak mereka melayang pada masa silamnya tiga tahun yang lalu. Obrolan demi obrolan pun tercipta. Namun terhenti ketika Nita dipersilakan untuk membawakan materinya.


“Hadirin sekalian, kita akan mendengarkan ulasan tentang tips agar usaha terus maju, dari Kak Farel. Beliau adalah Direktur Utama di perusahaan NaturalSkin Indonesia. Pernah menjabat sebagai CEO pada perusahaan yang sama di negara Malaysia. Mari kita sambut Kak Farel...!”


Farel maju ke depan.


“Berdasarkan pengalaman saya, yang bikin perusahaan maju sudah pasti karena produknya yang berkualitas. Dan jika ingin produk terus laku, pihak perusahaan harus terus memperluas jaringan bisnisnya. Jangan lupa juga untuk melakukan evaluasi kinerja tiap tahunnya.”


Dan masih banyak lagi yang Farel sampaikan.


Selepas workshop, mereka berpindah tempat ke mushallah. Melaksanakan shalat asar dan lanjut mengobrol di sana. Farel juga menunggu Arka dan rombongan menjemputnya.


“Kenapa bisa nyasar sampai ke sini?” tanya Nita.

__ADS_1


“Biasa, ekspansi. Kamu?”


“Saya tinggal di sini. Kebetulan sekali ya kita ketemu di sini.”


Farel mengangguk.


“Sudah nikah?” tanya Nita tanpa mengalihkan pandangan dari Farel.


“Belum. Ka-”


“Mama... Mau esy kyim,” celetuk anak yang dari tadi membersamai Nita, saat penjual ice cream lewat di dekat mereka.


Awalnya, Farel kira itu keponakan Nita. Eeeh, ternyata anaknya. Pupus sudah harapannya untuk mempersunting perempuan yang sefrekuensi dengannya itu.


Tak lama, seorang lelaki menghampiri Nita. Lelaki itu sangat mirip dengan anak yang sedang menangis meminta dibelikan ice cream.


“Farel, saya pulang dulu ya. See you!”


Mereka masuk ke dalam mobil yang berwarna merah. Nita menyempatkan untuk melambaikan tangan pada Farel. Ia menatap Farel dengan tatapan yang entah apa maknanya.


Farel memaksakan diri untuk tersenyum, padahal luka di hatinya menganga di dalam. Tinggal lah ia seorang diri di situ. Beruntung Arka dan yang lain segera tiba di situ.


“Saya ketemu Nita tadi.”


“Serius? Bagus itu,” balas Arka.


“Iya, dia jadi salah satu pemateri di workshop tadi.”


“Bagaimana keadaannya sekarang? Dia masih single kan?”

__ADS_1


Farel menggeleng. “Dia sudah menikah. Punya anak satu yang tampan sekali. Setampan bapaknya.” Farel menahan tangis.


__ADS_2