Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Bukan Dia


__ADS_3

Mobil terus melaju, bahkan melewati lorong masuk ke mansion. Nisa berbalik cepat ke arah Arka, tidak ada tanda-tanda suaminya itu akan putar balik.


“Saya kan sudah bilang, saya tidak mau ke kantor. Kenapa tidak singgahkan saya dulu di mansion?” tanyanya dengan ritme cepat dan intonasi meninggi.


Arka diam saja.


Nisa kembali mengkritik. “Kakak lupa ya kalau kita bukan suami istri sungguhan? Jadi Kakak tidak berhak mengatur hidup saya terus. Pulangkan saya ke mansion! Saya tidak mau jadi obat nyamuk kalian terus.”


Arka tetap diam.


Nisa yang kesal menarik tangan Arka yang tengah fokus mengemudikan mobil. “Turunkan saya di sini! Saya bisa jalan kaki sampai mansion. Kalau tahu akan begini, saya nginap di kontrakan saja tadi.”


Terlalu marah, ia sampai menitikkan air mata. Tak perduli lagi tanggapan Arka akan seperti apa padanya.


“Turunkan saya!” teriaknya dengan suara bergetar.


Arka terpaksa mengerem mendadak. “Kenapa tarik-tarik terus? Kamu tidak lihat saya sedang menyetir?” Ia menggerutu kesal.


“Saya sudah minta diturunkan baik-baik, tapi Kakak pura-pura tidak dengar.”


“Berapa kali harus saya bilang Nisa, kamu tidak boleh sendirian di mansion. Bahaya!”


“Malam itu kamu keluar dengan Dara, saya sendirian di mansion. Semuanya aman-aman saja.”


Selepas mengeluarkan opininya, Nisa membuka pintu mobil. Tapi gagal, karena Arka menarik, lalu menindihnya.


“Ini hukuman kalau kamu tidak mau diam.” Ia langsung memagut bibir Nisa. Sementara tangannya, menyusuri salah satu bukit kembar milik istrinya itu.


Sebisa mungkin, Nisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara lenguhan. Adapun kakinya, terus ia gunakan untuk menendang-nendang Arka yang menjeratnya.


Emosi bercampur birahi, Arka jadi semakin berani. Dinaikkannya pakaian Nisa. Bak bayi, ia kini menikmati benda kenyal kesukaannya. Yup, ia menghisap dot berisi air susu ori milik istrinya yang terus berontak itu.


“Arghh...” Nisa mengerang nikmat. “Stop this Kak! Saya janji akan jadi penurut,” lanjutnya.


Mendengar pengakuan itu, Arka pun berhenti menyerang. Ia kembali pada posisi semula. Dimana ia duduk sembari memegang setir dengan pandangan yang lurus ke depan.


Sedangkan Nisa, ia cepat-cepat memperbaiki pakaiannya yang berantakan karena serangan Arka. “Dasar mesum!” umpatnya.


Arka memperbaiki belahan rambutnya lalu berkata. “Sekali lagi kamu memberontak seperti tadi. Kejadian di mansion akan terulang. Kalau perlu, saya bikin kamu hamil dengan cepat.”


“Saya tidak sudi hamil anak dari lelaki plin plan seperti kamu.”


Arka melototi Nisa. “Sebaiknya kamu diam. Jangan sampai saya benar-benar melakukannya.” Ia kembali mengemudikan mobilnya menuju kantor.

__ADS_1


Ban mobil terus bergerak, membawa mereka ke basement. Keduanya lalu keluar dari mobil. Lanjut memasuki lift, dan berhenti di lantai sepuluh.


Di dalam ruang kerja Arka. Nisa membantu suaminya yang mesum itu untuk membuat rancangan pengembangan sumber pendapatan perusahaan.


Beberapa jam berlalu.


Sejak tadi Nisa menunggu Dara datang, tapi hingga detik ini, dimana jarum jam menunjukkan pukul satu dini hari, kekasih suaminya itu tak kunjung datang.


“Ayo tidur!” ajak Arka.


Arka mengunci pintu sebelum naik ke ranjang. Takutnya ada kejadian tidak mengenakkan lagi di ruangannya itu.


Mereka berdua kini tidur dengan saling membelakangi.


Nisa yang masih linglung menentukan perasaan Arka padanya, berpura-pura lagi menutup mata. Ia penasaran dengan yang kemarin malam itu.


Nyata atau maya?


Sejam berlalu, Nisa dapat merasakan saat Arka bergerak ke arahnya. Ternyata, Arka merangkulnya lagi. Persis yang Arka lakukan kemarin malam, hanya saja malam ini Arka tidak menciumnya.


“Kayaknya kak Arka punya gangguan tidur,” benaknya.


Tomorrow day.


Nisa memandangi meja yang terbuat dari kaca itu dengan muka bantalnya.


“Kamu mau makan apa?” tanya Arka.


“Terserah Kakak saja! Saya pemakan segalanya kok.”


“Nasi timbel dua. Minumnya air mineral yang dingin, dua juga ya.”


“Baik Pak,” sahut si pelayan kemudian melangkah pergi.


Pelayan muda dan semok tersebut kembali setelah beberapa menit berlalu. Ia membawa pesanan, lalu mempersilakan Arka dan Nisa untuk mencicipinya.


“Makan yang banyak!” pinta Arka sembari meletakkan ayam goreng miliknya ke piring Nisa.


“Eh, kenapa dikasih ke saya Kak? Tidak usah, satu saja cukup.” Nisa menyimpan kembali ayam goreng tersebut ke piring Arka. “Kakak juga harus makan banyak! Biar lebih bertenaga lagi mengurusi perusahaan ini.”


Waktu terus berputar. Nasi timbel mereka giring ke usus besar. Dan pastinya, menu itu Arka yang membayar.


Selepas makan, keduanya kembali ke ruangan masing-masing. Nisa ke lantai lima dan Arka ke lantai sepuluh.

__ADS_1


Setibanya di ruang kerja, Arka mengirimkan chat ke Nita. “Tolong ke ruangan saya sekarang juga!” titahnya.


Nita bermasam muka usai membaca isi chat dari Arka. “Mau ngapain lagi sih pak Arka manggil saya? Please deh pak, jangan bikin saya emosi pagi-pagi.”


Takut bosnya yang pemarah itu akan mengamuk, Nita cepat-cepat menemuinya.


“Ada yang bisa saya bantu Pak?” tanyanya setelah mendaratkan bokong pada kursi yang ada di depan Arka.


“Saya tidak menyangka kamu akan menjebak saya dan Nisa di malam itu Nita. Padahal kamu adalah salah satu karyawan yang paling saya banggakan di kantor ini.”


“Kenapa jadi tuduh saya Pak? Apa untungnya coba saya ngejebak Bapak dengan Nisa?”


“Supaya kamu bisa bersatu dengan Farel,” tembak Arka.


“What? Apa hubungannya Pak? Aneh beut dah.”


“Kamu menjebak kami karena berharap saya akan memecat Nisa dari kantor ini karena kejadian itu. Karena kalau Nisa saya pecat, dia tidak bisa lagi ketemu Farel. Dan kamu bisa bebas mendekati Farel tanpa adanya orang ketiga lagi.”


“Saya memang suka Farel, Pak. Tapi sampai kapan pun, saya tidak akan pernah melakukan cara murahan seperti itu untuk mendapatkan cintanya. I am asking you. Pernah gitu Bapak lihat saya menggoda Farel? Tidak pernah kan? Coz I am not a bad girl.”


Nita memejamkan mata. Namun seberapa kuat pun ia menutup matanya, air mata tetap tumpah jua dari kedua indra penglihatannya itu.


Arka diam di tempat, pikirannya jadi terbolak-balik gegara bekerja keras mencari dalang dari kasus malam itu. Terlebih saat satu-satunya orang yang bisa ia curigai, tampaknya memang bukan pelakunya.


“Saya ini workaholic Pak. To me, pekerjaan jauh lebih penting dari percintaan. So, it is very illogically kalau saya yang menjebak Bapak dan Nisa malam itu. Coz saya tidak mungkin mengorbankan karier demi cinta.”


Arka menatap nanar ke depan, hampir saja otaknya meledak karena memikirkan biang kerok dari masalah itu.


“Kalau bukan Nita, terus siapa pelakunya?” batinnya.


“Satu lagi, saya mungkin berduri seperti kaktus Pak. But remember, kaktus tidak pernah menyembunyikan durinya agar disukai. Kalau saya tidak suka dengan seseorang, saya akan menunjukkannya langsung. Therefore, jebak-menjebak sama sekali bukan permainan saya.”


Arka terbawa perasaan, namun ia harus terus realistis. Jangan sampai karena cuma modal kata-kata, Nita berhasil mengelabuinya.


“Tidak ada yang bisa menebak isi hati orang lain. Bisa saja yang kamu bilang itu tidak sesuai dengan isi hatimu sekarang.”


“Terserah Bapak saja mau menanggapi bagaimana. Yang jelasnya, semua yang saya bilang itu kenyataan. Saya siap dihukum kalau terbukti bersalah. I am done to work here. Nomor hape saya tetap sama Pak, silakan hubungi nomor itu kalau saya terbukti menjebak Bapak dan Nisa malam itu.”


Nita memilih pergi dan tak kembali lagi, daripada harus bertahan di perusahaan Arka yang telah menuduhnya tidak-tidak.


Meskipun workaholic, Nita, lebih memilih mempertahankan harga dirinya daripada pekerjaan.


Prinsipnya; Pekerjaan lebih penting dari percintaan, tapi pekerjaan tidak lebih penting dari harga diri.

__ADS_1


__ADS_2