Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Pilihan Nita


__ADS_3

Nita benar-benar bingung dalam menentukan pilihan. Dua lelaki yang memiliki peran penting dalam hidupnya, datang melamarnya di hari yang sama.


Entah siapa yang akan ia pilih. Farel memang lelaki yang ia cintai. Tapi selama Farel pergi, Fadil lah yang menyembuhkan luka patah hatinya.


“Sudah waktunya shalat. Silakan kamu pikir-pikir dulu mau menerima lamaran siapa,” ungkap Arka saat mendengar lantunan suara adzan dikumandangkan dari mesjid yang tak jauh dari kediaman Nita.


Nita hanya bisa mengangguk. Sungguh, memilih bukanlah sebuah perkara gampang baginya. Terlebih, ia harus memutuskan dengan waktu yang sangat singkat.


Arka, Farel, dan pegawai lelaki yang lain menuju mesjid. Adapun Fadil dan keluarganya, mereka tetap duduk di ruang tamu Nita. Sedangkan Thira, ia ikut ke kamar Nita. Mereka akan shalat di situ.


“Lelaki itu masih duduk santai, padahal sudah masuk waktu shalat. Yakin mau menerima dia Bu? Penciptanya saja tidak dia patuhi, apalagi ciptaan-Nya. Sebaiknya dipikir-pikir lagi Bu. Ibu itu pantas mendapatkan yang terbaik,” tutur Thira. Kekhawatiran menghiasi wajahnya saat menuturkannya.


“Jadi maksud kamu, yang terbaik untuk saya itu Farel?” tanya Nita.

__ADS_1


“Iya Bu.”


“Kamu bicara begitu karena dia bosmu.”


“Bukan Bu. Faktanya, pak Farel memang jauh lebih baik dari lelaki itu. Lagipula, memangnya Ibu sepenuhnya mencintai lelaki itu? Setahu saya, bu Nita sukanya sama pak Farel.”


“Kalau masalah cinta, bisa tumbuh seiring berjalannya pernikahan.”


“Mungkin lebih baik begitu. Lebih baik dicintai daripada mencintai,” balas Nita sambil menggelar sajadah untuk Thira.


“Kalau saya yang dicintai, setidaknya saya bisa belajar untuk mencintai dengan sepenuhnya. Saya sudah jera mencintai tanpa dicintai, rasanya sakit sekali. That is why saya tidak mau kejadian itu terulang lagi,” tambahnya.


Thira terus meyakinkan Nita. “Tidak akan terulang lagi Bu. Kan pak Farel sendiri tadi yang mengaku kalau dia cinta sama Ibu.”

__ADS_1


Sementara perjalanan Farel dan yang lainnya telah tiba pada ujungnya. Mereka berwudhu di tempat wudhu khusus lelaki yang berada di samping mesjid. Dan langsung masuk ke mesjid untuk shalat berjama’ah seusainya.


Dalam shalatnya, Farel berdoa dalam hati. “Ya Allah, hamba benar-benar mencintai Nita. Kalau dia jodoh saya, maka yakinkanlah Nita untuk memilih saya. Jika tidak, tolong lapangkan hati saya saat dia lebih memilih lelaki itu.”


Di tempat yang lain.


“Ya Allah, Engkau yang Maha Tahu atas segalanya. Tolong bantu hamba dalam memilih salah satu yang terbaik di antara mereka. Hamba menginginkan seseorang yang bisa tetap menyayangi hamba saat tua nanti,” pinta Nita dalam sujudnya.


Tak tega melihat Farel terluka. Arka kembali memberi wejangan saat berjalan ke rumah Nita. “Apa pun keputusan Nita nanti, kamu harus legowo. Kalau tidak berjodoh sama dia, itu berarti Allah sudah menyiapkan perempuan lain yang jauh lebih baik untuk kamu.”


“Iya, yang penting Nita sudah tahu perasaan saya. Setidaknya saya tidak menyesal seumur hidup karena tidak mengungkapkan perasaan cinta saya ke dia.” Raut muka Farel tampak sedih.


Arka menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya secara perlahan. “Dulu, sebelum mengundurkan diri. Nita mengaku kalau dia cinta sama kamu. Tapi tidak tahu kalau sekarang, karena ada lelaki lain juga yang mendekatinya.”

__ADS_1


__ADS_2