Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Kediaman Untuk Mertua


__ADS_3

Dara lalu membuka kertas bertuliskan nama karyawan yang dipilih Arka.


“Selamat untuk Thira, manajer dari Divisi Regional. Dimohon untuk naik ke panggung sekarang. Ayo diambil hadiahnya, Dek.”


Thira berjalan ke panggung.


Suara-suara bahagia dari para peserta menggema di aula perusahaan. Terlebih suara para karyawan dari divisinya, yang merasa sangat bangga manajernya terpilih sebagai karyawan yang berprestasi.


Thira menarik kedua sudut bibirnya saat berdiri di panggung.


Ketelatenannya dalam bekerja, berakhir membuahkan hasil. Hari ini, akhirnya ia meraih penghargaan sebagai karyawan yang rajin dan berprestasi.


“Chukha hamnida, Dek.”


“Terima kasih Kak,” balas Thira lalu cipika cipiki dengan Dara.


“Kasih tahu rahasianya dong Dek, barangkali ada tips yang bisa kamu kasih untuk karyawan lain. Bagaimana cara kamu kerja sampai bisa terpilih menjadi karyawan terbaik?”


Thira pun berbagi tips menakjubkan ala-alanya.


“Alhamdulillah, terima kasih sebelumnya kepada pak Arka. Saya senang sekali bisa dapat penghargaan ini dari Bapak. Baik, saya coba jawab pertanyaan dari MC, beliau adalah direktur utama di perusahaan ini. Well guys, untuk bisa di posisi ini, saya sarankan supaya selalu bekerja secara profesional. Kalau perlu, selesaikan pekerjaan melebihi ekspektasi atasan. Dan yang paling penting, jalinlah hubungan yang baik dengan sesama rekan kerja.”


Suara tepuk tangan yang serentak terdengar dari arah para peserta.


“Love you bu Thira,” teriak Ratna dari bawah panggung. Aksinya itu membuat Thira dan yang lain tertawa.


Kegiatan sehari itu terbukti mampu menghapus rasa lelah para karyawan yang bekerja di perusahaan NaturalSkin Indonesia, walau sejenak.


“Nah, itu dia guys tips dari Thira. Kerja secara profesional, kalau bisa sampai di luar ekspektasi atasan. Jangan lupa juga, harus kompak dengan rekan kerjanya.”


Di saat yang sama, seorang staff melangkah ke panggung. Ia menghampiri Dara dan membisikkan sesuatu di telinga bosnya itu sebelum turun.


“Katanya komika yang diundang sudah sampai. Baiklah, bapak dan ibu sekalian. Kami panggilkan tiga komika yang super lucu di Indonesia. Siapakah dia? Ini mereka.” Dara mengarahkan tangannya ke tangga naik.


Musik jenis welcoming menyambut Indra Frimawan, Abdur, dan Raim Laode saat naik ke panggung.


Aura lucu mereka begitu memikat orang-orang yang melihatnya. Bahkan belum stand up saja, para peserta sudah ketawa duluan karenanya.


Stand up dimulai oleh Indra Frimawan sebagai pembuka. Punchline materinya yang absurd benar-benar menggigit. Sampai tawa para partisipan pecah dibuatnya.


Lanjut ke Abdur. Komika asal Timur tersebut, mampu membuat orang-orang di sekitaran situ terpingkal-pingkal lantaran materinya yang kebanyakan meroasting diri sendiri amat lucu didengar.


Yang terakhir, Raim Laode sebagai penutup. Lawakannya yang cenderung membahas daerah asalnya, membuat yang mendengar bisa tertawa beberapa kali dalam semenit itu. Laugh Per Menit nya luar biasa.

__ADS_1


Dengan berakhirnya stand up itu, berakhir pula lah rangkaian acara umum perusahaan NaturalSkin Indonesia pada hari itu.


Agenda khusus.


“Kita mau kemana?” tanya Dara.


“Panti asuhan,” balas Arka cepat.


Ia yang sepakat dengan saran Nisa, akan mencurahkan separuh omset perusahaannya ke panti asuhan. Tempat penitipan anak itu ia kunjungi bersama dengan direktur dan para manajer. Cuman Nisa yang staff biasa.


“Terima kasih banyak atas sumbangannya Pak,” ucap si ibu pemilik panti.


“Sama-sama,” jawab Arka.


“Ayo anak-anak, kita doakan semoga perusahan Bapak ini semakin maju. Bapak ini dan para pegawainya diberi kesehatan dan kemudahan dalam bekerja. Juga diberikan kebahagiaan lahir dan batin,” pinta si ibu tadi.


Anak-anak itu pun berdoa dengan wajah yang bersemu.


Ada perasaan senang yang tak dapat Arka definisikan saat melihatnya. Kehadiran Nisa yang sering mentransfer ide-ide baru padanya, membuat hari-harinya kian berwarna-warni.


Saat Arka beserta bawahannya akan pulang, anak-anak yatim itu menyalami mereka secara bergantian.


***


Arka dan Nisa merebahkan badan di atas ranjang, setelah mereka melaksanakan shalat dzuhur secara berjama’ah. Keduanya membiarkan kakinya yang letih habis berjalan jauh, beristirahat untuk sejenak.


Eh, malah keterusan sampai sore.


Pasangan suami istri itu pun buru-buru mengambil air wudhu, dan melaksanakan shalat asar di akhir waktu.


Astaghfirullah...


Ba’da shalat, keduanya langsung mandi sore. Seusai itu, mereka mengecek gawai masing-masing. Rupanya, ada pesan dari Dara sejak tadi menunggu untuk dibaca Arka.


“Kenapa tadi berpegangan tangan dengan Nisa? Tega sekali, hiks hiks.”


Arka cepat-cepat mengetik. “Demi menjaga image baik saya sebagai seorang suami di tempat umum. Biar perusahaan kita makin maju, sayang.”


Akhirnya, pesan yang dari tadi Dara kirim dibalas juga. Ia langsung membaca rentetan kata dari Arka. Lalu, jemarinya menekan-nekan tombol di keyboard.


“Kalau tidak saya tegur, kamu pasti tidak melepaskan tangan Nisa tadi. Doyan tapi mengaku demi perusahaan,” balasnya.


Arka terus memberi penjelasan yang terdengar masuk akal pada Dara.

__ADS_1


Pada akhirnya, Dara bisa menerima alasan-alasan itu. Tapi ia bukan gadis bodoh yang mudah dikibuli begitu saja oleh Arka.


“Saya harus sering-sering mengawasi Arka. Akhir-akhir ini dia suka belok sembarangan,” monolog Dara.


Dua hari setelahnya.


Waktu weekend, Arka dan Nisa nginap di kontrakan.


Selepas shalat magrib, Arka memulai pembicaraan. “Saya mau ajak Ibu, Bapak, dan Kanza makan malam di luar. Sekalian kita jalan-jalan.”


“Wah, alhamdulillah kalau begitu. Mau yah Pa?” bujuk bu Faridah.


“Iya, boleh. Sudah lama sekali kita tidak makan di restoran,” balas pak Nugroho.


Kanza yang sudah tahu perkara rumah tangga kakaknya dengan Arka, berekspresi biasa saja. Ia tak lagi bangga pada kakak iparnya itu.


Arka dan Nisa duduk di depan. Kanza, bu Faridah, dan pak Nugroho duduk di belakang pastinya.


Mobil mewah miliknya, Arka kemudikan ke sebuah restoran bintang lima yang terletak di tengah-tengah kota. Restoran tersebut mudah diakses oleh orang-orang berdompet tebal seperti Arka.


Ini pertama kali anggota keluarga Nisa makan di antara orang-orang kaya.


Pak Nugroho dan bu Faridah memesan pasta. Kanza penasaran mencoba foie gras yang katanya harganya lumayan menghabiskan cuan, jadi ia memesannya. Nisa dan Arka kompak ingin makan steak.


Selang beberapa saat, makanan masing-masing telah ludes dimakan.


Arka lalu menebus bill. Ia beserta keluarga istrinya pun keluar dari restoran exclusive tersebut. Kendaraan roda empatnya kembali dikemudikan ke sebuah tempat yang berjarak tak begitu jauh dari restoran tadi.


“Ini mau jalan-jalan atau pulang?” batin Nisa yang sangat familiar dengan rute tersebut.


Yup, jalanan itu selalu ia lalui saat kembali ke mansion.


Now, Arka mengarahkan mobilnya ke sebuah rumah yang cukup mewah. Rumah yang bertingkat dua dengan pekarangan yang cukup luas. Ada banyak bunga di tamannya, ada ayunan besi juga di situ.


“Ini rumah siapa, Nak?” tanya bu Faridah.


“Rumah Ibu,” jawab Arka. Ada ketulusan yang terpancar dari bola matanya saat mengatakan itu.


Tak ingin tanda tanya besar bercokol di pikirannya, bu Faridah bertanya lagi. “Kamu lupa jalanan ke kontrakan?”


Arka menjawab dengan tenang. “Masih sangat ingat, Bu.”


“Kalau masih ingat, kenapa sampai tersesat ke sini Nak?”

__ADS_1


“Kak Arka mabuk ya? Kontrakan kami itu kecil Kak, beda sekali dengan rumah ini. Yang ini bertingkat dua, halamannya juga luas sekali. Jadi tidak mungkin ini rumah kami,” celetuk Kanza.


__ADS_2