Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Mengingatkan


__ADS_3

Bagaimana pun Arka berusaha menutupi, ia tetap gagal dalam menyembunyikan perasaan cemburunya pada lelaki yang mendekati Nisa. Termasuk pada Maher yang merupakan senior Nisa juga di sekolah.


Evaluasi bahan make up itu telah selesai. Semua peserta yang ikut berpartisipasi pun kembali ke mobil masing-masing.


Arka merangkul Nisa sampai ke mobil. Sengaja ia lakukan, untuk memanas-manasi Maher yang terus berusaha mendekati Nisa tadi.


Hari ini, rasa dan raga Arka tak saling berlawanan. Rasanya untuk Nisa, raganya juga berada di dekat Nisa.


Lama berkendara. Suasana perkebunan yang hijau, kini berganti dengan suasana kota yang berdebu. Langit yang tadinya silau, kini redup dan mengabu.


Selang beberapa menit, mobil yang dikendarai Arka telah tiba di muka kontrakan Nisa.


“Terima kasih Kak,” ucap Nisa sebelum turun dari mobil.


Ia cepat-cepat melangkah masuk tanpa mengajak Arka. Yup, karena Arka tidak mungkin mau menginap di rumahnya. Mengantar saja Arka malas, apalagi kalau sampai harus nginap.


Tak terduga, Arka menyusul.


“Mau apa Kak?” tanya Nisa yang terheran-heran padanya.


“Mau mampir juga. Kenapa? Tidak boleh?”


Nisa menggeleng.


Arka yang mulai belajar cara membina komitmen rumah tangga yang baik, memutuskan untuk menginap di situ.


Sejam berlalu.


“Kenapa belum pulang Kak? Ini sudah malam,” tanya Nisa.


“Untuk apa saya pulang kalau kamu ada di sini?”


“Saya bukan cuman mampir Kak. Saya mau nginap.”


“Iya, saya tahu kamu akan menginap. Kamu kan sudah izin ke saya.”


“Hah? Apa itu artinya Kakak juga mau nginap di sini malam ini?”


“Iya. Memangnya kenapa kalau saya mau ikut nginap? Kamu tidak suka?” balas Arka menohok.


Nisa cukup terkejut mendengar pengakuan itu. “Suka Kak. Tapi-”


“Tapi apa?” potong Arka.


Nisa menyahuti Arka dengan memberikan peringatan. “Kakak kan sudah lihat dulu kalau ranjang di kamar saya tidak seempuk ranjang di mansion. Ukurannya juga jauh beda. Kalau Kakak mau nginap, ya siap-siap saja kita sempit-sempitan di atas ranjang.”


“Sempit-sempitan? Justru itu yang saya suka. Saya harus sering-sering menginap kalau begini. Biar saya gampang buat kesebelasan. Nisa pasti tidak berani menolak saya di sini,” batin Arka.

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Toh, cuma sekali sepekan.”


Nisa melongo lagi karena balasan Arka.


“Hah? Maksud Kakak, ke depannya kita akan nginap terus di sini tiap akhir pekan?”


“Iya. Asal kamu menuruti terus keinginan saya,” jawab Arka yang tengah bergumul dengan asmara.


Netra Nisa berkaca-kaca. “Wah... Terima kasih banyak, Kak.”


“Kenapa kamu tidak peluk saya?”


Nisa menaikkan satu alisnya. “Maksud Kakak?”


“Perempuan di TV selalu begini kalau lagi senang.” Arka memperagakannya dengan memeluk erat Nisa.


Terlalu rapi ia mengakali Nisa.


“Bukan begini. Kakak kelamaan meluknya,” protes Nisa setelah beberapa menit berlalu.


Mendengar itu, Arka melepaskan rangkulannya. “Aduh. Saya salah ya? Coba praktikkan yang benar bagaimana!”


Akal bulus Arka benar-benar bekerja dengan maksimal hari ini.


“Yang benar itu begini Kak.” Nisa memeluk Arka sambil menggoyang-goyangkan badannya. Sebentar saja, tidak seperti Arka yang kelamaan.


Ia tak menyadari, bahwa itu hanyalah trick konyol Arka untuk merenggut hangatnya rangkulannya dengan cara yang halus.


“Di surau sudah shalawat Kak. Sebaiknya kita masuk sebelum adzan magrib,” ajak Nisa.


Arka mematikan mesin mobilnya, kemudian masuk ke kontrakan dengan menggandeng tangan Nisa. Tanpa sadar, perasaannya untuk Nisa bertambah. Hari demi hari.


“Assalamu ‘alaykum,” ucap mereka secara bersamaan.


“Wa ‘alaykumussalam warahmatullah,” teriak bu Faridah sembari berjalan menuju pintu.


Dibukanya pintu kontrakannya yang amat sederhana itu. “Eh ada Nak Arka juga,” tuturnya setelah membuka pintu. “Ayo masuk! Keburu adzan magrib nanti,” lanjutnya.


Nisa dan Arka pun masuk. Di dalam kontrakan, mereka bergantian ke kamar mandi untuk membasahi diri yang gerah setelah seharian bereksplorasi di plantation.


“Saya lapar,” ungkap Arka setelah melakukan shalat berjama’ah dengan Nisa di kamar.


“Mau dimasakkan apa Kak?” tanya Nisa cepat.


“Saya mau makan yang hangat-hangat.” Arka berpikir sejenak. “Nasi goreng saja,” imbuhnya tak lama setelahnya.


Nisa mengiyakan. Ia beranjak dari kamar untuk ke dapur.

__ADS_1


“Tidak usah masak! Masih banyak makanan di situ,” ungkap bu Faridah pada Nisa yang sibuk menyiapkan rampah-rempah untuk nasi goreng.


“Kak Arka maunya makan nasi goreng Ma.”


“Oh, kalau begitu sok kamu masakkan. Dua porsi saja ya, kami semua sudah makan tadi.” Selepas itu, bu Faridah berjalan ke kamarnya.


A few moments later.


Bumbu-bumbu telah Nisa haluskan. Minyak yang ia naikkan ke wajan juga telah mendidih. Saatnya menuangkan bumbu itu ke wajan.


Bumbu halus itu kini berenang-renang di dalam minyak panas. Aromanya juga berenang-renang sampai ke seluruh penjuru kontrakan Nisa. Bahkan berhasil menyeberang ke rumah tetangga.


Indra penciuman Arka ikut menangkap wangi tumisan bumbu buatan Nisa. Entah kenapa, ingatannya mengarah ke suatu kejadian. Tapi ia lupa kejadian apa itu.


Nasinya sudah siap. Nisa beralih menyiapkan pelengkap nasi gorengnya.


Sebutir telur ayam ras digenggamnya. Cangkang telur itu ia pecahkan, lalu menjatuhkannya di atas minyak panas. Itu berulang sampai du kali.


Jadilah telur mata sapi, not mata dajjal.


Next, tangan Nisa meraih kerupuk udang mentah yang ada di toples. Kerupuk-kerupuk itu ia cemplungkan ke dalam minyak panas.


Dan... jadilah kerupuk udang.


Yang terakhir, memotong-motong timun hijau. Timun itu Nisa potong serong biar kelihatan lebih cantik.


Nasi, telur, kerupuk, dan timun Nisa tata dengan cantik di atas piring. Nisa yang tahu Arka sudah sangat lapar, berjalan cepat ke kamar.


“Nasi gorengnya sudah jadi Kak. Mari makan!”


“Ayo!” balas Arka rapid.


Keduanya lalu melangkah beriringan ke dapur.


Nisa menuangkan air putih ke gelas. “Aman, Kak. Tidak ada perangsangnya sama sekali. Nasinya juga tidak mengandung bumbu perangsang,” ujarnya kala menyodorkan gelas berisi air putih ke Arka.


Arka menyeringai. “Justru bagus kalau ada perangsangnya, saya jadi menang banyak. Habis makan yang panas-panas di dapur. Dapat yang panas-panas juga di kasur. Maka nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Kamu Dustakan?”


Ekspresi Arka begitu datar saat mengatakannya. Berbeda dengan reaksi Nisa yang tidak datar sama sekali kala mendengarnya.


Nisa refleks meringis. “Enak di Kakak, sakit di saya.”


“Makanya saya bilang menang banyak,” balas Arka yang duduk di sebelah Nisa.


Arka kemudian menyantap nasi goreng yang masih mengeluarkan asap mengepul itu.


“Enak sekali,” katanya.

__ADS_1


“Alhamdulillah kalau enak. Dihabiskan ya Kak!” pinta Nisa. Seperti sedang bicara pada anak kecil saja.


“Tanpa kamu minta pun. Nasi goreng super enak ini akan saya habiskan,” balas Arka lalu memasukkan irisan timun ke dalam mulutnya.


__ADS_2