Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Mantu Idaman Mama


__ADS_3

Panas mentari semakin membakar, beruntung bu Haifa sudah tiba di mansion. Perutnya yang kosong terasa lebih perih setelah berolahraga.


Ia cepat-cepat berjalan ke dapur. Memeriksa, ada makanan apakah kiranya di meja makan sang menantu.


Saat dibuka...


Hanya ada nasi, ayam woku, dan bihun sayur. Meski begitu, bu Haifa tak menyudutkan Nisa yang hanya menyiapkan tiga menu makanan.


Baginya, wajar jika menantunya itu masak seadanya saja. Toh Nisa sibuk juga mau ke kantor.


Bu Haifa yang lapar buru-buru duduk di salah satu kursi. Kemudian mengambil piring, saatnya mencoba masakan sang menantu.


Bakalan enak tidak ya?


Bu Haifa mengawali dengan memakan bihun sayur terlebih dulu. Bihunnya bercampur dengan sayuran hijau dan potongan sosis.


“Mmm... Enak, rasanya pas.”


Beralih ke ayam woku. Bu Haifa senang sekali dengan wangi daun jeruk yang berasa.


Dicicipnya ayam itu, rasanya benar-benar nendang di lidah. Jahenya, kemirinya, kunyitnya, semua berasa. Apalagi dimakan pake daun kemangi.


“Enaknya masakan Nisa,” tutur bu Haifa sambil nombok nasi.


Sesaat kemudian, ia menganggurkan sebentar masakan Nisa itu. Rupanya, ia ke kamar untuk mengambil gawai dan kembali ke dapur.


Setibanya di meja makan, ia memotret masakan Nisa dan dikirimkan ke suaminya. “Masakan Nisa enak banget, Pa. Makin lama, anakmu bisa jadi makin berisi nanti. Soale tiap hari disuguhkan masakan enak begini, makannya pasti banyak.”


Melihat foto yang dikirimkan istrinya, dimana nasi menggunung di atas piring, membuat pak Pradipta percaya bahwa masakan buatan menantunya pasti enak. Secara, sup buah buatan Nisa waktu itu juga sangat cocok di lidahnya.


Pak Pradipta tidak menjawab dengan ucapan, ia hanya mengirimkan sticker jempol.


Seberes makan, bu Haifa mencuci piringnya sendiri. Lalu keluar, duduk di kursi santai yang tak jauh dari kolam renang.


Ia kembali berselancar di socmed. Merekam suasana kolam renang yang bersih dan asri untuk dikirimkan lagi ke suaminya.


“Lihat, Pa. Mansionnya Arka bersih kan? Padahal tidak ada pembantu di sini. Tidak salah kita paksa Arka menikahi Nisa dulu. Menantu kita itu rajin ibadah, rajin masak, rajin membersihkan pula. Memang mantu idaman yang selama ini mama cari. Sayang, dia belum hamil. Padahal mama sudah kepengen sekali menggendong cucu.”


Pak Pradipta yang menontonnya, merasa sangat bersalah mendengar kalimat terakhir sang istri. Gara-gara idenya dan Arka lah yang menyebabkan Nisa jadi keguguran.


“Iya Ma,” kirim pak Pradipta yang hatinya dipenuhi resah.


Bu Haifa membaca pesan dari sang suami. Then mematikan koneksi internetnya. Ia melompat ke kolam renang setelahnya.

__ADS_1


Puas berenang, ia masuk ke rumah untuk mengganti pakaian. Ia yang mulai jenuh, memutuskan untuk tour ke seluruh penjuru mansion.


Tibalah di spot terakhir, kamar Arka dan Nisa. Bu Haifa membuka lemari pakaian anak dan menantunya secara bergantian.


“Tidak ada baju dinas. Pantas dia belum hamil. Mungkin karena Arka kurang tertantang,” ucapnya saat menelisik isi lemari Nisa.


Sementara di kantor.


Selepas berbicara dengan supir kantor, Arka meraih ponselnya. Ia menghubungi sang pemilik surga yang berada di bawah telapak kaki.


Panggilan pertama, bu Haifa langsung mengangkat panggilan telepon dari Arka.


“Kenapa?” tanyanya.


“Ada supir on the way ke mansion. Saya suruh untuk jemput mama. Sekalian temani mama shopping. Supaya tidak repot membawa kalau ada barang berat yang mama beli nanti.”


“Baguslah kalau begitu. Mama juga bosan sendirian di sini.”


Bu Haifa langsung bersiap-siap. Ia berpakaian, juga dandan ala-ala keluar rumah.


Ia cepat-cepat ke pintu utama saat mendengar suara klakson berbunyi. Tak lupa ia mengunci mansion sebelum otw mall.


Arka yang baru saja menelepon, menarik nafas lega. Alhamdulillah, meski ibunya agak kecewa, setidaknya perempuan yang melahirkannya ke dunia itu tidak sebegitu marah karena ditinggal sendiri di mansion.


“Sayang... Nanti kita pulang bareng ya,” pinta Dara.


“Maaf ya sayang, mama nginap di mansion. So, hari ini saya harus pulang dengan Nisa.”


“Aigo. Kan bisa kita pulang bertiga. Mamamu tidak akan tahu, sayang. Kecuali saya ikut sampai mansion.”


“Next time saja ya sayang. Saya belum terlalu sehat untuk bolak-balik mengantar. Mianhae.” Arka menatap sendu, biar Dara luluh.


“Ne,” balas Dara sedikit tak bahagia. Kalau saja bukan karena satu kata bahasa Korea yang Arka ucapkan, mungkin ia akan ngambek total.


***


Arka menunggu Dara pulang. Seperginya Dara dari kantor, ia cepat-cepat menghubungi Nisa. Meminta istrinya itu untuk segera ke basement.


“Duduk di depan! Biar kita kelihatan mesra di depan mama.”


“Iya.” Meski sedikit malu, Nisa tetap masuk. Then duduk di samping Arka.


Arka dan Nisa melewati senja berdua, berdampingan, dan berdekatan.

__ADS_1


Setibanya di rumah, bu Haifa memanggil mereka berdua. “Sini lihat! Mama beli sesuatu. Mama harap, pemberian mama ini bisa bikin kalian cepat punya anak.”


Tepat di hadapan Arka dan Nisa, bu Haifa mengeluarkan tiga buah lingerie yang berbeda warna. Ada merah, hitam, bahkan pink juga ada.


Arka dan Nisa berasa diprank olehnya. Yang ada di pikiran mereka berdua; buku panduan cepat hamil, suplemen yang terbuat dari asam folat, dan lainnya (yang jelasnya bukan lingerie).


“Diambil dong sayang!” titah bu Haifa pada menantu kesayangannya.


Arka menelan salivanya saat membatin. “Kalau begini terus, kesetiaan saya ke Dara bisa terkikis. Aish, kenapa semua jadi serumit ini?”


Tetiba, Daniel datang di situasi awkward itu.


“Mau apa lagi ke sini?” tanya Arka padanya.


“Mau jemput mama. Nenek minta ditemani soalnya.” Daniel lalu duduk tanpa disuruh.


Bu Haifa mengulurkan tangannya ke Nisa.


“Ayo ke kamar! Mama penasaran lihat kamu pakai ini. Mama juga mau tahu, ini sudah pas atau kekecilan.”


“Tapi, Ma. Sesama perempuan pun ada batasan auratnya.” Suara Nisa amat pelan saat berujar. Ia sebisa mungkin menjaga bicara agar ibu mertuanya tidak tersinggung.


“Mama tahu sayang. Kamu memang tidak boleh telanjang di depan mama. Di depan Arka baru boleh. Seharian penuh juga boleh.”


Arka dan Nisa tersentak mendengarnya.


Dua perempuan berhati mulia itu pun berjalan ke kamar. Diperhatikan dari belakang oleh Daniel yang memiliki imajinasi liar terhadap adik iparnya.


“Mata dijaga Kak! Makanya, kalau mau kawin itu nikah. Bukan ke club tiap malam,” tegur Arka pada Daniel yang matanya jelalatan.


“Kamu cemburu istrimu saya lihat terus?” tembak Daniel.


“Untuk apa saya cemburu? Saya punya pacar yang cantik.”


“Buat apa punya pacar cantik, kalau tidak pernah diunboxing. Lebih baik saya, single tapi sudah pernah unboxing cewek.”


“Nisa sudah saya unboxing malam itu di kantor. Lagian, sejak kapan kemesuman dijadikan prestasi?” balas Arka menohok.


“Bodoh! Sampai sekarang kamu masih berpikir kalian berhubungan malam itu?”


“Kenyataannya memang begitu kok.”


“Kalau cuma yang di kantor, itu berarti kalian belum malam pertama. Bilang ya kalau kalian mau melakukannya di sini. Nanti saya bayar mahal untuk nonton live streaming mu.” Daniel terbahak-bahak seusainya.

__ADS_1


“Let me tell you Arka, she’s virgin. Kalau kamu tidak mau memerawaninya, kapan pun saya siap jadi pemeran pengganti. Kebetulan mama dan oma ngebet mau punya cucu. Tinggal kita bilang saja anak saya dan Nisa nanti sebagai anak kamu,” lanjutnya. Masih dibarengi tawa yang keras.


__ADS_2