
Arka menggandeng tangan Nisa hingga masuk ke dalam mobil.
Sementara Daniel, ia menggandeng koper bu Haifa. Kakak dan ibu Arka tersebut menggunakan mobil yang lain.
Arka menunggu sejenak. Membiarkan ibu dan kakaknya pergi lebih dulu ke rumah oma. Ia melaju hanya saat mobil yang dilewati mereka tak terlihat lagi di pelupuk matanya.
Di tengah-tengah perjalanan, Arka memarkirkan mobilnya di depan sebuah toko bunga. Ia pun masuk, mengambil, membayar, lalu membawa dua bunga yang ia pilih ke dalam mobil.
Nisa pikir, Arka membeli dua bunga untuk dikasih ke nenek dan dirinya. Lama di dalam mobil, Arka tak kunjung memberikan salah satu bunga itu padanya.
“Mungkin dua-duanya untuk nenek,” batinnya.
Arka kemudian memperlambat laju mobilnya. Satu tangan memegang setir, satu tangan lagi meraih ponsel di saku. Setelah itu, ia menghubungi seseorang.
“Tunggu di depan rumah! Saya mau kasih sesuatu,” tuturnya lalu memutuskan panggilan singkat tersebut.
Benar saja, Arka menepikan kendaraan roda empatnya di depan sebuah rumah yang cukup mewah. Di situ, Arka membuka kaca mobil. Salah satu bunga ia berikan ke gadis cantik yang menunggunya.
Siapakah dia???
Siapa lagi kalau bukan Dara?
Sakit tak berdarah yang Nisa rasakan kala menyaksikan momen tak mengenakkan itu. Meski demikian, Nisa tetap tersenyum ke arah seniornya yang sedang menerima bunga dari suaminya.
“Pantas bunganya tidak dikasih ke saya, ternyata untuk kak Dara. I am okay,” monolognya dalam hati.
Salah satu bunga telah diberikan.
Saatnya Arka lanjut menyetir. Menyusuri jalan trans, yang sisi kanan dan kirinya ramai. Paling ramai karena banyak pembeli yang mendatangi outlet para penjual.
Selang beberapa menit, tibalah mereka di kediaman oma.
“Cucu kesayangan oma sudah datang,” ucap oma tatkala Nisa dan Arka menginjakkan kaki di kamarnya.
Arka tersenyum bangga mendengarnya. Dari dulu, oma memang selalu mengucapkan cucu kesayangan jika ia yang datang. Secara, ia memang cucu emas oma.
Setelah memperhatikan baik-baik, tatapan oma ternyata mengarah ke Nisa terus. Oma juga membuka rangkulan untuk Nisa.
Arka jadi kesal lantaran posisinya di hati oma berpindah dengan begitu cepatnya ke Nisa.
Nisa juga terheran-heran dengan tingkah oma yang seperti itu. Ia memastikan baik-baik ke arah mana oma memandang. Rupanya, cucu kesayangan yang oma maksud memang dirinya.
__ADS_1
Haru menghinggapi hati Nisa. Ia kemudian berjalan cepat untuk memeluk oma.
“Bagaimana kabar oma?” tanyanya dengan intonasi penuh cinta.
Oma curhat. “Kurang baik, sayang. Oma susah tidur. Sini, urut kening oma lagi! Biar oma gampang tidur. ”
Nisa meraih kursi. Didekatkannya alat untuk duduk itu ke bed oma. Jemarinya mulai mengurut lembut kedua alis oma. Seperti sebelumnya, cara itu berhasil membuat oma tidur.
Bunga yang Arka berikan untuk oma diletakkan di atas nakas. Akan diberikan jika oma sudah bangun besok.
Pak Pradipta, yang juga berada di situ, mengamati Nisa baik-baik. “Anak ini gampang sekali mengambil hati mama. Haifa juga sayang sama dia. Lama-lama, Arka juga bisa berpaling dari Dara. Mulai sekarang, Pilih Nisa atau Dara saya serahkan saja ke Arka. Aish... saya sudah mulai menyukai menantu baik ini,” monolognya dalam hati.
***
Belum pulih sepenuhnya. Namun, bibir lebam Nisa mulai tersamarkan. Meski begitu, masih belum aman jika ia berkeliaran di kantor.
“Peraturannya masih seperti kemarin. Kamu boleh masuk kerja. Asal tidak keluar ruanganmu sampai sore,” pinta Arka.
Nisa mengangguk.
Sesampainya di kantor, Nisa langsung ke ruangannya. Pagi ini, ia tak harus membuatkan Arka kopi. Yang harus ia lakukan hanyalah menjalankan bisnis sesuai dengan arahan Arka.
Meski penuh larangan dari Arka, ia benar-benar menikmati pekerjaannya sebagai staff di divisi regional tersebut.
Sementara di ruangan Arka, Dara sudah menungguinya. “Nisa mana, yang?” tanyanya.
“Di ruangannya,” jawab Arka. Singkat, padat, dan tidak jelas buat Dara.
“Kenapa tidak ke sini bawakan kamu kopi?”
Arka gelagapan, menyadari Dara sudah mulai
mengendus rahasia yang ia tutup-tutupi sejak kemarin.
“Saya stop dulu minum kopi. Takut tekanan darah tinggi sayang,” jawabnya yang berusaha tetap terlihat cool.
Dara melihat Arka dengan tatapan tajam dan dengan ekspresi wajah yang datar.
Tak seperti biasanya yang selalu ceria. Atau memanyunkan bibir saat ngambek.
“Bibir lebamnya sudah sembuh?” tanyanya.
__ADS_1
Rasa takut ketahuan semakin menjalari diri Arka. “Bekas kena minyak goreng panas di mulutnya tidak separah dulu lagi.”
“Tidak niat kah bikin bibirnya tambah lebam?”
“Bibirnya begitu bukan gara-gara saya, sayang. Gara-gara dia sendiri yang tidak hati-hati kalau memasak. Memang dasarnya dia teledor, menggoreng ayam saja minyak panasnya sampai kena bibir.”
Netra Dara kini berkaca-kaca. “Bukan dia yang teledor tapi kamu. Kamu pikir saya anak-anak? Bisa dibohongi dengan alasan yang tidak masuk akal begitu.”
“Maksud kamu apa, yang?” Arka masih terus berpura-pura.
“Seharusnya saya yang tanyakan itu ke kamu. Maksud kamu apa mencium Nisa sampai bibirnya lebam begitu? Kurang puas sama saya?” Air mata kini mengaliri pipi chubby Dara.
“Saya terpaksa mencium dia, sayang. Karena mama mengintip kami terus,” jawab Arka sesopan mungkin.
“Terpaksa, tapi sampai lebam. Kalau memang kamu terpaksa, bibir Nisa tidak akan lecet begitu.”
“Itu karena Nisa banyak gerak. Makanya bibirnya sampai luka.” Arka mengambil tisu, lalu mendekat untuk mengelap air mata kekasihnya itu.
Dara menepisnya. “Kamu bohong, yang. Bisa-bisanya kamu nafsu sama Nisa. Kurang cantik apa lagi saya?”
Arka mendekap Dara. Berharap, dengan begitu ia bisa melunturkan amarah perempuan yang amat ia cintai itu.
“Tidak usah rangkul-rangkul. Saya benci lelaki seperti kamu. Tidak bisa menepati janji. Katanya tidak akan khilaf. Tapi kenyataannya? Kamu jahat, yang."
Arka tak menyahut lagi. Faktanya, memang ia yang begitu bernafsu terhadap Nisa. Nafsunya yang membuncah, sampai membuatnya kehilangan akal sehat.
Suara Dara terdengar kembali. “Sekali lagi bibir Nisa bengkak begitu. Saya tidak akan memaafkan kamu lagi.” Ia kemudian berjalan keluar dengan cepat.
“Saya janji tidak akan melukai perasaanmu lagi, sayang. Saya janji tidak akan menyentuh Nisa lagi,” teriaknya.
Arka benar-benar menyesali perbuatannya. Jika saja ia bisa lebih mengontrol diri, semuanya tidak akan jadi separah ini.
Sejak kejadian tidak mengenakkan itu, Arka kembali bersikap sadis pada Nisa.
Sebisa mungkin, ia menghindari interaksi yang intens dengan Nisa.
.
.
.
__ADS_1
To be continued. Thanks for reading ❤️💛💚💙