
Arka benar-benar merasa segar sekarang.
Suapan demi suapan masuk ke kerongkongannya. “Rasa nasi goreng buatanmu persis seperti rasa nasi goreng yang Farel pernah bawa ke kantor,” ujarnya.
“Ya mirip lah Kak. Yang masak kan saya,” balas Nisa.
Arka tersedak. Ia buru-buru minum air. “Jadi kamu yang buat nasi goreng enak itu?”
Nisa mengangguk. Sudah saatnya Arka tahu kebenaran yang ia rahasiakan selama ini.
Arka bermonolog dalam hati. “Pantas aroma masakan Nisa mengingatkan saya ke sesuatu. Ternyata aroma nasi goreng yang Farel kasih waktu itu. Farel sialan, sudah di Malaysia tapi masih menyusahkan saya di sini.”
Benak Arka kini berkelana pada kejadian nasi goreng itu. Pertama, saat nasi goreng di atas meja Farel ia habiskan. Kedua, saat nasinya ia rampas dari Nisa di lobby. Dan ternyata... pembuat nasi gorengnya adalah Nisa sendiri.
Malu sekali rasanya saat ia mengingat itu semua.
“Kenapa kamu buatkan Farel nasi goreng?” tanya Arka dengan memperlihatkan mimik tidak senangnya.
Nisa menyahut cepat. “Karena saya wanita murahan. Jadi saya sengaja menggoda Farel dengan memasakkan dia nasi goreng. Sekalian saya kasih perangsang di nasinya. Biar Farel mabuk dan meniduri saya. So, mau tidak mau Farel harus menikahi saya walau terpaksa sekalipun.”
Kejadian masa lalu itu, sungguh sangat menyayat hati Nisa saat mengingatnya.
“Mulai sekarang, kamu tidak boleh memasak untuk lelaki lain. Selain dari keluarga kita. Satu lagi, kamu tidak boleh kelihatan akrab dengan lelaki lain yang bukan mahrammu. Ke Maher sekalipun.”
Nisa kembali membuka mulut. “Kenapa tidak boleh? Perempuan murahan seperti saya kan memang senang ngobrol dengan sembarang lelaki.”
“Hush, jangan bicara seperti itu!”
“Kenapa saya tidak boleh bicara begini? Sedangkan Kakak sering sekali mengucapkannya dulu?”
“Let byegones be byegones Nisa!” Arka tak suka jika Nisa membahas masa lalu yang membuatnya merasa bersalah. “Mau kemana?” tambahnya saat Nisa berdiri.
“Ke toilet sebentar, Kak.”
Nisa mengambil langkah seribu saat ke toilet. Rasa sedih benar-benar menghujamnya kala mengingat bully-an yang dulu Arka lakukan padanya.
Ia menangis sejadi-jadinya di dalam toilet itu.
“Maafkan saya Nisa,” batin Arka yang mendengar tangisan Nisa.
Padahal Nisa telah menyamarkan tangisnya dengan menghidupkan kran air. Tapi tetap saja isaknya kedengaran di rungu Arka.
Arka jadi bingung dalam menentukan sikap.
Ia yang tak tahu harus berbuat apa, cepat-cepat ke kamar setelah makan. Ia mematikan lampu kamar, menarik selimut, lalu menutup wajahnya meski ia tak dapat tidur karena perasaan bersalah itu.
Adapun Nisa, ia keluar dari toilet. Nasi goreng yang ia anggurkan di meja, ia habiskan dulu sebelum ke kamar tidur.
Lama setelahnya, Arka menarik selimut yang menutupi muka Nisa. “Maafkan saya sayang,” ucapnya sembari mencium dahi Nisa.
Ia yang tadinya tidur membelakangi Nisa. Kini menghadap ke Nisa seraya memeluk istri malangnya itu.
“Kenapa kak Arka melakukan semua ini?” batin Nisa yang sebenarnya belum tidur.
__ADS_1
Ia sengaja menutup mata saat Arka membuka selimut yang menutupi wajahnya. Aneh saja rasanya jika suaminya itu ketahuan diam-diam mengeceknya saat tidur.
Pelukan Arka sedikit menyulitkannya untuk bernafas. Meski begitu, ia tetap tak protes. Kalau protes, bisa ketahuan ia hanya pura-pura tidur.
***
Suara adzan yang dikumandangkan dari arah surau, membangunkan Nisa dari tidurnya. Saat terbangun, Arka sudah tidak di sampingnya lagi.
Nisa bodo amat kemana Arka pergi. Sekarang, yang harus ia lakukan adalah cepat-cepat berwudhu untuk melaksanakan shalat subuh.
“Pak, tadi yang adzan siapa?” tanya Nisa pada pak Nugroho yang baru saja pulang dari surau.
“Suami kamu.”
“Hah? Kak Arka yang adzan?”
“Iya, si Arka. Apa selama ini dia tidak pernah adzan, sampai kamu kaget begitu?” tanya pak Nugroho usai memperhatikan gerak-gerik putri pertamanya.
“Pernah kok, Pak.”
Perlahan, kebencian Nisa pada Arka luruh. Akhirnya, hal yang telah lama ia nantikan terjadi juga. Lambat laun, Arka perlahan-lahan berubah ke arah yang lebih baik.
“Terus kak Arka mana Pak?”
“Dia masih di surau, ditahan sama warga tadi.”
Nisa mengernyitkan dahi. “Kak Arka ditahan kenapa Pak?”
“Biasa ibu-ibu sini, suka penasaran dengan orang baru.”
rumah untuk menunggui Arka datang.
Dari kejauhan, tampak Arka pulang bersama warga yang lain. Ia kadang tertawa, entah apa yang ibu-ibu itu ucapkan hingga membuatnya tertawa lepas seperti itu.
“Mau kemana?” tanya Arka pada Nisa yang berdiri di luar kontrakan.
“Tidak kemana-mana.”
“Terus kenapa kamu keluar?”
Nisa to the point. “Mau salim.”
Arka cepat-cepat mengulurkan tangannya. Nisa lalu menariknya pelan, punggung tangan Arka kini menyentuh dahinya.
“Suasana subuh ini bagus sekali.” Kalimat Arka itu berisi tawaran yang terselubung.
“Mau jalan-jalan subuh Kak?” tanya Nisa.
“Boleh,” balas Arka cepat.
Keduanya kini bergandengan menyusuri jalan.
Sepulang dari jalan-jalan subuh, Nisa yang sedikit berkeringat meraih handuk untuk mandi. Saat kembali ke kamar, ia mendapati Arka terbaring di atas tempat tidur.
__ADS_1
Ia menepuk pelan pundak Arka lalu berkata,
“Mandi Kak!”
“Saya tidak enak badan Nisa. Tiba-tiba saja badan saya terasa panas. Mungkin karena kelamaan di perkebunan kemarin. Biasanya memang Farel yang mewakili saya. Sekarang tidak lagi, karena dia sudah pindah ke Malaysia.”
Nisa meletakkan tangannya di atas dahi Arka. Benar saja, kulitnya terasa panas saat bersentuhan dengan kulit Arka.
“Kakak tidak boleh mandi dulu! Makin parah nanti demamnya.” Nisa pun berjalan keluar.
“Kamu mau kemana?” tanya Arka saat Nisa hendak pergi.
“Beli obat untuk Kakak di warung. Cuman sebentar kok Kak.”
Nisa meyakinkan Arka. Secara, bayi besarnya itu memang rewel sekali kalau sedang sakit. Tidak mau ditinggal barang sedetik pun.
“Jangan lama-lama ya!”
“In Syaa Allah Kak.”
***
“Mau beli apa?” tanya bu Murni. Ibu cantik pemilik warung sederhana tersebut.
“Mixagrip flu dan batuknya ada Bu?”
“Ada.” Bu Murni mengambil obat tersebut, lalu menyerahkannya ke Nisa. “Siapa yang sakit?” lanjutnya.
Jiwa kepo bu Murni memang tergolong di atas rata-rata.
“Suami saya, Bu.”
“Tadi subuh dia ke mesjid, kelihatan sehat-sehat saja.”
“Iya, Bu. Sakitnya setelah pulang dari jalan-jalan subuh, badannya langsung panas.”
Bu Murni menepuk bahu Nisa.
“Jangan-jangan suami kamu ngidam,” ungkapnya lalu terkekeh.
“Tidak, Bu. Saya belum isi. Mungkin kecapekan, kemarin dia menemani mitra untuk tes bahan-bahan make up di kebun.”
“Wah wah, suamimu itu sempurna sekali. Sudah tampan, sholeh, kaya pula. Beruntung sekali kamu dapat suami seperti dia.”
Nisa refleks membatin. “Ibu belum tahu saja sifat kak Arka aslinya seperti apa. Mulutnya itu loh, tajam seperti silet. Sekali menghina, dua tiga hari terlampaui dengan rasa sakit hati.”
“Alhamdulillah Bu,” tutur Nisa sambil menyodorkan uang berwarna hijau ke bu Murni.
Bu Murni yang tadinya merapikan jualan, cepat-cepat mengambil uang tersebut. “Ini kembaliannya.”
“Tidak usah Bu. Ambil saja,” balas Nisa.
“Alhamdulillah, terima kasih Nisa. Ibu doakan, semoga rumah tangga kalian langgeng dan bahagia terus. Cepat diberikan momongan oleh Allah SWT. Aamiin.”
__ADS_1
“Aamiin.”
Nisa pun pulang.