Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Honeymoon


__ADS_3

Sepekan berlalu.


Nisa meletakkan Al-Qur’an yang baru saja dibacanya.


Weekend kali ini, akan ia isi dengan memasak di kontrakan keluarganya. Berhubung Arka amat menjaga jarak darinya, ia memutuskan untuk ke kontrakan keluarganya sendirian.


Mengajak Arka sekalipun untuk ikut juga percuma. Sudah pasti suaminya itu tidak mau.


Sebelum ke kontrakan, Nisa mampir dulu membeli bahan-bahan masakan. Uang yang ia pakai adalah sebagian gajinya selama bekerja di kantor.


Selama jadi istri Arka, ia tak pernah sekali pun meminta uang padanya.


Sayuran; kentang, wortel, bayam, jagung, bonggol pokcoy, dll.


Protein hewani; cumi, dada ayam, telur, susu cair, dsb.


Bumbu; saus tiram selera, cabai, tomat, dst.


Semua bahan telah terkumpul.


Saatnya cus ke kontrakan. Nisa kini berada di dalam angkutan umum yang sering ia lewati dulu. Matanya berbinar di sepanjang perjalanan tersebut.


Selang beberapa menit, ia tiba. Diketuknya pintu kontrakan yang terbuat dari kayu biasa. Tak lama, Kanza membuka pintu untuknya.


“Kakak,” teriak Kanza amat senang. “Mama... Kak Nisa datang,” lanjutnya.


Mendengar nama Nisa disebut-sebut, bu Faridah buru-buru keluar.


“Datang sama siapa?” tanyanya. Dari raut mukanya, ia sangat bahagia dengan kedatangan putri sulungnya.


“Sendiri, Ma.”


“Kenapa tidak diantar suamimu?”


Nisa terpaksa berbohong demi menjaga nama baik suami, sekaligus menjaga perasaan mamanya.


“Kak Arka sibuk sekali, Ma. Banyak laporan yang harus dia periksa. Kasihan kalau diganggu. Kerjaannya bisa menumpuk nanti.”


Kanza dan bu Faridah lalu membawa Nisa membawa belanjaan yang dibeli Nisa ke dapur.


“Assalamu ‘alaykum Pak,” tutur Nisa seraya mencium punggung tangan sang ayah.


“Wa’alaykumussalam warahmatullah,” balas pak Nugroho sembari mengelus pucuk kepala Nisa.


“Bapak sehat?” tanya Nisa dengan mata berkaca-kaca.


“Alhamdulillah. Bapak sudah bisa berdiri. Jalan juga, tapi beberapa langkah saja.” Pak Nugroho melihat ke depan. “Suamimu mana?” sambungnya.


“Dia tidak bisa datang, Pak. Sibuk sama kerjaan.”


“Masa’ tidak punya waktu sebentar untuk mengantar kamu ke sini.” Dari mukanya, pak Nugroho pasti merasa kesal pada Arka.

__ADS_1


“Tidak sempat, Pak. Saya kan mampir dulu belanja, agak lama itu. Kasihan kerjaannya kalau tertunda banyak gara-gara saya.”


“Itu sudah tanggung jawabnya sebagai suami. Makanya harus pintar-pintar membagi waktu.” Pak Nugroho ngedumel.


Nisa diam saja.


Beberapa saat setelahnya, ia melangkah ke dapur. Bahan belanjaan yang ia beli tadi, sebagian disimpan di dalam kulkas.


It’s time to cook.


Menu 1: Pisau dan talenan saling menyapa. Beradu untuk mengiris bawang dan bahan lainnya. Bawang tersebut ditumis, dicampur wortel, pockoy dan telur puyuh yang telah direbus.


Menu 2: Cumi kupas diisi campuran kentang rebus yang telah dihaluskan dan bahan lain. Digrill sampai matang. Sambil sesekali diolesi dengan saus.


Menu 3: Dada ayam dipotong dadu. Lalu dimasukkan di tepung basah selama 10 menit. Goreng dengan api terkecil dan tunggu sampai berwarna kecoklatan untuk ditiriskan.


Menu 4: Bumbu ditumis hingga matang. Kemudian tuang dalam ulekan, tambah gula, cek rasa sebelum diulek. Nah, tambahkan kentang goreng.


Menu 5: Bayam dibolak-balik di campuran tepung. Lalu digoreng di minyak yang sudah panas. Angkat ketika sudah coklat keemasan.


Semua menu itu dibawa ke ruang tengah.


Biar berasa lebih luas kalau makannya di ruang tengah. Dapur kontrakan orang tua Nisa agak sempit soalnya.


Tetiba, Arka dan kedua orang tuanya datang. Bertepatan saat keluarga Nisa tengah menyendok nasi untuk sarapan.


“Assalamu ‘alaykum,” tutur pak Pradipta dengan suara yang menggelegar dari luar.


Nisa berdiri. Ia buru-buru ke dapur untuk mengambil tiga piring, sendok, juga gelas. Masing-masing dua alat makan tersebut diletakkan di depan mertuanya.


“Makan Ma, Pa,” pintanya sambil tersenyum hangat.


Satu pinggan yang ada di genggamannya. Diangkat mendekat ke nasi. “Mau banyak atau sedikit saja Kak?” tanyanya pada Arka.


“Dua sendok saja,” balas Arka.


“Lauknya?”


Mata Arka memindai satu per satu lauk yang disajikan di hadapannya. Ada tumis sayur terlur puyuh, cumi isi kentang, ayam saus hitam, sambal kentang, dan tak ketinggalan bayam crispy.


“Kasih sayur, cumi juga.”


Nisa mengambil kedua lauk itu dan menyodorkan piringnya ke Arka. Tergiur, Arka mencoba bayam crispy terlebih dulu. “Enak,” batinnya lalu mengambil lebih banyak


kerupuk bayam tersebut.


“Kata Nisa kamu sibuk. Makanya tidak mengantar dia ke sini,” ungkap pak Nugroho yang sedang mencari tahu kebenarannya seperti apa.


Seingatnya, Nisa tak pernah membohonginya. Tapi kedatangan Arka sungguh kontradiksi dengan pengakuan Nisa tadi.


Arka yang pura-pura, mantap menjawab. “Tadi

__ADS_1


memang sibuk sekali, Pa. Makanya saya alihkan ke masing-masing manajer saja. Biar bisa ke sini menjemput Nisa.”


“Lain kali antar Nisa kalau dia mau ke sini! Takutnya tetangga salah paham lihat dia datang sendiri. Nanti dikira Nisa tidak diperhatikan suaminya,” ungkap pak Nugroho dengan hati yang terluka.


Sebagai seorang ayah memang sudah kewajibannya untuk melindungi harga diri anak-anaknya. Dan kejadian pagi ini, membuatnya merasa gagal menjadi ayah yang baik.


Arka cepat-cepat menyahut. “Baik, Pa.”


“Ayamnya enak sekali. Siapa yang masak?” tanya pak Pradipta.


“Kak Nisa om,” balas Kanza seraya mengambil dua sendok sambal kentang.


“Wahhh, benar katamu Ma. Masakan menantu kita memang enak sekali.” Pak Pradipta menoleh ke bu Haifa. Kali ini pujiannya real, bukan sekadar omong kosong.


“Kan? Lain kali kita suruh nginap di rumah. Biar masak enak bareng bi Inah. Bisa naik 2 kilo berat badan kita Pa.”


Bu Haifa tertawa, disusul yang lain. Tawa itu berhasil memecah suasana awkward yang ditimbulkan pak Nugroho barusan.


“Kalau boleh tahu, ada tujuan apa yah Bu datang ke mari secara tiba-tiba?” tanya bu Faridah beberapa saat setelahnya.


Bu Haifa berhenti mengunyah. “Kami mau culik Nisa, Bu. Tadi kami ke mansion, kata Arka dia tidak di sana. Makanya kami ke sini. Mau kasih tahu Nisa untuk siap-siap.”


“Siap-siap apa Ma?” tanya Nisa penasaran.


“Honeymoon ke Jepang.”


Arka tersedak mendengar kata bulan madu diucapkan mamanya. Nisa cepat-cepat memberikan air minum padanya.


Selepas minum, Arka memperbaiki perasaannya lalu bertanya. “Tiketnya?”


“Omamu sudah siapkan tiket. Soalnya dia gemas sendiri karena Nisa belum hamil. Dia selalu bilang sudah tidak sabar mau menimang cucu. Makanya kalian dibelikan tiket honeymoon ke Jepang. Katanya, biar Nisa bisa cepat hamil setelah dari sana.”


“Kapan berangkatnya?” tanya Arka dengan mimik tidak senang.


“Besok,” balas bu Haifa.


Arka melongo. “Hah? Besok?”


“Iya besok.” Intonasi bu Haifa penuh penekanan. “Memangnya kenapa kalau besok? Sampai kaget begitu,” tambahnya.


“Banyak kerjaan di kantor, Ma.” Ketidakrelaan tergambar di wajah Arka.


“Kerjaan itu kasih saja ke bawahanmu. Suruh lembur, naikkan gajinya. Masalah selesai.”


“Tidak semudah itu, Ma. Kinerja karyawan di kantor belum sebagus kinerja saya. Bisa-bisa mereka kerja asal-asalan tugas yang saya kasih nanti.”


“Kantor biar Papa yang ambil alih selama kamu pergi. Masalah gampang itu,” sahut pak Pradipta.


Arka tersentak dengan sikap sang ayah. Seharusnya ayahnya mencari cara untuk membatalkan keberangkatannya di Jepang. Malah dipermudah untuk ke sana.


Ia membatin kesal. “Kenapa tiba-tiba Papa berubah ya? Biasanya dia tidak setuju kalau saya dekat-dekat dengan Nisa. Ini malah didukung pergi honeymoon bersama.”

__ADS_1


Arka akhirnya mengalah. “Baiklah kalau begitu. Saya siap honeymoon dengan Nisa di Jepang,” ucapnya tanpa ekspresi.


__ADS_2